Log in

Lagi Soal Medsos dan Media Mainstream


Presiden Joko Widodo tidak percaya terhadap analisis banyak pihak bahwa di masa depan, media sosial akan mengalahkan media massa. Presiden mengakui, lima tahun terakhir memang banyak sekali analisis seperti itu. "Mungkin sekitar lima tahun belakangan kita sering mendengar berbagai analisis bahwa media mainstream akan terus digeser oleh media sosial. Media massa sebagai pilar keempat demokrasi diprediksi sulit bersaing dengan media sosial," ujar Jokowi dalam pidato di Hari Pers Nasional di Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat (9/2). "Tetapi, saya percaya di tengah era melimpahnya informasi, pers justru semakin dibutuhkan untuk menjadi pilar penegak penyampaian kebenaran, sebagai pilar penegak fakta-fakta, sebagai pilar penegak aspirasi masyarakat," lanjutnya.

Tidak hanya itu, Presiden Jokowi juga percaya media massa ke depan akan mengambil peran di dalam membangun narasi kebudayaan baru, membangun narasi peradaban baru, memotret masyarakat yang bergerak cepat dan semakin efisien. Terkait dengan optimisme Presiden Jokowi tersebut, insan pers (utamanya yang berkiprah di media mainstream) juga harus selalu optimis, akan tetap survive, yang disertai dengan adanya introspeksi. Dalam hal ini, media mainstream sudah sepatutnya melakukan redefinisi peran dan kontribusinya bagi upaya mendukung keberhasilan pembangunan bangsa. Nah, dalam perkembangannya belakangan ini, harus diakui masih terdapat berbagai kelemahan pers, dalam menjalankan perannya sebagai sarana mencerdaskan bangsa. Sebab, media mainstream terkesan lebih didominasi kepentingan para owner masing-masing.

Kiprah pers akhir-akhir ini, baik media cetak, elektronik maupun online, kerap dijadikan sebagai corong politik, tidak saja untuk kepentingan para owner, melainkan juga bagi kepentingan kelompok yang sejalan dengan aspirasi politik para owner. Karena itu, dalam momentum peringatan Hari Pers Nasional kali ini, kita merasa perlu mengingatkan kembali kepada para owner dan manajemen pers, agar kembali menyadari tugas mulia yang melekat di tubuh pers.  Yakni, pers harus senantiasa dijadikan sebagai media mencerdaskan bangsa serta memberikan informasi yang obyektif kepada khalayak pembaca, pemirsa dan pendengar.

Dalam hal inilah, pihak pengelola media massa perlu meredefinisi peran pers, sehingga keberadaan pers benar-benar dapat memberikan kontribusi positif dalam mendorong kelancaran realiasi pembangunan dan terwujudnya situasi kondusif di negeri ini. Dengan kata lain, kita berharap, kiranya media massa atau media mainstream, tidak sampai terjebak pada sikap 'asal dukung' terhadap penguasa. Media massa mainstream justru harus berpegang teguh kepada perannya sebagai kontrol sosial dan senantiasa memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik konstruktif terhadap jalannya pemerintahan. Media mainstream yang cuma bisa 'membebek' pada penguasa, justru akan lebih mudah tergerus oleh media sosial.(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

25°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 94%

Wind: 6.44 km/h

  • 17 Aug 2018 30°C 24°C
  • 18 Aug 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px