Log in

Kuota KPR Subsidi Mendadak Habis

Pengurus APERSI Sumut memberikan keterangan pers, Rabu (12/6) di Medan. Pengurus APERSI Sumut memberikan keterangan pers, Rabu (12/6) di Medan.

Pengembang di Sumut Resah, APERSI Minta Jokowi Tambah Kuota

Medan-andalas Puluhan pengembang atau developer di Sumatera Utara resah dengan mendadak habisnya kuota Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi dari Bank Tabungan Negara (BTN) selaku bank penyalur terbesar KPR Subsidi untuk Program Sejuta Rumah tahun 2019 yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Sumatera Utara (Sumut) meminta Presiden Jokowi melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menambah kuota KPR Subsidi tahun 2019 untuk Sumut.

Sekretaris APERSI Sumut HM Yulius ST MM mengatakan banyak pengembang di Sumut yang sudah menanamkan modalnya untuk membangun perumahan guna mendukung Program Sejuta Rumah yang dicanangkan Presiden Jokowi, kini terancam kolaps karena tidak bisa melakukan akad (perjanjian) dengan BTN karena kuota KPR Subsidi habis.  

"Habisnya kuota KPR Subsidi dari BTN ini sangat mendadak dan cukup mengejutkan karena tak ada pemberitahuan sebelumnya kepada kami selaku pengembang," ungkap Yulius kepada wartawan di Medan, Rabu (12/6).

Yulius didampingi Pengurus APERSI Sumut lainnya, antara lain Yanti Nabila (Bendahara), Jhonson Sinulingga (Wakil Ketua Bidang Perizinan), dan Deni Surya (Wakil Ketua Bidang Rumah Sejahtera Tapak) menjelaskan, sebelum Lebaran banyak pengembang sebenarnya sudah mendapat Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan (SP3) KPR Subsidi dari BTN selaku bank penyalur kredit.

Setelah mengantongi surat persetujuan itu, saat ini banyak pengembang yang sudah dalam tahap proses membangun perumahan, bahkan sebagian sudah ada yang selesai membangun perumahan dan menawarkannya ke konsumen.

"Tetapi ketika habis libur Lebaran kemarin kami datang ke BTN, pihak bank menyatakan akad untuk penyaluran KPR Subsidi tidak bisa dilakukan karena kuota untuk tahun 2019 di Sumut sudah habis," beber Yulius.

Yulius mengaku kalau kuota ini tidak ditambah, maka akan banyak pengembang yang terancam kolaps alias bangkrut karena modal cukup besar yang sudah habis digunakan untuk membangun perumahan subsidi tersebut tidak bisa mereka putar, bahkan mungkin tidak bisa kembali.

Dijelaskan, harga (modal) membangun satu rumah subsidi Rp130 juta. Tetapi sebelum Lebaran kemarin harganya dinaikkan pemerintah jadi Rp140 juta. Sementara saat ini ada ratusan rumah subsidi yang sudah dibangun pengembang, itu tidak bisa dilakukan akad karena kuota KPR Subsidi sudah habis.

"Seandainya kuota KPR Subsidi tidak ditambah, maka mampuslah kami pengembang ini. Akan banyak kami yang gulung tikar karena tidak lagi punya modal. Apalagi untuk membayar cicilan pinjaman ke bank setiap bulan, dan membayar lain-lainnya," tutur Deni Surya menimpali.

Habisnya kuota KPR Subsidi dari bank penyalur untuk Program Sajuta Rumah tahun 2019 ini ternyata bukan hanya di Sumut, tetapi juga terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

"Hal itu kami ketahui dari komunikasi kami dengan rekan-rekan Pengurus APERSI di daerah lain. Bagi kami ini sangat membingungkan dan tidak lazim. Karena tahun-tahun sebelumnya, biasanya kuota baru habis di bulan Desember. Ini baru masuk bulan Juni, tetapi kuota dinyatakan sudah habis," sebut Yanti Nabila.

Bank penyalur KPR Subsidi untuk mendukung Program Sejuta Rumah yang dicanangkan Presiden Jokowi sebenarnya tidak hanya BTN. Tetapi Bank Mandiri, Bank Mandiri Syariah, Bank Sumut, dan bank-bank lainnya juga ada 'jatah' untuk menyalurkan.

"Hanya sepengetahuan kami penyalur terbesar itu BTN. Biasanya 80 persen dari kuota setiap tahun ada di BTN. Informasinya untuk ini BTN dapat kuota 140 ribu unit KPR Subsidi. Itu dibagi ke seluruh cabang di Indonesia. Untuk Sumut sekitar 4 ribu unit," ujarnya.

Kuota 4 ribu unit rumah KPR Subsidi dari Program Sejuta Rumah untuk Sumut itu menurut Yulius tidak banyak. Apalagi mengingat banyak warga Sumut terlebih yang berpenghasilan rendah, belum memiliki rumah.

"Kita saja APERSI Sumut anggotanya ada sekitar 170 perusahaan atau pengembang. Kalau kuota 4 ribu itu dibagi, sangat kecil sebenarnya. Idealnya, untuk Sumut itu kuotanya 15 ribu lah agar semakin banyak warga yang taraf ekonominya rendah bisa memiliki rumah sendiri yang layak,"  kata Yulius lagi.

APERSI pusat, sambungnya, sudah melaporkan dan meminta penambahan kuota KPR Subsidi ini ke Kementerian PUPR. "Rencananya kalau kuota ini tidak tambah, kami dari APERSI se-Indonesia berencana untuk ramai-ramai datang ke Istana Negara menemui langsung Presiden Jokowi. Karena bagaimana pun apa yang kami suarakan ini bukan semata-mata untuk kepentingan kami sebagai pengembang, tetapi juga kepentingan masyarakat kecil untuk mendapatkan rumah murah dan layak huni sebagaimana yang dicita-citakan Presiden Jokowi melalui Program Sejuta Rumah itu," pungkas Yulius. (GUS)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px