Log in

Kesiapan Mental Hadapi Demokrasi Digital


Demokrasi kita hari ini, tak pelak lagi, mengarah pada demokrasi digital. Ruang publik dunia maya telah jadi arena baru bagi proses diskusi, deliberasi, dan pertarungan politik. Media sosial (medsos) secara cepat telah menggoyahkan posisi media konvensional sebagai lokus utama bagi proses komunikasi dan interaksi politik. Masyarakat pun semakin terpola untuk menggunakan internet bukan hanya sebagai sarana untuk mendapatkan informasi, melainkan juga sarana untuk menyatakan pendapat dan sikap politik. Dalam momentum transisi lanskap komunikasi-informasi yang bergejolak dan konfliktual, muncul pihak-pihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka memanfaatkan keadaan transisional itu untuk mengejar kepentingan sendiri tanpa memikirkan kepentingan publik.

Tiba-tiba saja berita bohong (hoax), berita palsu (fake news), dan ujaran kebencian (hate speech) menghunjam ruang publik, mengusik kehidupan bermasyarakat, tanpa kita tahu pasti bagaimana mengatasinya dan siapa yang bertanggungjawab untuk mengatasinya. Fenomena munculnya demokrasi digital adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dinihilkan. Kini, demokrasi digital tidak hanya melanda masyarakat kelas menengah ke atas, melainkan juga sudah merambah ke seluruh strata kehidupan masyarakat hingga ke lecel grass-root. Sebab, keberadaan warung internet (warnet) sudah merambah hingga ke pelosok desa dengan tarif yang sangat terjangkau.

Sebagai lazimnya sebuah perkembangan kemajuan ilmu dan teknologi, selalu melahirkan dua sisi mata uang yakni sisi positif dan juga negatif. Demokrasi digital juga berimbas pada adanya upaya dari para 'penumpang gelap' untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan informasi menyesatkan, demi meraih keuntungan pribadi dan kelompoknya. Bagi masyarakat yang baru melek dengan media sosial, sudah pasti akan banyak mengalami keterkejutan budaya (shock culture) menghadapi serta menyikapi berbagai sajian informasi yang didengar dan dibacanya melalui dua maya tersebut. Dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuannya, bisa jadi informasi yang diperolehnya akan ditelan bulat-bulat.

Namun, seiring dengan semakin meningkatnya wawasan ilmu pengetahuan seseorang serta sudah kenyang makan asam garam informasi yang didapat dari dunia maya, dipastikan banyak orang akan semakin berhati-hati dan sudah membentengi diri sendiri dalam menyikapi berbagai berita yang muncul di media sosial. Nah, dalam hal ini yang diperlukan adalah perlu dibangun kesiapan mental dalam menghadapi demokrasi digital, yang kerap bombastis dan menyajikan informasi dan opini yang tendensius serta tidak sesuai dengan fakta tersebut. Sebab, memang faktanya sangat banyak tulisan dan pemikiran yang disajikan di media sosial, sama sekali tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

Selain perlunya kesiapan mental yang dibarengi dengan adanya self-censorshif, tentu pihak berkompeten di pemerintahan, juga berkewajiban mempersiapkan rambu-rambu berupa 'payung' hukum, supaya demokrasi digital tidak berkembang menjadi demokrasi kebablasan sebagaimana pernah disinggung Presiden Jokowi belum lama ini. Dengan kata lain, pihak berkompeten di pemerintahan, harus menindak tegas para penumpang gelap demokrasi digital itu, sekaligus dapat pula menertibkan keberadaan media sosial abal-abal yang tidak dikelola dengan benar dan profesional. Ditunggu...!(**)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 15 Nov 2018 26°C 22°C
  • 16 Nov 2018 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px