Log in

HPN dan Pesimisme Media Cetak


Hari ini, 9 Februari 2019 merupakan Hari Pers Nasional (HPN) yang selalu diperingati insan Pers di seluruh Indonesia. Tahun ini peringatan HPN dipusatkan di Surabaya, Jawa Timur. Seluruh representasi pers Indonesia sudah hadir dan berada di kota pahlawan tersebut.  

Terkait dengan perintatan HPN tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara optimistis pers di Indonesia tidak akan pernah mati selama insannya profesional, berkualitas, dan berkompeten.

"Saya yakin pers tidak akan pernah mati karena kesadaran insannya yang senantiasa meningkatkan kapasitas serta kualitas,"ujarnya di sela pembukaan pameran karya pers dan teknologi informasi dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Surabaya, Kamis (8/2/).

Wartawan dan industri pers diuji bukan karena tergantung pada digitalisasi, melainkan pengaruh etika profesionalisme. Artinya, digitalisasi bukan suatu masalah ada atau tidaknya pers, sebab digital hanyalah sebuah cara. Bedanya, dulu penyampaian berita menggunakan kertas, sekarang beralih.

Rudiantara boleh saja optimis. Namun, pada realitasnya kondisi industri pers (media cetak) akhir-akhir ini semakin terancam. Bahkan, media cetak sementereng Tabloid Bola saja misalnya sudah gulung tikar alias tidak lagi terbit, selanjutnya telah beralih ke media online.

Di Kota Medan misalnya belum lama ini, salah satu media cetak, Jurnal Asia, juga sudah tidak terbit lagi. Sebelumnya sejumlah media cetak di Medan, seperti Harian Global, Analog, Mandiri, Garuda Sore, Sumatra, sudah lama gulung tikar. Beberapa media cetak lainnya juga disebut-sebut sudah megap-megap dan kemungkinan besar segera menyusul.

Pesimisme yang melanda perusahaan media cetak di Tanah Air di tengah peringatan HPN ini, tidak saja disebabkan oleh maraknya media daring, melainkan juga karena melonjaknya harga kertas belakangan ini. Harga kertas meroket, sementara pendapatan (dari iklan) semakin menurun.

Kita sependapat dengan Rudiantara, bahwa pers (media cetak) di negara kita tidak akan pernah mati, selama insannya profesional, berkualitas dan berkompeten. Agaknya hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi media cetak. Yakni, mereka dihadapkan pada situasi sulit, antara keharusan untuk profesional serta tuntutan untuk tetap eksis, yang mengharuskannya berkompromi dengan situasi, yang tak jarang menghendaki pers menjadi semacam Humas-nya pemerintah di daerah maupun pusat.

Dalam konteks ini kita berharap, kiranya pemerintah ikut berperan melahirkan regulasi yang bisa menjamin tetap eksisnya media cetak di tengah maraknya media daring tersebut. Misalnya, perlu dilakukan seleksi yang lebih ketat, sehingga media daring tidak demikian mudahnya bertumbuh.

Keberadaan media daring seharusnya lebih diseleksi, dan media yang dinilai berkategori abal-abal, sebaiknya segera ditutup, supaya media online yang ada benar-benar kompeten dan tidak hanya dijadikan sarana mencari sesuap nasi dan menyebar hoaks. Selamat HPN 2019.(**)        

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px