Log in

Kegaduhan Harus Dihentikan


Prof Din Syamsuddin berharap, peristiwa kerusuhan pada 21-23 Mei lalu tak menjadikan Indonesia sebagai negara kekerasan. Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015 itu mengingatkan, perlu adanya klarifikasi atau tabayyun melalui tim pencari fakta. Hal itu untuk mengungkap kebenaran seterang-terangnya.

"Belasan nyawa, termasuk berusia remaja, hilang sia-sia, dan ada yang belum diketahui nasibnya. Hal ini, tidak bisa tidak, adalah buah dari kekerasan yang mengenaskan, yang terjadi pada bulan suci Ramadhan," kata Din Syamsuddin dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Menurut dia, seyogianya rakyat dan aparat dapat melakukan imsak atau pengendalian diri. Apalagi, imsak itulah esensi ibadah di bulan Ramadhan. "Namun nasi telah menjadi bubur. Kekerasan telah menciderai kesucian Ramadhan,"ujarnya.

Sebagai sebuah bangsa yang sejak dahoeloe dikenal sebagai bangsa yang selalu mengedepankan semangat gotong royong, etika ketimuran dan kebersamaan, memang terasa aneh dan memprihatinkan, melihat sesama anak bangsa, belakangan ini terlibat dalam aksi saling menyalahkan satu sama lain, seolah terdapat dendam dan permusuhan.

Sebagaimana dikemukakan Prof Din Syamsuddin di atas, tidak sepatutnya Indonesia sebagai negara yang dikenal sangat religius, justru semakin sering terlibat dalam aksi kekerasan, yang menyebabkan jatuhnya korban antarsesama kita sebagai anak bangsa.

Harus diakui, kegaduhan yang terus meruyak dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak dipicu oleh adanya persaingan dalam Pilpres, yang bahkan melahirkan sebutan terhadap kelompok pendukung yang terkesan negatif. Yaitu cebong (pendukung Jokowi) dan kampret (pendukung Prabowo). Kedua kelompok ini terkesan terus terlibat dalam pertikaian, utamanya di media sosial facebook dan twitter.

Dalam hal ini kita sangat berharap munculnya kesadaran dan kedewasaan berpolitik di antara sesama elite politik. Seharusnya mereka bisa mengendalikan diri dan tidak terus-menerus larut dalam polemik berkepanjangan terkait dengan hasil Pilpres. Ketika pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga sudah melimpahkan permasalahan ke MK, seharusnya tidak ada lagi perdebatan berkepanjangan.

Seharusnya semua pihak bisa menahan diri dan menjalankan tugasnya sesuai dengan tupoksi masing-masing. Ketika gugatan masih diajukan ke MK misalnya, pihak yang sudah dinyatakan menang oleh KPU pun, seharusnya bisa sedikit bersabar dan tidak terlalu cepat menyibukkan diri dalam manuver-manuver untuk mendapatkan kursi di kabinet.

Sementara itu, terkait dengan masih gencarnya dilakukan langkah-langkah penegakan hukum oleh aparat berkompeten, kita dapat memahami sekaligus mendukung sepenuhnya upaya yang dilakukan tersebut, utamanya berkaitan dengan pengusutan terhadap dalang terjadinya kerusuhan.

Namun, khusus yang berkaitan dengan terjadinya penahanan dan pemeriksaan terhadap mereka yang dianggap vokal menyuarakan kritikan terhadap pemerintah, hendaknya bisa diminimalisir. Dalam konteks inilah diperlukan adanya semacam rekonsiliasi antara Jokowi dengan Prabowo, supaya berbagai kegaduhan tersebut bisa segera dihentikan.

Rakyat menunggu kenegarawanan antara kedua tokoh bangsa ini. Dengan adanya pertemuan antara kedua capres ini, kita berharap, situasi perpolitikan di Tanah Air bisa lebih adem dan kondusif. Dan, yang lebih penting lagi, kita mendambakan terjalinnya 'kesepakatan' antara keduanya demi kebaikan bangsa, sekaligus sama-sama melahirkan solusi menghentikan kegaduhan yang telah mengganggu kenyamanan rakyat kita belakangan ini. Monggo...(**) 

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px