Log in

Koalisi Gemuk, Demokrasi Remuk


Hasil survei Paramater Politik Indonesia (PPI) menunjukkan mayoritas responden tidak setuju jika Partai Gerindra bergabung dengan koalisi parpol pendukung Pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Mayoritas responden juga menyatakan tidak setuju jika partai pimpinan Prabowo Subianto mendapatkan posisi menteri dalam kabinet Presiden Jokowi.

Ketika ditanya soal wacana bergabungnya Gerindra dengan koalisi pendukung pemerintah dan mendapatkan jabatan menteri di kabinet Joko Widodo, sebanyak 40,5 persen responden menyatakan tidak setuju. Sedangkan 32,5 persen responden menjawab setuju dan sisanya tidak menjawab. "Data survei menunjukkan bahwa ketika menyikapi agresivitas Prabowo yang terlihat ingin berkoalisi dengan Joko Widodo, hanya 32,5 persen masyarakat yang setuju,"ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno saat memaparkan hasil survei di kantornya, Pancoran, Jakarta Selatan, kemarin.

Menurut Adi, responden yang menyatakan tidak setuju jika Gerindra berkoalisi merupakan kelompok masyarakat yang belum mampu menerima kekalahan Prabowo saat Pilpres 2019 karena menganggap kubu Jokowi curang. Selain itu, publik juga berharap dengan tidak berkoalisi, Gerindra akan menjadi penyeimbang di luar pemerintah atau oposisi.

Hasil survei tersebut bisa disebut sejalan dengan ekspektasi mayoritas rakyat Indonesia, yang lebih banyak mengharapkan Partai Gerindra berada di luar pemerintahan. Sebab, jika Partai Gerindra juga bergabung dengan pemerintah, hal itu bermakna koalisi menjadi sangat gemuk, yang dapat membuat demokrasi menjadi remuk.

Demokrasi membutuhkan oposisi untuk mengawasi jalannya pemerintahan yang berkuasa. Untuk itu, menjadi oposisi sama pentingnya dengan menjalankan kekuasaan pemerintahan. Dalam sebuah sistem Demokrasi, peran oposisi menjadi sangat penting. Sistem Presidensial membuat kekuasaan eksekutif mempunyai kekuasaan berlebih, jauh di atas kekuasaan legislatif dan yudikatif. Kekuasaaan cenderung menjadi absolut.

Karena itu, diperlukan oposisi yang bisa mengontrol dan menganalisa sebuah kebijakan yang tidak pro rakyat. Mengkaji dan menelaah kebijakan negara yang mempunyai kecenderungan tak terbatas. Oposisi hadir untuk menjawab tantangan itu. Oposisi berarti menggeleng, menggeleng membuat argumen logis untuk setiap kebijakan. Di situlah terjadi tesis dan analisa. Kebijakan yang pro rakyat atau membebani rakyat.

Tatkala ada kejadian sangat krusial yang menentukan arah negara, peran oposisi menjadi kunci utama. Memberi solusi untuk tetap membela rakyat jika kebijakan tak menguntungkan rakyat. Sebuah negara yang tidak memiliki kekuatan oposisi yang kuat, pengelolaan pemerintahan akan menjelma menjadi kekuatan oligarki yang dipastikan tidak akan pro rakyat.

Demi menghindari koalisi gemuk yang akan menyebabkan demokrasi ambruk itu, maka sebagaimana harapan mayoritas rakyat melalui survei di atas, Partai Gerindra memang sebaiknya tidak ikut-ikutan mengincar kursi menteri dan duduk di pemerintahan. Prabowo dan rekan koalisinya, jauh akan lebih dihormati, apabila tetap konsisten berada di luar pemerintahan dan menggalang sebuah kekuatan penyeimbang.

Dengan kata lain, harapan supaya bersatu menjadi kekuatan oposisi itu, tidak hanya ditujukan kepada Partai Gerindra, melainkan juga kepada PKS, PAN dan Demokrat, yang pada Pilpres 17 April 2019 lalu berada di pihak yang berseberangan dengan koalisi Jokowi. Sikap konsisten seperti ini diperlukan untuk memberikan kepercayaan kepada konstituen, yang dulu sama-sama berjuang memenangkan pasangan 02.

Saat ini memang tidak ada lagi yang namanya 01 dan 02. Kini, semuanya sudah menyatu dan mengakui kemenangan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai pemimpin kita lima tahun mendatang. Kita sependapat untuk memberi kepercayaan kepada keduanya. Namun, supaya pemerintahan tetap berjalan sesuai dengan koridor dan tuntutan rakyat, diperlukan adanya kelompok oposisi yang kuat untuk mengawasi pemerintahan. Oposisi yang kuat ini diperlukan supaya demokratisasi tetap tumbuh dan tidak terjadi oligarki kekuasaan.(**) 

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px