Log in

Inggris, Now or Never Again


Gelandang Timnas Inggris, Eric Dier membeberkan rahasia di balik performa cemerlang timnya di Piala Dunia 2018. Dier menegaskan bahwa kegagalan The Three Lions di Euro 2016 membuat timnya semakin kuat di Piala Dunia 2018. Tiga Singa yang berstatus sebagai unggulan juara di Euro 2016 lalu tersingkir secara memalukan. Mereka dikalahkan tim kuda hitam Islandia di babak 16 besar sehingga mereka panen hujatan seusai turnamen tersebut. Dua tahun berselang, Inggris berkembang dengan pesat. Di bawah asuhan Gareth Southgate, The Three Lions sukses menembus partai semi final Piala Dunia 2018 ditandai keberhasilan mereka menaklukkan sejumlah tim kuat seperti Kolombia dan Swedia.

Seperti diketahui, Inggris hanya pernah sekali menjadi juara Piala Dunia yaitu tahun 1966. Sudah sangat lama sekali, yaitu 52 tahun silam. Bahkan, usai keluar sebagai juara dunia, Inggris beberapa kali gagal berpartisipasi di Piala Dunia yaitu pada 1974, 78, dan 1994. Pascakeberhasilan sebagai juara dunia 1966, prestasi tertinggi The Three Lions di Piala Dunia adalah meraih peringkat empat di Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia. Keikutsertaan Inggris di Piala Eropa lebih parah lagi. Inggris belum pernah meraih juara, dan prestasi tertinggi hanya mencapai semi final.

Nah, keberhasilan Harry Kane dkk melaju hingga ke babak semi final Piala Dunia 2018 sesungguhnya bisa disebut tidaklah secemerlang digembargemborkan di media, khususnya sambutan antusias menjurus euforia masyarakat di negerinya Queen Elizabeth tersebut. Pasalnya, kelolosan hingga ke empat besar ini bisa disebut karena anak asuhan Gareth Southgate ini dinaungi dewi fortuna (keberuntungan). Misalnya saat bersua Kolombia, Inggris berhasil lolos berkat kegemilangan penjaga gawang debutan Jordan Pickford, sehingga Inggris berhasil menang adu penalti.

Ketika bersua Swedia di perempat final, sebenarnya para pemain Inggris tidak bermain terlalu cemerlang. Namun Swedia pun terlihat bermain di bawah form terbaiknya, dan lagi-lagi penjaga gawang belia Jordan Pickford yang menjadi pembeda dan penyelamat Inggris. Berbeda dengan Belgia, yang jauh lebih teruji, karena sukses melaju ke babak empat besar, usai menggebuk tim-tim hebat sekelas Brasil dan Inggris sendiri sudah merasakan kehebatan polesan taktik pelatih Roberto Martinez, yang sebelumnya juga sukses membalikkan keadaan, dari tertinggal 0-2 berbalik unggul 3-2, berkat pergantian pemain yang dilakukannya.

Namun, seperti sudah terbukti. Faktor keberuntungan acapkali lebih penting dan dominan dibanding kehebatan faktor teknis. Terbukti, dalam perjalanannya Inggris selalu mendapatkan lawan-lawan yang kualitasnya setara, bahkan berada sedikit di bawahnya. Pada pertandingan semi final, Inggris 'hanya' bertemu Kroasia. Sedangkan, Belgia harus bersua lawan yang dianggap sebagai favorit juara, Perancis. Piala Dunia kali ini merupakan kesempatan terbesar bagi Inggris untuk meraih gelar juara sekaligus mengembalikan trofi Piala Dunia ke rumah atau negara yang diklaim sebagai tempat kelahiran olah raga paling populer sejagat itu (it's coming home). Inggris, now or never again.(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

27°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 82%

Wind: 11.27 km/h

  • 20 Jul 2018 30°C 24°C
  • 21 Jul 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px