Log in

Kesuksesan Tak Bisa Dibeli


Demi ambisi meraih kesuksesan, manajemen The Red Devils Manchester United musim ini tidak ragu-ragu menggelontorkan dana yang sangat besar untuk membeli sejumlah pemain yang dibutuhkan sesuai dengan rekomendasi sang pelatih, Ole Gunnar Solskjaer.

Tak heran jika MU kemudian memecahkan rekor pembelian pemain belakang musim ini, Harry Maguire dari Leicester City dengan uang tebusan sebesar 80 juta poundsterling atau sekitar Rp1, 4 triliun. Sebelumnya MU juga menggelontorkan dana 50 juta pound atau Rp896 miliar untuk membeli Aaron Wan Bissaka dari Crystal Palace serta 15 juta pound untuk merekrut Daniel James.

Ketika pada partai pembuka musim ini, MU sukses meluluhlantakkan Chelsea di Stadion Old Trafford dengan skor meyakinkan 4-0, pujian setinggi langit pun dialamatkan kepada Solskjaer yang disebut mampu meracik taktik jitu. Bek termahal Maguire pun disanjung sebagai benteng yang kokoh dan diyakini akan mampu tampil lebih hebat dari Virgil Van Dijk.

Setelah menerima puja puji pada partai perdana, kiprah Solskjaer kembali menuai kecaman sekaligus melahirkan keraguan terhadap kualitasnya sebagai seorang manajer. Pasalnya, usai tampil trengginas di partai pembuka, selanjutnya MU sudah tertahan di kandang Wolverhampton dan dipermalukan Crystal Palace di depan para fans sendiri, kemarin.

Terpuruknya MU di awal musim ini, kembali memberikan pelajaran bagi kita semua, bahwa kesuksesan tidak bisa dibeli. Sama seperti MU, Arsenal juga melakukan pembelian termahal dengan mendatangkan striker Nicolas Pepe seharga 72 juta pound atau sekitar Rp1, 2 triliun, ternyata tetap saja melempem dan babak belur dibantai The Reds Liverpool 1-3 di Stadion Anfield kemarin malam.

Sebaliknya tim besutan Jurgen Klopp, Liverpool yang hanya mendatangkan kiper gratisan Adrian musim ini dan dua pemain muda yang tidak masuk skuad inti, justru  paling konsisten dan trengginas di awal musim sebagai satu-satunya tim yang meraih poin sempurna. Bahkan pemain gratis, Adrian tampil sebagai pahlawan saat meraih gelar Piala Super Eropa dua pekan lalu.

Konsistensi yang diperlihatkan Liverpool tanpa pembelian pemain baru dan mahal itu merupakan bukti sahih, bahwa bermodalkan dana melimpah saja, bukanlah jaminan akan mampu meraih kesuksesan. Lihatlah Paris Saint Germain yang menggelontorkan dana Rp2 triliun lebih membeli Neymar demi ambisi menjuarai Liga Champions, hasilnya sia-sia belaka.

Kegagalan serupa juga dialami The Old Lady Juventus saat mendatangkan Cristiano Ronaldo, serta Barcelona yang sangat ngebet membeli Philippe Coutinho dengan harga selangit, harus menyesal dan rela membuang mantan pemain Liverpool itu ke Bayern Muenchen dengan status pinjaman, karena dinilai tidak mampu memberi kontribusi maksimal.

Dana yang besar memang mutlak diperlukan untuk membeli pemain-pemain yang dibutuhkan. Namun, seringkali pembelian tersebut menjadi sia-sia belaka, karena pelatih tidak mampu mengoptimalkan potensi pemain tersebut. Paul Pogba misalnya yang juga berharga triliunan, selama di MU terlihat tidak pernah bermain optimal seperti halnya saat bermain untuk Juve dan timnas Perancis.

Urusan mengoptimalkan potensi pemain inilah kelihatannya menjadi faktor pembeda antara Jurgen Klopp, Josep Guardiola dan Mauricio Pochettino dengan para manajer lainnya di Liga Primer Inggris. Klopp misalnya mampu menyulap para pemain muda seperti Trent Arnold, Andy Robertson, Joe Gomez menjadi pemain top. Begitu juga Guardiola sukses mengasah potensi Raheem Sterling, Kevin de Bruyne, dan Gabriel Jesus. Pocchetino membuat Harry Kane terus bersinar.

Kesuksesan memang membutuhkan dana yang besar. Tapi kesuksesan tidak bisa dibeli, melainkan harus didukung adanya kekompakan, team work yang solid serta keinginan kuat untuk bersama-sama menggapai keberhasilan tersebut. You'll never walk alone. (**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px