Log in

Kasus Pengantin Pesanan, 1 WNI dan 8 Pria Tiongkok Diamankan


Jakarta – andalas Polda Kalimantan Barat (Kalbar) mengamankan seorang wanita warga negara Indonesia (WNI) dan 8 pria warga negara asing (WNA) asal Tiongkok yang diduga terlibat dalam bisnis pengantin pesanan. Wanita tersebut berinisial AS (24), yang diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dari bisnis tersebut.

"Korban AS (24 tahun). WNA yang diamankan adalah WN Tiongkok berinisial TSB (56 tahun) yang berperan sebagai wali nikah," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (24/6).

Sementara 7 pria lainnya berperan sebagai mempelai. "(Pria lainnya) sebagai yang menikah berinisial QBY, BYF, MXB, TX, ZJC, SZJ, LJZ," sambung Dedi.

Dedi menerangkan korban dan 8 pria China diamankan bersamaan dengan seorang pria WNI berinisial AM (54). AM merupakan mak comblang dalam bisnis tersebut.

"Diamankan pada Rabu, 12 Juni 2019 sekira pukul 19.30 WIB, berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa ada orang asing yang tinggal di sebuah rumah di daerah Purnam, Kota Pontianak," tutur Dedi.

AM dijerat pasal tindak pidana perdagangan orang (TPPO). "AM sebagai mak comblang. Yang bersangkutan dijerat pasal TPPO dan ditahan," kata Dedi.
Dedi menjelaskan AM menyediakan rumah untuk para pengantin, baik perempuan WNI maupun pria WN Tiongkok yang menggunakan jasanya. "Dia berperan sebagai pemilik rumah dan penampung para calon pengantin," sambung Dedi.

Sementara itu, pada kesempatan berbeda, Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Donny menuturkan istri AM, VV (46), mengetahui bisnis suaminya. Namun penyidik belum menetapkan VV sebagai tersangka karena belum menemukan unsur pidana pada dirinya.

"Unsur pidananya (VV) belum terpenuhi," ucap Dedi.

Sebelumnya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) menggelar konferensi pers terkait adanya praktek TPPO 29 perempuan WNI yang dijadikan pengantin pesanan di Tiongkok. Data tersebut diperoleh berdasarkan pengaduan korban sepanjang 2016-2019.

"Sebanyak 13 perempuan asal Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dan 16 orang perempuan asal Jawa Barat," ujar Sekjen SBMI Bobi Anwar Maarif di Kantor LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (23/6).

Bobi mengatakan, pada proses perekrutan dan pemindahan, terdapat keterlibatan para perekrut lapangan untuk mencari dan memperkenalkan perempuan kepada laki-laki asal Tiongkok untuk dinikahi. Lalu dibawa ke Tiongkok.

"Cara penipuan digunakan dengan memperkenalkan calon suami sebagai orang kaya dan membujuk para korban untuk menikah dengan iming-iming akan dijamin seluruh kebutuhan hidup dan keluarganya. Keluarga para korban juga diberi sejumlah uang," kata Bobi.

Bobi menuturkan, seorang laki-laki Tiongkok harus menyiapkan uang Rp 400.000.000 untuk memesan pengantin perempuan. Dari uang itu, sebanyak Rp 20.000.000 diberikan kepada keluarga pengantin perempuan dan sisanya diberikan kepada para perekrut lapangan.

"Dengan memanfaatkan posisi rentan korban yang seluruhnya berasal dari keluarga miskin, tidak memiliki pekerjaan, tulang punggung keluarga, beberapa di antaranya merupakan janda dan korban KDRT dari perkawinan sebelumnya, menyebabkan korban dan keluarga menyetujui perkawinan," tuturnya.

Selain itu, ditemukan pemalsuan dokumen perkawinan khususnya pada kasus dua korban yang masih berusia anak pada kasus perkawinan atau kontrak. Menurut Bobi, tujuan dalam kasus perkawinan pesanan ini adalah eksploitasi.

Bobi menambahkan, data pelaporan korban yang dihimpun SBMI memperlihatkan bahwa saat tinggal di tempat asal suami, mereka diharuskan untuk bekerja di pabrik dengan jam kerja panjang.

Kemudian, sepulang kerja mereka diwajibkan mengerjakan pekerjaan rumah dan membuat kerajinan tangan untuk dijual. Seluruh gaji dan hasil penjualan dikuasai oleh suami dan keluarga suami. Para korban pun dilarang untuk berhubungan dengan keluarga.

Bobi mengatakan, mereka diancam harus mengganti kerugian yang sudah dikeluarkan oleh keluarga suami bila ingin kembali ke Indonesia. Eksploitasi juga dilakukan oleh sindikat perekrut yang terorganisir dengan mengambil keuntungan ratusan juta rupiah dari perkawinan pesanan ini.

"Mereka juga kerap dianiaya oleh suami dan keluarga suami dan dipaksa untuk berhubungan seksual oleh suami bahkan ketika sedang sakit," ungkapnya.

Terpisah, Ketua DPR  Bambang Soesatyo meminta kepolisian segera mengusut tuntas temuan LBH Jakarta dan SBMI yang menyebutkan 29 WNI perempuan menjadi korban pengantin pesanan di Tiongkok.

“Mendorong Kepolisian untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut, serta menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan anak, mengingat saat ini baru satu orang pelaku yang tertangkap dan kasus ini berpotensi sudah terorganisasi dengan baik,” ujarnya dalam keterangan pers, Senin (24/6).

Tak hanya itu, mantan Ketua Komisi III DPR ini juga mendorong Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi untuk lebih selektif dalam memberikan paspor dan Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN) kepada masyarakat yang akan menetap atau tinggal dalam jangka waktu lama di luar negeri, guna mencegah terjadinya penipuan atau human trafficking.

“Kami mendorong LBH Jakarta dan SBMI berkoordinasi dengan Kemenlu untuk segera memproses seluruh berkas WNI tersebut serta memberikan bantuan hukum kepada mereka, terutama terhadap 26 WNI yang masih tinggal bersama suaminya di Tiongkok, agar mereka segera dapat dikembalikan ke Indonesia,” terangnya. (DTC/MC/RRIC)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px