Log in

Jadikan Harkitnas Momentum Introspeksi


Boedi Oetomo yang didirikan dr Wahidin Soedirohusodo, dimaksudkan sebagai alat pemersatu bangsa untuk melepaskan bangsa ini dari cengkeraman kolonialisme saat itu. Gerakan ini awalnya bersifat kesukuan dan kedaerahan akhirnya menyatukan sikap, karena menyadari persatuan dan kesatuan merupakan sebuah kekuatan dahsyat.  Kini, di tengah situasi bangsa kita saat ini yang sedang menghadapi tantangan maha berat, yakni kecenderungan mengalami degradasi nasionalisme. Karena itu, peringatan Hari Kebangkitan Nasional sangat relevan dijadikan sebagai momentum introspeksi.

Di sisi lain, situasi globalisasi saat ini juga dangat memengaruhi kedaulatan suatu bangsa. Kemajuan teknologi dan informasi yang seakan tanpa batas membuat kita juga harus bersiap diri, sembari meningkatkan self-censorship, jika tidak ingin tergilas keadaan. Dampak ditimbulkan dari globalisasi, salah satunya adalah menguatnya sikap saling menghasut yang dilakukan para provokator yang ingin memecah belah persatuan bangsa. Untuk itu, bangsa ini harus tetap menggelorakan semangat kebangkitan nasional dengan memegang teguh pilar kebangsaan yakni UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Sebagaimana diketahui, 20 Mei merupakan hari lahirnya organisasi Boedi Oetomo. Pada 1948, presiden pertama Republik Indonesia, menjadikan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hal ini sebenarnya tidak lepas dari situasi politik Indonesia yang memanas. Misalnya saja seperti jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin dan naiknya Mohammad Hatta sebagai seorang perdana menteri. Lalu sempat juga terjadi perseteruan antara sejumlah partai seperti PNI, PSI, dan Masyumi. Kala itu, Soekarno memiliki anggapan, dengan menetapkan Hari Kebangkitan Nasional, maka perpecahan bisa dicegah dan dihindari.

Perseteruan di masa lalu itu sepertinya terulang kembali di tengah bangsa kita. Karena itu, momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini hendaknya dapat dimanfaatkan semua pihak di negeri ini, sebagai momentum melakukan instrospeksi. Supaya hasilnya segera dirasakan rakyat Indonesia, maka introspeksi yang hendaknya dapat dilakukan secara massif dan komprehensif, yakni meliputi segenap elemen masyarakat di negara kita. Tentunya pihak pertama yang berkewajiban melakukan instrospeksi adalah sang penguasa negeri.

Ya, Presiden Joko Widodo sebagai kepala negara sebaiknya juga dapat menjadikan Hari Kebangkitan Nasional kali ini sebagai momentum untuk melakukan introspeksi. Patut diingat, Presiden juga manusia biasa. Nah, jika dirasakan terdapat beberapa kekurangan dalam mengelola berbagai persoalan mendera bangsa kita belakangan ini, sudah sepatutnya Presiden melakukan evaluasi dan berupaya melakukan perbaikan, demi kebaikan bangsa kita ke depan. Melakukan introspeksi juga menjadi kewajiban seluruh umat beragama di tanah air, supaya lebih mampu menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya masing-masing dengan baik dan benar. Pasalnya, tidak ada ajaran agama apa pun yang membenarkan dan menganjurkan umatnya untuk saling hujat. Ajaran agama selalu mewanti-wanti umatnya, supaya selalu saling menghargai dan menghormati serta hidup damai di tengah perbedaan.(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 100%

Wind: 6.44 km/h

  • 24 Jun 2017 30°C 22°C
  • 25 Jun 2017 30°C 22°C

Banner 468 x 60 px