Log in

Ketahanan Pangan Harus Melalui Pendekatan Multisektoral

Pakar ketahanan pangan UHN Dr Ir Erika Pardede MappSc pada acara workshop internasional di Pokhara, Nepal. Pakar ketahanan pangan UHN Dr Ir Erika Pardede MappSc pada acara workshop internasional di Pokhara, Nepal.

Pakar Pangan UHN Dr Ir Erika Pardede MapSc:

Medan-andalas Pada intinya, ketahanan pangan tidak akan tercapai tanpa ketahanan gizi. Ketahanan gizi tak akan tercapai tanpa ketersediaan sekaligus keterjangkauan air minum yang bersih dan aman, yang diikuti oleh kondisi dan praktik sanitasi dan higiene yang baik.

Hal itu ditegaskan oleh pakar ketahanan pangan Universitas HKBP Nommensen (UHN) Dr Ir Erika Pardede MAppSc saat berbicara pada workshop internasional “Pengelolaan Pasokan Air, Sanitasi dan Kebersihan Dikaitkan dengan Ketahanan Gizi untuk Pembangunan Berkelanjutan” di Pokhara, Nepal, baru-baru ini.

Erika Pardede dalam laporan yang dikirimnya ke Humas UHN Medan Jonson Rajagukguk SSos SE MAP, menyoroti teknik penetapan status ketahanan pangan yang tidak melibatkan status ketersediaan air dan praktik higiene dan sanitasi rumah tangga sebagai suatu indikator. Bahkan menurut Erika, ketersediaan dan keterjangkauan air dalam skala rumah tangga haruslah menjadi suatu prasyarat untuk mendapatkan status tahan pangan.

Erika mengungkap kondisi air, higiene dan sanitasi di daerah Sumatera Utara. “Bahkan di daerah-daerah yang berada di kawasan Danau Toba, dimana sumber air melimpah ruah, ketersediaan air minum yang aman dan bersih masih mengalami kendala. Air Danau Toba semakin terpolusi oleh berbagai kegiatan masyarakat termasuk kegiatan perikanan dengan kerambah yang melebihi daya dukung, serta pembuangan limbah rumah tangga, hotel, restoran, industri ke badan air danau tanpa terlebih melalui proses penanganan,” kata lulusan S2 Australia dan S3 Jerman ini.

Untuk itu, kata dosen Fakultas Pertanian UHN ini, program penanganan sumber air minum, higiene dan sanitasi harus menjadi fokus pemerintahan daerah untuk mencapai ketahanan pangan. Program-program tersebut juga akan mendukung program pengembangan daerah kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata internasional.

Workshop yang diikuti oleh 25 peserta yang terpilih dari ratusan pelamar dari negara Asia, difasilitasi oleh German Alumni Water Network (GAWN) dengan supervisi dari tiga orang ahli dari perguruan tinggi di Jerman yakni Dr. Ruger Winegge dari  Universitas Siegen, Dr. Tina Koch dari Universitas Justus-Liebig Giessen serta Prof Johannes Fristch dari Hochschule Ravensburg Weingarten. Workshop menghasilkan rekomendasi berbentuk program intervensi yang penting dilakukan di provinsi Pokhara.

Rekomendasi yang dibuat berdasarkan hasil survei lapangan di daerah Leknath di Pokhara itu menyangkut program intervensi terkait pengaruh pemanasan global, penyediaan air, distribusi air, serta program perubahan perilaku serta penguatan institusi untuk mencapai ketahanan gizi.

“Rekomendasi ini untuk menguatkan sekaligus membuat skala prioritas pemerintahan daerah untuk pencapaian tujuan Agenda Nasional Nepal (2018-2022) melalui pendekatan multi-sektoral untuk ketahanan gizi. Rekomendasi tersebut diserahkan kepada kepala daerah Pokhara-Nepal dan Direktur dari Leknath Small Town Water Supply and Sanitaton Project di acara penutupan workshop di Pokhara,” tegas Erika Pardede. (HAM)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Scattered Thunderstorms

Humidity: 97%

Wind: 4.83 km/h

  • 22 Oct 2018 29°C 23°C
  • 23 Oct 2018 28°C 22°C

Banner 468 x 60 px