Log in

Beternak Ular


Bagaimana rasasnya hidup bersama 1.000 ular dari jenis yang bebeda-beda di rumah? Takut dan ngeri akan menghantui bagi yang tak terbiasa. Namun rasa takut tak dirasakan Hu Xiaoxia, yang mengembangbiakan ular di Chongqing, China. Hu telah merawat 1.000 reptil tersebut sejak tahun 2014.

Seperti dikutip dari Asia One, Hu mengetahui tentang ular ketika berajnak dewasa. Dan sejak itu telah menghasilkan 1.000 ular berbeda, di antaranya sejumlah kobra. Setiap pagi, dia akan membersihkan ruangan untuk ular, dan memeriksa suhu dan kelembabannya.

Dia juga memproduksi anggur ular, yang digunakan penduduk setempat untuk membuat minuman obat. Hal ini diyakini bahwa anggur ular dapat membantu menghilangkan angin dan menghilangkan kelembaban. Selain itu, kulit Cobra juga dianggap sebagai obat pembersih panas dalam pengobatan tradisional Tiongkok.

"Kobra adalah binatang yang sangat beracun. Saya berhubungan dengan mereka setiap hari. Anda harus tahu apa yang seharusnya Anda lakukan jika Anda digigit. Anda harus tahu bagaimana melindungi diri," kata Hu.

Ternyata tak hanya di China, di Wonogiri, Indonesia, tepatnya  di Jalan Yudistira, RT 03/RW 07, Wonokarto, ada hunian yang juga menjadi tempat beternak ular. Sepuluh boks kaca, semacam aquarium berbingkai kayu, tertata di ruang depan rumah yang dikontrak pria bernama Agus. Di dalam boks kaca tersebut berisi hewan-hewan ternaknya, ular jenis piton dan jenis lokal.

Agus mengaku sejak kecil dia gemar mengoleksi hewan melata itu. Namun baru pada 2007 lalu, dirinya mulai mencoba beternak ular. Agus memelihara belas ekor induk piton dan induk ular lokal.

“Total dengan peranakan, ada sekitar 50 ekor saat ini. Kebetulan saat ini memang belum musim kawin. Jika sudah musim bertelor, bisa lebih banyak lagi jumlahnya,” kata dia beberapa waktu lalu.

Biasanya ular piton baru dapat dikawinkan setelah usia tiga tahun. “Masa kehamilan 2 bulan, inkubasi 3 bulan. Ular yang siap kawin biasanya dia akan mogok makan, ular gampang geli dan sering menggosokkan badan di dinding atau sesuatu. Musim kawin ular adalah pertengahan tahun sampai sampai dengan Desember,” kata dia sambil mengelus beberapa hewan peliharaannya. Bagi Agus, beternak ular merupakan usaha yang menjanjikan. Sebab harga ular jenis khusus memiliki harga yang tinggi.

"Untuk ular jenis piton impor dengan motif [sisik] normal, usia satu bulan sudah dapat dijual dengan harga Rp150.000. Tapi terkadang ada yang memiliki motif sisik lain dari pada yang lain. Itu harganya bisa lebih mahal. Untuk ukuran besar bisa mencapai Rp3,5 juta- Rp4 juta,” kata dia.

Dia juga mengatakan harga ular dapat berlipat ketika ukuran tubuhnya bertambah. “Beli ukuran kecil, paling hanya memerlukan waktu pemeliharaan dua sampai tiga tahun, harganya sudah berlipat,” kata dia.

Untuk penjualan, biasanya dia menjual ularnya kepada para penghobi ular atau kepada komunitas reptil. Agus menuturkan, pemeliharaan ular juga tidak terlalu sulit. Di rumah tersebut Agus memelihara Si Doel, seekor ular piton berusia tiga tahun dengan panjang sekitar dua meter.

Dalam satu pekan, Si Doel menghabiskan 10 ekor ayam. Jika dirupiahkan mencapai sekitar Rp500.000. Untuk ukuran yang kecil biasanya diberi makan tikus. Dalam satu bulan, ular hanya diberi makan tiga kali. “Perawatannya tidak seribet burung yang harus memberi makan setiap hari,” ujar dia. (OKZ/SOP)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 98%

Wind: 6.44 km/h

  • 23 Apr 2018 27°C 23°C
  • 24 Apr 2018 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px