Log in

Asing Tidak Selalu Lebih Baik


Timnas Indonesia mengawali langkah di kualifikasi Piala Dunia 2022 dengan hasil negatif. Saat bertanding di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9), Indonesia menelan kekalahan 2-3 dari Harimau Malaya. Dua kali unggul, tim asuhan Simon McMenemy harus mengakui Malaysia bermain lebih baik.

Pada babak pertama, Indonesia unggul 2-1. Sepasang gol dari Alberto Goncalves dibalas sekali oleh Mohamadou Sumareh. Di babak kedua, Malaysia bisa menambah dua gol. Syafiq Ahmad dan Sumareh yang membobol gawang Andritany Ardhiyasa.

Selain menderita kekalahan, Indonesia juga tidak mampu memperlihatkan perlakuan yang baik kepada tim tamu. Kericuhan sempat terjadi di stadion. Kericuhan ini timbul setelah fans Indonesia berusaha merangsek ke tribun yang ditempati para pendukung tim tamu. Pendukung tim Garuda juga melempari tribun suporter Malaysia dengan berbagai benda.

Kekalahan timnas Indonesia dari negeri jiran Malaysia ini jelas sangat mengejutkan dan mempermalukan kita sebagai tuan rumah. Sebab, sudah 15 tahun Indonesia tidak pernah mengalami kekalahan dari Malaysia di kandang sendiri. Parahnya lagi, timnas bak sudah jatuh tertimpa tangga pula. Soalnya kericuhan yang terjadi di stadion bisa memicu munculnya sanksi dari FIFA.

Seperti diketahui, timnas Indonesia saat ini ditangani pelatih asing berkebangsaan Skotlandia, Simon McMenemy. Tak cuma berbekal pelatih asing, timnas Indonesia saat ini juga memiliki sejumlah pemain asing (naturalisasi) di antaranya Alberto Goncalves Da Costa, Victor Igbonefo, Stefano Lilipaly (kelahiran Arnhem Belanda), Otavio Dutra, Greg Nwokolo, dan Osas Saha.

Kendati sudah mengandalkan nama-nama asing, mulai dari pelatih hingga pemain impor, ternyata timnas Indonesia tetap loyo dan melempem. Justru ketika tidak diperkuat para pemain naturalisasi tersebut, sudah puluhan tahun timnas Merah Putih tidak pernah kalah dari negeri jiran Malaysia, saat bertanding di depan fans tim Garuda. Sebaliknya, Malaysia hanya mengandalkan polesan pelatih lokal kelahiran Kedah, Tan Chong Hoe.

Kekalahan ini sekaligus merupakan sebuah penegasan dan bukti nyata, keberadaan orang-orang asing tidak selalu mampu memberikan sesuatu yang lebih baik. Patut diingat, membela skuad Merah Putih tidak hanya membutuhkan skill, namun yang lebih penting lagi adalah adanya nasionalisme membara, yang bisa membangkitkan semangat pantang menyerah.

Pelatih dan pemain asing itu tentunya tidak terlalu sedih dengan kekalahan timnas kita melawan Malaysia. Sementara, bagi fans dan pendukung setia tim Garuda, kekalahan melawan Malaysia bisa disebut sebagai hal tabu dan memalukan. Ini sama halnya dengan Argentina, yang tidak rela kalah melawan Brasil, atau Everton yang notabene lebih lemah, tapi selalu tidak pernah mau kalah saat menghadapi seteru abadinya, Liverpool.

Simon McMenemy dan para pemain naturalisasi itu bukanlah solusi untuk membangkitkan prestasi timnas Indonesia. Lihatlah para pesepakbola kita yang bertanding di level junior, U-15, U-17, U-19, sering menorehkan prestasi cukup gemilang dan membanggakan, padahal mereka hanya kumpulan pemain asli Indonesia dan ditangani pelatih lokal.

Sebaliknya, timnas senior kita bolak-bolak ditangani pelatih asing plus diperkuat pemain naturalisasi, tetapi selalu pula menuai kegagalan dan kekalahan yang memalukan. Kondisi realitas ini hendaknya bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa semua hal berbau asing tidak selalu lebih baik. Termasuklah di dalamnya rektor asing, dipastikan tidak lebih baik kualitasnya dibanding para doktor dan profesor kita. Karenanya, mari kita maksimalkan potensi SDM negeri sendiri. Monggo...(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px