Log in

Bocah Penyelamat Pengibaran Merah Putih


Johannes Adekalla (Joni) menjadi pahlawan dalam pengibaran bendera Merah Putih saat Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan ke-73 RI di Kecamatan Silawan, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (17/8).

Siswa kelas VII SMPN 1 Silawan itu memanjat tiang bendera saat upacara berlangsung. Hal itu dilakukannya demi memperbaiki pengait bendera yang bermasalah.

Salah seorang peserta yang mengikuti jalannya upacara, Saud Ringo, menyebut aksi Joni terbilang nekad. Seluruh peserta upacara kala itu, kata dia, sangat was-was atas keselamatan Joni yang sangat mungkin terjatuh dari ketinggian 17 meter.

"Aduh jangan sampai dia jatuh, kalau jatuh bisa patah, tidak baik sekali," kata Saud dilansir kumparan, Jumat (17/8).

Saud merupakan seorang peserta yang tengah mengikuti Diklat Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (SESDILU). Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengirimnya ke wilayah perbatasan itu untuk mengajar. Kebetulan pula dia diundang oleh pemkab setempat untuk mengikuti jalannya upacara tersebut.

Menurut Saud, cerita heroik yang dilakukan Joni bermula saat upacara dimulai sekitar pukul 09.00 WITA. Saat itu tak pernah ada yang menyangka bahwa akan ada kendala dalam pengibaran bendera tersebut. Gladi bersih pun, kata dia, sudah dilakukan sebelumnya.

Kendati demikian, masalah mulai muncul saat tim Paskibra mulai mengikat bendera merah putih itu di tali yang sudah disediakan. Entah mengapa saat berusaha ditarik rupanya ada masalah.  

"Nah begitu habis diikat benderanya sama yang pengibar bendera. Dibentangkan kan itu, baik-baik saja. Ketika ditarik mau pertama kali itu putus. Jadi tali pengaitnya itu putus dan nyangkut di paling atas," jelas Saud.

Saat insiden itu terjadi, tim pengibar bendera tampak kebingungan. Saud menjelaskan, susana kala itu sangat menegangkan hingga kemudian Wakil Bupati Belu J T Ose Luan meminta agar ada orang yang dapat menyelesaikan masalah itu.

"Nah kami tidak begitu paham dia (Joni) mengajukan diri atau ditanya. Yang pasti kawan ini (Joni) langsung buka sepatu dan lari ke tengah. Langsung manjat dia," terang dia.

Saat Joni berlari ke tengah lapangan, tak ada satu pun yang mencegah anak tersebut. Semua orang, kata dia, hanya terpaku pada aksi cepat Joni yang dengan cekatan memanjat tiang tersebut. Anak itu pun dengan cekatan memperbaiki pengait yang nyangkut di ujung tiang.  

"Ternyata dia kuat sampai atas. Sampai atas dia pegang. Itu dia gigit talinya dia turun ke bawah. Sampai di bawah itu semua kita nangis terharu," tuturnya.  

Saud menjelaskan, semua orang menangis lantaran terharu dengan aksi anak tersebut. Saat Joni turun pun semua orang bertepuk tangan. Semuanya bangga terhadap aksi heroik Joni yang mampu menjadi penyelamat di saat semua kebingungan dengan insiden itu.

Saat bendera dibentangkan dan siap dinaikan oleh tim Paskibra, lagu Indonesia Raya pun akhirnya bergema. Ratusan orang yang menjadi peserta upacara itu, bahkan masyarakat yang berada di sisi luar, kata dia, menangis kembali akibat terharu. Tak pernah ada yang menyangka bahwa anak sekecil itu bisa menjadi peyelamat.

"Anak kecil itu yang menentukan (pengibaran) sang saka merah putih di Atambua. Kalau memang enggak ada dia mungkin enggak berkibar itu bendera,"  tutup dia.

Diundang ke Jakarta

Karena aksi heroiknya yang viral di media sosial, Menpora Imam Nahrawi pun mengundang Johanes Adekalla, ke Jakarta.

"Saya kira enggak akan lamalah, saya akan ajak Joni ke Jakarta," kata Imam Nahrawai di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat siang, sebelum "torch relay"Asian Games 2018.

Ia berjanji mengajak bocah penyelamat pengibaran bendera Merah Putih itu untuk menonton salah satu cabang olahraga Asian Games 2018.

Joni, tiba-tiba memanjat tiang bendera saat pelaksanaan upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia di daerah itu. Aksinya yang tergolong berbahaya itu, justru mampu menyelamatkan prosesi pengibaran bendera yang semula tidak bisa dinaikkan karena ada pengait tali yang tidak bekerja dengan benar.

"Itulah sebuah tekad luar biasa. Bagi Joni mungkin tidak berbahaya tapi itulah tantangan dan Joni mengorbankan semuanya demi Merah Putih," katanya.

Menurut dia, hal itu merupakan perjuangan yang heroik. Ia menegaskan menghargai dan sebisa mungkin akan memanggil Joni ke Jakarta.

"Karena inilah sesungguhnya figur dan idola baru kita, dia tidak ada rasa takutnya kecuali bendera Merah Putih diselamatkan dan bisa dikibarkan di perbatasan Atambua dan Timor Leste," katanya. (KMP/ANT)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

28°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 75%

Wind: 11.27 km/h

  • 21 Sep 2018 28°C 23°C
  • 22 Sep 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px