Logo
Print this page

'Genderang Perang' Mulai Ditabuh


Pemilu April 2019 bisa disebut sudah berada di ambang pintu. Tak heran, sesama calon anggota legislatif (caleg) pun kini terpaksa 'menabuh genderang perang’. Apa pasal ? Penyebabnya tiada lain, perkelahian antar caleg kini semakin meluas dan memanas.

Imbas penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak, menyebabkan wilayah pertempuran di antara calon legislatif tidak lagi sebatas perang antarpartai, melainkan sudah memasuki teritorial sendiri.  Perang saudara di internal parpol tak bisa dielakkan, karena suara terbanyak mengharuskan sesama saudara itu berjuang menyelamatkan diri masing-masing.

Demi menyelamatkan diri masing-masing pula, mau tau mau, suka atau tidak suka, para caleg itu sejak dini mesti ‘menabuh genderang perang’, agar bisa bersaing serta tidak mudah dipecundangi lawan.

Lalu, bagaimanakah cara caleg itu ‘menabuh genderang perang’ di antara masing-masing ? Caranya tiada lain dengan menempuh berbagai intrik menghalalkan segala cara (Machiavellisme) untuk memikat dan meraih simpati calon pemilih di daerah pemilihannya masing-masing.

Perang spanduk dilancarkan, kaum kerabat pun dikerahkan. Iklan di media massa cetak, elektronik (tv/radio), dunia maya pun terus diluncurkan. Bahkan black campaign pun dihalalkan.

Cilakanya, kecenderungan ‘asah parang’ dan 'menabuh genderang perang' tersebut, akhirnya menjurus pada retaknya silaturrahmi dan kekeluargaan antarcaleg yang sebelumnya berasal dari keluarga dan habitat (partai) yang sama.

Mereka yang dulunya dikenal sebagai sohib kental serta selalu giat membesarkan partai, kini saling menjatuhkan. Mereka mati-matian ‘berkelahi’ dan mengasah parang masing-masing agar lebih tajam dan mengilat, demi meraih tujuan akhir : menjadi anggota legislatif.

Padahal menjadi wakil rakyat sejatinya merupakan warga kelas dua, sebab posisinya cuma sebagai wakilnya rakyat. Demi posisi warga kelas dua itulah, mereka rela ‘mengajak perang’. Fenomena serupa tidak hanya terjadi di antara sesama caleg, tetapi juga di antara pendukung capres.

Belakangan ini, sebagai konsekuensi mencuatnya dukung mendukung pasangan capres-cawapres di kalangan masyarakat tersebut, telah memicu terjadinya saling klaim di antara mereka, yang menyatakan figur capresnya yang paling baik dan layak memimpin negeri ini.

Pelaksanaan Pileg dan Pilpres yang dilaksanakan secara bersamaan itu, telah menyebabkan semakin memanasnya situasi di tengah rakyat kita sendiri. Dengan kata lain tak cuma capres dan caleg saja yang merasa gugup, tetapi para tim sukses dan pendukungnya juga ikut memendam perasaan was-was.(**)  

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
IKLAN ONLINE | REDAKSI

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com