Log in

Idul Fitri di Tengah Pandemi



Suasana perayaan Idul Fitri tahun ini (1441 H), masih sama dengan saat umat Islam sejagad menjalankan ibadah puasa. Seperti halnya puasa Ramadan, Idul Fitri juga dirayakan di tengah masih masifnya penyebaran virus yang sangat mematikan itu di negara kita, termasuk di Provinsi Sumatera Utara.

Bisa dipastikan, perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah kali ini akan dirayakan secara berbeda. Sebab kehadiran Hari Kemenangan bagi umat Islam itu masih di tengah suasana pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19). Akibatnya, rutinitas umat Islam untuk melakukan silaturahmi ke rumah kerabat dan jiran tetangga, kini tidak bisa lagi dilakukan.

Kebiasaan tahunan itu dilarang pemerintah terkait pencegahan penyebaran Covid-19. Tidak cuma bersilaturahmi saja yang dilarang, bahkan untuk melaksanakan Shalat Ied pun ada imbauan pemerintah, supaya dilakukan di rumah saja alias tidak boleh dilaksanakan di masjid.

Namun hampir dapat dipastikan, imbauan ini tidak akan dipatuhi umat Islam dan pelaksanaan Shalat Ied akan tetap berlangsung di masjid-masjid di permukiman warga.Situasi saat ini memang memaksa kita untuk tahu diri dan bisa melakukan self censorship.

Pasalnya, pandemi Covid-19 masih tetap menjadi ancaman sekaligus sebagai public enemy. Oleh karena itu, pada bulan Syawal ini physical distancing and social distancing atau pembatasan sosial dan kontak fisik, masih tetap menjadi pilihan terbaik untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Harus diakui, lebaran kali ini merupakan lebaran pertama dalam sejarah di Indonesia yang dilakukan tanpa bersalaman. Berlebaran tanpa bersalaman berarti berlebaran tanpa bertemu muka dengan sanak saudara, kerabat ataupun sahabat. Walaupun begitu, hal terpenting yang mesti dilakukan dalam berlebaran, adalah membuka pintu maaf tanpa perlu seseorang terlebih dahulu mengucapkan permohonan maaf.

Memberi maaf nilai lebih tinggi daripada kita meminta maaf. Tanpa perlu orang, sahabat, kawan-kawan, saudara-saudara kita memohon maaf-meminta maaf, kita harus memberi maaf kepada mereka. Itulah permaafan sejatinya. Memberi maaf tanpa perlu meminta maaf dan tidak harus bersalaman dan cipika cipiki.

Pemberian maaf yang disampaikan dengan tulus dan ikhlas, tanpa harus bertamu dan bersua secara fisik, diharapkan akan dapat melahirkan energi positif bagi bangsa Indonesia agar tetap sabar dan fokus dalam melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi pandemi ini.

Saling maaf memaafkan akan mengejawantah menjadi energi positif bagi bangsa Indonesia serta semangat baru dalam menghadapi pandemi Covid-19. Tidak hanya itu, seluruh umat muslim di manapun berada, hendaknya tetap dapat menjaga spirit pantang menyerah yang telah ditempa selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Frekuensi dan kualitas badah harus tetap dijaga. Begitu juga dengan sikap saling berbagi yang diajarkan lewat kewajiban membayar zakat fitrah. Sikap saling tolong menolong (taawun) tersebut, diyakini akan dapat memperkuat solidaritas untuk meningkatkan kesatuan dan persatuan bangsa.

Apalagi di tengah pandemi, tradisi bersedekah harus lebih ditingkatkan, saling berbag dan bahu membahu kepada sesama sebagai bentuk solidaritas serta ketaatan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Karena itu, kita harus tetap menjaga nilai-nilai kefitrian, dan semoga kita tetap saling memaafkan dan bersilaturahmi secara virtual pada perayaan Idul Fitri di tengah pandemi ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal aidin walfaizin (**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C