Log in

Rebusan Pembalut untuk 'Nge-fly'


Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah mengungkap temuan penggunaan pembalut bekas oleh kalangan remaja di wilayahnya untuk mendapatkan sensasi mabuk. Temuan itu banyak terjadi di wilayah pinggiran Jawa Tengah.

"Sekarang ada beberapa anak-anak muda karena menganggap sabu-sabu mahal, sekarang menggunakan yang lain. Salah satunya menggunakan pembalut yang sudah dipakai lalu direbus dan diminum," kata Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng, Ajun Komisaris Besar Polisi Suprinarto di Semarang, Kamis (8/11).

Berdasarkan temuannya, kasus penyimpangan itu banyak ditemukan di wilayah pinggiran Jawa Tengah, seperti halnya Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang serta Kota Semarang bagian timur. Ironisnya, rata-rata penggunanya adalah remaja usia 13-16 tahun.

Para remaja yang menggunakan air pembalut wanita untuk mabuk itu tidak merasa jorok. Mereka bahkan rela mengais di tempat sampah agar mendapat pembalut bekas untuk direbus. Tapi lambat laun tren tersebut berubah. Kebanyakan remaja mulai jijik menggunakan pembalut bekas.

"Sekarang lebih higienis cari barang (pembalut) baru dan katanya rasanya seperti menggunakan sabu-sabu. Pembalut kan ada gelang yang fungsinya menyerap air itu yang bikin fly," ujar Suprinarto.

Ia menyebut bahwa fenomena mabuk rebusan pembalut tak hanya sekali ini terjadi di Indonesia. Sebelumnya kasus itu pernah ada di Karawang, Bangka Belitung, Yogyakarta. Namun di Jawa Tengah kali ini baru marak terjadi.

"Kalau larangan sudah ada ya, tapi kita enggak bisa awasi. Tapi kasih imbauan agar tidak dipakai. Jelas itu dampaknya tidak baik. Pemulihannya lebih sulit daripada (mabuk) yang biasa, " jelasnya.

Selain air rebusan pembalut, Supri menyebut  barang lain yang juga kerap dipakai para remaja agar mendapat sensasi memabukkan.

"Satu contoh jamur tletong (kotoran sapi), 'nyair' seperti obat nyamuk dicampur-campur, obat batuk, pakai lem dan lain-lain. Mereka ingin dampak seperti memakai sabu," ujarnya.

Perilaku menyimpang meminum air rebusan pembalut baru dan bekas yang membuat nge-fly kini tengah jadi fenomena di daerah Jawa Tengah hingga Jakarta.  Mereka meminum air rebusan pembalut itu sebagai pengganti narkoba jenis sabu, lem, dan pil koplo.

Air rebusan pembalut itu dinilai berbahaya bagi tubuh lantaran pembalut terbuat dari bahan yang tidak layak dikonsumsi. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), pembalut tersusun dari berbagai bahan dan senyawa kimia yang dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti iritasi hingga karsinogen.

"Komposisi pembalut itu sangat berbahaya. Dipakai saja berisiko menyebabkan iritasi, apalagi dikonsumsi. Pembalut mengandung klorin dan senyawa karsinogen yang bisa memicu kanker," ungkap peneliti YLKI Rosita Eva, Kamis (8/11).

Berdasarkan penelitian YLKI pada 2015 terhadap tujuh produk pantyliner dan sembilan pembalut, semuanya mengandung klorin. Beberapa pembalut bahkan memiliki kandungan klorin yang tinggi yakni diatas 20,4 ppm.

Senyawa kimia klorin itu bersifat korosif atau mengikis organ dan menyebabkan iritasi pada kulit, mata hingga saluran pernapasan. "Klorin dalam pembalut ini sangat berbahaya menimbulkan iritasi saat dipakai, apalagi dikonsumsi langsung diminum. Belum lagi, ada kandungan lain dalam pembalut yang dapat bereaksi saat direbus," kata Rosita.

Rosita menerangkan komposisi pembalut juga terdiri dari non woven, pulp, super absorbent polymer (SAP), polyethylene backsheet, silicon coated paper, holt melt adhesive, tissue pulp, dan sebagainya.

"Kandungan lain ini bisa menjadi senyawa karsinogen yang apabila terus terakumulasi bisa memicu kanker," ucap Rosita.

Pada pembalut bekas, kata Rosita, komponen itu juga mengandung mikroba yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada orang yang mengonsumsinya. Di sisi lain, Rosita mengaku tak mengetahui apakah air rebusan pembalut itu bisa menyebabkan adiksi atau nge-fly.

Menurut Rosita, fenomena ini merupakan bentuk penyalahgunaan produk dari konsumen. Produk pembalut itu seharusnya dipakai untuk menampung darah menstruasi bukan untuk dikonsumsi langsung.  Rosita menyarankan agar anak-anak dan remaja diedukasi untuk agar tidak menyalahgunakan produk tersebut.

"Perlu ada konseling dan edukasi untuk anak-anak tersebut. Mengenai dampak dan penyakit yang bisa timbul," ujar Rosita. (VN/CNNI)

Berita lain dari kategori ini : « Kaya Raya Tetap Mengemis Jasa Peluk Profesional »

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 8.05 km/h

  • 21 Nov 2018 27°C 22°C
  • 22 Nov 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px