Log in

Gubsu dan Pro Kontra Peniadaan FDT


Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi memutuskan untuk tidak menggelar Festival Danau Toba (FDT) 2020. Alasannya, festival tersebut dianggap tidak bermanfaat untuk mendatangkan wisatawan ke Danau Toba. Edy pun mengusulkan untuk mengganti bentuk acara yang lebih bisa mendongkrak wisata di danau tersebut.

"Kita bentuk lain gantinya apa, bukan waktunya, bentuknya apa. Kayaknya kurang bermanfaat pesta itu,"kata Gubsu Edy Rahmayadi kepada wartawan di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Kota Medan.

Beragam ungkapan kekecewaan pun segera bermunculan. Namun pendapat berbeda dan bijaksana dikemukakan Ketua Komisi E DPRDSU Dimas Tri Adji. Dia justru menyatakan setuju dengan sikap Gubsu Edy Rahmayadi dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Ria Telaumbanua, yang memutuskan FDT dihentikan pelaksanaannya dan dilanjutkan tahun depan.

Acuannya, adalah pelaksanaan FDT tahun 2019. Saat itu (Desember), festival tahunan tersebut bisa dikatakan gagal total. Tidak berhasil menjadikan FDT sebagai momen fenomenal yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, khususnya dari mancanegara. "Kalau pelaksanaan tahun 2019 yang dijadikan acuan, saya kira sudah tepat Pemprovsu meniadakan FDT 2020," tegas Dimas.

Pro kontra dalam menyikapi peniadaan pelaksanaan Festival Danau Toba (FDT) tahun ini merupakan hal yang lumrah dan wajar-wajar saja. Sebab, dipastikan sangat banyak juga yang memiliki kepentingan agar festival tahunan tersebut tetap dilaksanakan. Utamanya kalangan pengusaha UKM setempat dan pihak-pihak yang selama ini merasa diuntungkan dari pelaksanaan FDT itu.

Tetapi, Gubsu Edy Rahmayadi tentunya juga memiliki pertimbangan dan alasan yang cukup masuk akal, mengapa pihaknya meniadakan perhelatan FDT (tahun ini). Gubsu bersama jajaran terkait di Pemprovsu, dalam hal ini Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya tentunya sudah memiliki pertimbangan matang dan terukur, mengapa FDT ditiadakan tahun ini.

Dalam hal ini di tengah pro kontra itu, kita mengapresiasi pendapat bijaksana yang disampaikan Ketua Komisi E DPRD Sumut, Dimas Tri Adji, yang menyatakan setuju dengan keputusan yang ditempuh Gubsu Edy Rahmayadi itu. Sebagai mitra kerja langsung Dinas Pariwisata Pemprovsu, diyakini Dimas tidak asal bicara, melainkan sudah mempelajari plus minus perhelatan FDT itu tahun-tahun sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, pelaksanaan Festival Danau Toba berlangsung sejak 2013 lalu, dan sebelumnya bernama Pesta Danau Toba (PDT) sudah cukup lama digelar, yaitu sejak 1983. Pesta Danau Toba digagas masyarakat lokal khususnya warga Samosir dan Simalungun dan merupakan bentuk syukur atas keberadaan Danau Toba.

Dengan kata lain sejak bernama masih Pesta Danau Toba hingga berubah menjadi Festival Danau Toba, pelaksanaannya sudah berlangsung 37 tahun. Namun, sejauh ini kita belum melihat perkembangan dan kemajuan yang berarti terhadap Danau Toba, utamanya dalam hal peningkatan kunjungan signifikan wisatawan lokal dan mancanegara.

Selama ini pelaksanaan PDT dan atau FDT terkesan lebih cenderung nuansa seremonialnya, dan tidak terlalu maksimal manfaatnya, khususnya bagi daerah-daerah yang berada di sekitar Danau Toba, semisal Kabupaten Karo, Dairi, dan lainnya.

Karena itu kebijakan meniadakan FDT tahun ini, tidak perlu disikapi secara berlebihan dan sebaiknya dapat dijadikan ajang introspeksi dan evaluasi, demi perbaikan kualitas pelaksanaan pada tahun berikutnya, kalau masih diperlukan. Horas, yaahowu, mejuah-juah, njuah-njuah banta karina.(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px