Log in
Pemkab-Aceh-Selatan-Sekda-Bupati.jpg

Perang Dagang AS-Tiongkok Perburuk Ekonomi Negara Berkembang


Medan-andalas Ekonom Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, pasar keuangan global kembali menghadapi tekanan serius. Keputusan Tiongkok memberikan serangan balik ke Amerika Serikat (AS) dalam bentuk kenaikan tarif impor hingga mencapai Rp840 triliun memperburuk kondisi pasar keuangan global. AS yang sebelumnya melakukan kenaikan tarif untuk barang-barang dari Tiongkok, yang semula sebesar 10 persen menjadi 25 persen.

"Perang dagang ini memperburuk keadaan ekonomi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Perang dagang ini memicu terjadinya pelemahan sejumlah mata uang dunia. Mata uang rupiah belakangan ini terus melemah hingga di level Rp14.450 per US Dolar. Indeks saham di pasar global juga berada di bawah tekanan," kata Gunawan kepada andalas, Selasa (14/5).

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah bisa mengubah asumsi sejumlah indikator ekonomi makro. Apalagi pelemahan rupiah di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia sehingga berpeluang menciptakan kemungkinan kenaikan harga BBM di Tanah Air. Di sisi lain, neraca perdagangan di Tanah Air sulit ditekan jika rupiah terus menerus mengalami pelemahan.

"Atau pelemahan rupiah mengakibatkan terjadinya kenaikan sejumlah kebutuhan masyarakat di Tanah Air. Multiplier efeknya memang sangat luas. Pemerintah kita harapkan lebih waspada terkait dengan berkecamuknya perang dagang belakangan ini," harap Gunawan.

Gunawan menyatakan, sejumlah upaya dalam mengendalikan sejumlah indikator ekonomi makro akan menjadi sulit jika perang dagang ini terus berlanjut. Sebab perang dagang ini telah memicu terjadinya perlambatan di kedua negara besar, yakni AS dan Tiongkok.

"Perlambatan juga akan dirasakan Indonesia, bentuk paling mungkin akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat adalah kenaikan harga sejumlah kebutuhan hidup," ujarnya.

Efek lainnya imbuh Gunawan, potensi pendapatan yang menurun akibat penurunan harga komoditas ataupun pendapatan rumah tangga yang  juga tak kunjung mengalami kenaikan. "Jadi kondisi perang dagang akan menyeret kita dalam tekanan ekonomi yang bisa melebar ke subsektor ekonomi," tandasnya.

Seperti diketahui memanasnya perang dagang antara AS-Tiongkok kembali memicu kecemasan akan pelambatan ekonomi global, bahkan kemungkinan akan adanya resesi di banyak negara.

Tiongkok baru-baru ini melancarkan serangan balik kepada AS dengan memutuskan untuk menaikkan tarif bea masuk impor barang dari AS sebesar US$60 miliar atau setara Rp840 triliun (asumsi US$1=Rp14.000).

Kebijakan yang akan berlaku 1 Juni 2019 merupakan aksi balasan atas keputusan Presiden Donald Trump yang menaikkan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen atas 5.000 barang impor China yang nilainya mencapai US$200 miliar. Tarif AS juga berlaku mulai 1 Juni 2019. (SIONG)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C