Log in

Keutuhan Bangsa di Atas Segalanya


Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Muhammad Tito Karnavian menyatakan, Polri sudah siap mengamankan Pemilihan Presiden 2019. Tito berharap, calon presiden (capres) tidak provokatif dalam berkampanye. “Kami tentu berharap bahwa pemilu Pilpres 2019 ini berlangsung aman damai tidak membawa isu provokatif, apalagi black campaign dan lain-lain yang mungkin bisa mengganggu yang lain," ujar Tito di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta, kemarin. KPU membuka pendaftaran calon presiden untuk Pemilu 2019 pada 4 Agustus hingga 10 Agustus 2018. Tito menyatakan, bagi calon presiden yang telah mendaftar dan memerlukan pengamanan khusus dari Polri, Polri siap memberikan pengawalan.

Tito berpesan, selama 20 tahun berdemokrasi di era reformasi ini, masyarakat harus menunjukkan kedewasaan. Hal itu dapat diwujudkan dengan cara-cara yang elegan, baik, dan positif dalam memilih pemimpin. Harapan yang disampaikan Kapolri di atas adalah harapan kita bersama. Harus diingat, ajang Pilpres sejatinya hanyalah sebuah pesta demokrasi
yang dimaksudkan untuk memilih pemimpin nasional untuk lima tahun ke depan. Karena itu, tidak sepatutnya Pilpres berubah menjadi ajang gontok-gontokan antar anak bangsa. Atas dasar itu, imbauan Kapolri soal perlunya menunjukkan kedewasaan seharusnya tidak hanya ditujukan kepada masyarakat, melainkan yang lebih penting dan utama adalah kepada para elite politik di negeri ini. Sebab, selama ini pernyataan merekalah yang kerap memicu terjadinya kegaduhan di wilayah publik.

Dalam hal ini kita berharap, semua pihak yang berada di barisan pendukung masing-masing capres, nantinya dapat menampilkan sikap elegan serta pernyataan-pernyataan yang menyejukkan. Para pendukung capres hendaknya tidak diposisikan pada situasi yang saling berhadap-hadapan dan menjurus pada aroma permusuhan. Semua pihak hendaknya bisa menanamkan kesadaran di benak dan sanubari masing-masing, bahwa keutuhan bangsa harus ditempatkan di atas segala-galanya.Jangan sampai akibat ulah provokatif masing-masing pendukung capres, kemudian memicu terjadinya 'bentrok' rakyat di tingkat grass-root.

Padahal, sejatinya pertarungan Pilpres itu sendiri acapkali hanya menguntungkan elite politik, yang mengincar posisi-posisi penting di pemerintahan serta sejumlah keuntungan finansial. Sedangkan, rakyat pada dasarnya hanyalah sebatas penggembira dan pelengkap penderita. Untuk itu, mind-set seputar perhelatan Pilpres 2019 nanti hendaknya bisa diubah dan menjadikan rakyat sebagai subjek. Bagi rakyat, sesungguhnya tidak terlalu penting, siapa yang akan duduk sebagai presiden. Rakyat hanya mendambakan tersedianya lapangan pekerjaan bagi anak-anaknya serta adanya jaminan kenyamanan dalam mencari nafkah bagi anak istrinya. Karena itu, siapa pun presiden terpilih nanti, hendaknya bisa memenuhi janjinya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, sekaligus tetap berjuang keras memperkokoh persatuan dan kesatuan di antara sesama anak bangsa. Monggo...(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

25°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 17 Aug 2018 30°C 23°C
  • 18 Aug 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px