Log in

Bertanding untuk Kalah


Bertanding untuk kalah ! Itulah fenomena yang mencuat menjelang pelaksanaan sejumlah pemilihan kepala daerah (Pilkada) di tanah air belakangan ini. Betapa tidak, terdapat bakal pasangan calon, sejatinya sudah sangat menyadari, bakal menelan kekalahan. Namun, mereka tetap ngotot dan sangat bersemangat untuk terjun ke kancah Pilkada. Pada akhirnya, mereka harus siap menerima konsekuensi sikap nekad terjun bebas ke gelanggang Pilkada tersebut. Mereka mengikuti Pilkada, tanpa didukung analisis SWOT serta persiapan memadai, baik dari aspek pendanaan maupun kejelasan basis massa pendukungnya. Kalau tak punya basis massa signifikan, dana yang kuat, tak pula didukung mesin parpol yang kuat dan bekerja efektif, masih juga berambisi ikut Pilkada, itu kan sama saja dengan bertanding untuk kalah. Sudah tahu bakal kalah, masih ngotot maju, ya sudah, tahankanlah nanti risikonya.

Kalau dalam arena tinju profesional, bertanding untuk kalah konon sering terjadi. Tujuannya untuk memperoleh uang yang jumlahnya lebih banyak dari bayaran semula atau sengaja kalah, karena telah disusun sebuah pertandingan rematch, yang dipastikan akan lebih menarik dan mengundang lebih banyak penonton. Sementara dalam Pilkada, bertanding untuk kalah, selain akan menuai kekecewaan dan beban psikologis selama bertahun-tahun, dapat dipastikan juga menguras pundi pundi keuangan pribadi dan organisasi. Kalah dalam Pilkada bisa bikin bangkrut. Pasalnya, dana yang mesti disiapkan untuk mengikuti Pilkada jumlahnya tidak sedikit. Coba bayangkan, jika sang calon menggunakan ‘perahu’ parpol. Untuk satu parpol, setidaknya mesti setor hingga mencapai puluhan miliar. Itu baru untuk satu parpol, bagaimana kalau 2, 3, atau 10 parpol ?

Sementara kalau menempuh jalur independen, seorang calon kepala daerah mesti mengumpulkan bukti dukungan dari sekitar 15 ribu warga (disesuaikan dengan jumlah pemilih) dengan menyertakan fotocopi KTP. Coba hitung kalau satu dukungan mesti dibayar Rp50 ribu, berapa dana yang harus disediakan. Belum lagi kalau dihitung dana harus dikeluarkan untuk atributisasi, kampanye, iklan, dana saksi, dan berbagai tetek bengek lainnya. Dapat dipastikan, seorang kandidat kepala daerah akan menghabiskan dana miliaran rupiah untuk keperluan pencalonannya itu. Umumnya dana berasal dari kocek pribadi dan beberapa di antaranya dari relasi dan sponsor.

Kita berharap fenomena perhelatan Pilkada di Tanah Air, yang melahirkan implikasi negatif bagi kandidat yang terjun bebas tersebut, hendaknya bisa dijadikan pelajaran oleh para tokoh di tanah air saat ini, yang lupa berkaca dan masih tetap berminat menjadi bakal calon presiden, walau diketahui akan mendulang kekalahan.  Kalau sedari awal sudah menyadari, tidak punya uang serta tidak memiliki basis massa yang riil dan signifikan, seharusnya tak usahlah ikut-ikutan menjadi kandidat dalam Pilkada, apalagi Pilpres. Kalah dengan selisih suara tipis, memang dianggap sebagai kekalahan terhormat, tetapi tetap juga sebuah kegagalan yang akan terus diratapi. Aapalagi, jika kalah dengan kondisi babak belur, tanpa memperoleh suara signifikan, patut dianggap sebagai sebuah kebodohan. Sebab, sejatinya mereka sudah menyadari sepenuhnya tidak memiliki peluang untuk menang alias nekad bertanding walau sudah tahu bakal kalah. Hmmm....(**)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

32°C

Medan, Sumatera Utara

Mostly Cloudy

Humidity: 62%

Wind: 6.44 km/h

  • 19 Jul 2018 32°C 23°C
  • 20 Jul 2018 30°C 23°C

Banner 468 x 60 px