Log in

Apatisme Melihat Sepak Bola Kita


Indonesia harus takluk 0-3 dari Thailand dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022. Kekalahan ini memancing kekesalan para suporter, termasuk di media sosial. Bermain di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), skuad asuhan Simon Mcmenemy tak berkutik menghadapi serangan Thailand. Sempat menahan imbang tanpa gol di babak pertama, tembok pertahanan Indonesia akhirnya runtuh setelah dua gol Supachok Sarachart dan satu gol dari Theerathorn Bunmathan bersarang di gawang Andritany Ardhiyasa.

Permainan Indonesia yang jauh dari harapan membuat kesal pendukung yang hadir di Stadion GBK. Bahkan setelah tertinggal tiga gol, alih-alih mendukung, suporter Indonesia justru menyoraki Evan Dimas dkk setiap kali memegang bola.

Sebenarnya, kekalahan melawan Thailand ini sudah bisa diduga sejak awal, jika menyimak hasil pertandingan sebelumnya melawan Malaysia yang juga menderita kekalahan. Dua kekalahan yang diderita di kandang sendiri ini jelas sangat menyakitkan sekaligus memalukan. Sangat wajar jika penonton justru mencacimaki para pemain timnas sendiri.

Pasalnya dukungan yang selama ini diberikan para fans terhadap perjuangan Tim Garuda menjadi sia-sia belaka. Sebab, yang diberikan kepada para pendukung setia yang sudah mengeluarkan uang ke stadion, hanyalah kekecewaan dan keprihatinan melihat permainan tim nasional, yang sangat jauh dari harapan rakyat Indonesia.

Tidak heran jika para penggemar sepak bola dan rakyat Indonesia sudah mulai apatis melihat sepak bola Indonesia, yang tak kunjung mengalami perubahan ke arah lebih baik. Sementara PSSI sudah banyak mengeluarkan dana untuk melaksanakan kompetisi Liga 1, 2 dan 3 serta bolak-balik mengontrak pelatih asing yang membutuhkan dana yang tidak sedikit jumlahnya.

Lebih mengenaskan lagi PSSI bukannya berupaya meningkatkan prestasi, malah tak kunjung bisa melepaskan diri dari keasyikan memperkaya diri sendiri dan tetap tidak mampu memberantas tuntas maraknya mafia sepak bola yang terus menggerogoti, sehingga iklim persepakbolaan di tanah air kita, tidak pernah bisa berkembang dengan baik (on the track).

Alhasil, program peningkatan kualitas dan pembinaan para pemain muda melalui jenjang U-15, 16, 17, 18, 19, 21, 23 tahun, terkesan menjadi percuma belaka, karena di saat mereka menjadi pemain di jenjang senior, harus berhadapan dengan situasi yang kurang kondusif, akibat tetap maraknya praktik kotor dalam persepakbolaan kita.

Selama PSSI masih tetap seperti sekarang (masih dihuni para pengurus yang tidak becus dan hanya ingin mengejar kesuksesan pribadi dan kelompok), maka selama itu pula, sepak bola kita tidak akan pernah maju-maju dan hanya akan menjadi bulan-bulan timnas negara lain, baik saat bertanding di luar kandang maupun kandang sendiri.

Berbagai kekalahan dan kegagalan yang dialami timnas ini, jelas akan melahirkan apatisme di kalangan pendukung setia Merah Putih, yang dihinggapi perasaan putus asa dan sama sekali tidak memiliki keyakinan, timnas akan mampu meraih kemenangan saat bertanding melawan tim sekelas Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar dan Singapura. Timnas hanya berpeluang meraih kemenangan saat menghadapi Brunei Darussalam, Timor Leste, Filipina dan Kamboja.

Sejatinya pihak PSSI sudah mengetahui apa saja penyebab kegagalan yang secara terus menerus itu. Persoalannya tidak melulu karena kualitas teknik pemain kita, melainkan lebih mengarah kepada mentalitas dan stamina para pemain yang kurang mendukung.

Hal ini terjadi karena PSSI tidak mampu menyusun jadwal pemusatan latihan yang baik dalam menghadapi berbagai jadwal pertandingan yang sudah jauh-jauh hari diagendakan tersebut. Kalau situasinya masih seperti ini, tidak mengherankan, bila rakyat Indonesia sendiri akan enggan datang ke stadion menyaksikan timnas bertanding dan juga tidak berminat menyaksikannya melalui televisi. Mereka sudah apatis...(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px