Log in

Konsekuensi Keliru Pilih Pemimpin


Newcastle United meraih poin penuh tatkala menjamu Manchester United pada pekan kedelapan English Premier League, kasta tertinggi Liga Inggris musim 2019-2020. Bertanding di Stadion St James Park, Minggu (6/10) atau Senin diri WIB, laga Newcastle vs Manchester United berkahir dengan skor 1-0 untuk kemenangan tuan rumah.

Gol semata wayang Newcastle diciptakan oleh pemain berusia 19 tahun Matthew Longstaff (72'). Dengan kemenangan ini, Newcastle berhasil keluar dari zona degradasi. Klub yang dilatih Steve Bruce, salah satu bek legendaris Manchester United itu, kini menempati urutan ke-16 klasemen sementara Liga Inggris dengan raihan 8 poin dari delapan laga.

Adapun Man United yang tertahan di peringkat ke-12 dengan koleksi 9 poin dari pertandingan. Klub berjulukan Setan Merah itu hanya terpaut 2 poin dari tim teratas zona degradasi, Everton (7 poin). Kekalahan ini membuat Manchester United menciptakan sejarah baru. Pertama kali dalam sejarah Premier League, mereka gagal meraih kemenangan pada delapan laga tandang secara beruntun.

Terpuruknya Manchester United bisa disebut sebagai konsekuensi dari kekeliruan pihak manajemen The Red Devils dalam memilih pemimpin. Keputusan CEO dan manajemen memberikan kepercayaan kepada salah satu legenda mereka, Ole Gunnar Solksjaer sebagai manajer, ternyata tidak sejalan dengan ekspektasi dan berakibat klub raksasa ini berubah menjadi klub gurem.

Dalam berbagai kesempatan, Solksjaer sering berdalih, timnya masih kekurangan pemain handal di sejumlah lini, utamanya di sektor pertahanan. Keluhan ini kemudian disikapi pihak manajemen sendiri sudah memenuhi permintaannya merekrut pemain belakang tangguh, Harry Maguire dengan harga selangit (80 juta pound), yang membuatnya menjadi bek termahal di dunia. Kehadiran mantan pemain Leicester ini diyakini akan membuat lini pertahanan MU akan semakin kokoh.

Ternyata, kendati sudah melakukan perekrutan bek terbaik di Inggris serta dua pemain bertalenta lainnya, Aaron Wan Bissaka dan Daniel James, permainan MU bukannya semakin membaik, malah cenderung bertambah buruk dan menjadi sasaran empuk klub gurem West Ham United, Crystal Palace dan Newcastle untuk mendulang poin penuh.

Ketika Solksjaer masih diberikan tiga pemain hebat dengan harga mahal di awal musim, tidak juga mampu membawa peningkatan kualitas permainan MU. Hal sebaliknya justru terjadi di Chelsea, di bawah arahan manajer baru Frank Lampard. Sama-sama berstatus sebagai mantan legenda klub, sudah jelas terbukti, Lampard lebih becus dalam memimpin dibanding Solksjaer.

Terbukti, saat klub ditinggal pemain andalannya Eden Hazard dan David Luiz plus terkena larangan transfer, ternyata tidak membuat Lampard menjadi patah arang. Bukti kejeniusan mantan gelandang andalan The Blues itu terlihat dari permainan diperagakan anak asuhnya, yang agresif dan sangat bersemangat meraih kemenangan. Di awal-awal kepemimpinannya, Lampard memang gagal mempersembahkan kemenangan. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, Chelsea mulai konsisten mendulang kemenangan dan merangsek ke papan atas.

Berbekal stok pemain yang terbatas, Lampard berhasil mengoptimalkan potensi pemain muda semisal Tammy Abraham, Mason Mount, dan Michy Bathsuayi. Duet Abraham dan Mount kini menjelma menjadi predator mematikan dan menjadi jaminan terciptanya gol. Sebaliknya, di tangan Solksjaer, talenta-talenta hebat seperti Marcus Rashford, Paul Pogba, Anthony Martial justru semakin meredup dan dilanda frustrasi.

Kekeliruan dalam memimpin memang dipastikan akan melahirkan sejumlah konsekuensi berupa kegagalan, penyesalan dan kekecewaan yang menyakitkan. Selama masih berada di bawah sosok pemimpin sontoloyo dan kurang kompeten seperti Solksjaer ini, dipastikan MU akan terus terpuruk serta hampir dipastikan tidak berpeluang masuk ke zona Liga Champions (empat besar), bahkan tidak tertutup kemungkinan akan mengalami degradasi. Begitulah...(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px