Log in
Wakapolda-SUMUT-v2.jpg

KPU dan Ironi Wahyu Setiawan


Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan ditetapkan sebagai tersangka kasus suap terkait penetapan anggota DPR 2019-2024, Kamis lalu. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Wahyu menerima suap dari Politisi PDI-Perjuangan Harun Masiku yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka.

Penetapan Wahyu sebagai tersangka ini menjadi kontradiktif dengan sikapnya beberapa waktu lalu dalam menanggapi wacana mantan narapidana korupsi ikut Pilkada. Dari tujuh Komisioner KPU, Wahyu menjadi komisioner yang paling vokal menyuarakan larangan eks koruptor ikut Pilkada 2020 dan bersikukuh memuat larangan tersebut dalam Peraturan KPU (PKPU).

Wahyu menegaskan pihaknya bersikukuh melarang mantan narapidana korupsi maju sebagai calon kepala daerah. KPU tetap ingin memuat larangan tersebut dalam rancangan Peraturan KPU tentang Pencalonan dalam Pemilihan Kepala Daerah 2020. "Berdasarkan putusan rapat pleno KPU, KPU tetap akan mencantumkan dalam norma PKPU bahwa calon kepala daerah maupun calon wakil kepala daerah itu harus memenuhi syarat. Salah satu syaratnya adalah bukan mantan narapidana korupsi. Itu sikap dan pandangan KPU," kata Wahyu.

Ironi dan atau ambivalensi bersikap yang ditampilkan Wahyu tersebut, kerap dilakoni para maling di bidang lainnya. Memang sangat banyak orang yang sering berupaya tampil menjadi sosok yang baik, jujur, transparan dan dermawan. Namun, sepak terjangnya justru bergelimang dengan perilaku menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan ekonomis dan politis.

Begitu juga dengan Wahyu Setiawan, salah seorang komisioner KPU yang sering diutus dan diberi kepercayaan menghadiri acara di televisi, semisal ILC-nya Karni Ilyas. Saat diberi kesempatan berbicara pada masa hangat-hangatnya kampanye Pilpres 2019 lalu, Wahyu dengan penuh percaya diri menyatakan, akan mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa dan akan senantiasa bertindak jujur dalam mengemban amanah rakyat sebagai penyelenggara Pemilu (Pilpres dan Pileg).

Tetapi, sejalan dengan kepercayaan yang senantiasa kita pegang bersama, Gusti ora sare (Tuhan tidak pernah tidur). Seseorang yang mengemban tugas dan kepercayaan yang diberikan rakyat, boleh-boleh saja merasa hebat dan bangga, karena mampu membohongi banyak orang demi memperkaya diri sendiri dan melahirkan putusan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.

Satu, dua, tiga dan berkali-kali perbuatan menyimpang dan kecenderungan memperkaya diri sendiri dan kelompok itu, mungkin saja lolos sekaligus membuat banyak orang ketagihan dan semakin pede melakukan perbuatan yang melanggar aturan. Namun, Tuhan tidak pernah tidur dan suatu saat pasti akan memberikan terguran kepada hambaNya yang sudah melampaui batas.

Ironi yang ditampilkan Wahyu Setiawan dipastikan akan mencoreng reputasi KPU. Dipastikan akan semakin banyak orang yang meragukan komitmen dan keseriusan para komisioner KPU, bekerja sejalan dengan aturan yang berlaku. Contohnya Wahyu sendiri yang selama ini menampilkan imej sebagai sosok yang jujur, ternyata hanyalah seorang pemain sandiwara ulung.

Terbongkarnya kebobrokan Wahyu dipastikan akan menimbulkan kecurigaan kepada komisioner KPU lainnya. Dalam hal ini, kita meminta KPK bisa menjadikan Wahyu sebagai justice collaborator, agar dapat mengungkap semua hal yang dia ketahui, berkaitan dengan dugaan praktik kecurangan yang selama ini oknum-oknum di KPU.

Di sisi lain penangkapan Wahyu Setiawan diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi para Komisioner KPU lainnya, baik di pusat dan daerah, supaya tidak terlibat dalam perilaku menyimpang pada perhelatan Pilkada serentak 2020 nanti. Selain itu, semua pihak yang ditengarai terlibat dalam kasus Wahyu, hendaknya bisa ditindak tegas tanpa pandang bulu. Libasss...(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C