Log in

Gempa Lombok, Jumlah Korban Tewas Simpang-siur


Lombok Utara-andalas Data mengenai jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) simpang siur. Baik BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan Pemda yang menangani bencana tersebut menyampaikan versi yang berbeda terkait jumlah korban meninggal dunia.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho pun menampik hal itu. Rencananya, Jumat (9/8) ini jajaran terkait akan melakukan pertemuan untuk penyamaan persepsi dan data.

Menurut Sutopo terjadinya kesimpang-siuran data jumlah korban bencana,  biasa terjadi saat masa tanggap darurat. Hal itu dikarenakan tidak saling melapornya jajaran yang menangani bencana.

Harusnya, kata dia, semua dilaporkan di Posko Pendampingan Nasional (Pospenas). "Pospenas juga baru terbentuk kemarin (7/8) dan belum operasional penuh. Saya sudah minta Kalak BPBD NTB agar menyamakan data. Undang semua dan dibahas. Harus ada data korban (nama, usia, gender, dan alamat)," kata Sutopo dilansir IDN Times, Kamis (9/8).

Lebih lanjut, Sutopo mengatakan bahwa pendataan korban harus valid. Ini karena pemerintah akan memberikan santunan duka cita kepada korban meninggal dunia sebesar Rp15 juta kepada ahli warisnya.

"BNPB dan BPBD NTB sudah meminta Bupati Lombok Utara untuk memberikan lampiran identitas korban meninggal di Kabupaten Lombok Utara akibat gempa bumi 7 SR untuk dilakukan verifikasi," ujarnya.

Menurut BNPB dan BPBD, jumlah korban meninggal dunia sudah sebanyak 259 orang. Sementara data versi TNI lebih banyak lagi yakni 381 meninggal dunia. Lain lagi dengan data versi Pemda Lombok Utara mencatat ada 347 meninggal dunia, sedangkan Gubernur NTB dan Basarnas mengklaim ada 226 meninggal dunia

Di sosial media, beredar pula data jumlah korban meninggal yang lebih banyak. Bahkan hasil pertemuan camat se-Kabupaten Lombok Utara menyebutkan jumlah korban 347 orang meninggal dunia.

"Dalam hal ini Posko BNPB dan Pusdalops BPBD NTB masih melakukan verifikasi kebenaran data tersebut. Harus segera disepakati bersama. Data MD [meninggal dunia] paling sensitif jadi harus sama semua. Dan itu kewenangan BPBD," tegas Sutopo.

Sutopo mengatakan, penanganan darurat dampak gempa 7 SR di wilayah Lombok masih terus dilakukan dengan intensif. Evakuasi korban yang masih diduga tertimbun material bangunan roboh masih dilakukan.

"Pelayanan kebutuhan dasar bagi pengungsi dengan mendistribusikan logistic juga makin diintensifkan ke banyak daerah yang terdampak," katanya.

Dikatakannya, rapat untuk membahas kesamaan data korban dan mekanisme pelaporan telah dilakukan di Posko Utama Kecamatan Tanjung Lombok Utama antara BNPB, TNI, Polri, Basarnas, Kementerian/Lembaga dan Pemda. Disepakati bahwa data resmi adalah dari Posko Utama yang selanjutnya BNPB yang menyampaikan ke luar kepada masyarakat dan media sebagai data resmi.

"Hingga Kamis (9/8) pukul 17.00 WIB (H+4), jumlah korban meninggal dunia akibat gempa 7 SR yang mengguncang NTB dan Bali adalah 259 orang meninggal dunia di mana terdapat di Kabupaten Lombok Utara 212 orang, Lombok Barat 26 orang, Lombok Timur 11, Kota Mataram 6, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Denpasar 2 orang. Jumlah 259 orang meninggal dunia adalah korban yang sudah terverifikasi," jelasnya.

Data ini masih akan terus bertambah mengingat Tim SAR masih menemukan korban di reruntuhan bangunan dan masih diidentifikasi. Diduga korban masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang belum dievakuasi, dan adanya laporan dari aparat daerah yang mengatakan adanya korban meninggal di daerah sebelumnya dan sudah dimakamkan tetapi belum di data dan dilaporkan ke Posko sehingga data korban meninggal dunia akan bertambah.

Sebanyak 1.033 orang luka berat dan masih dirawat inap di rumah sakit dan puskesmas. Pengungsi sebanyak 270.168 orang yang tersebar di banyak tempat. Jumlah pengungsi ini juga sementara karena belum semua pengungsi terdata baik. Kerusakan fisik meliputi 67.857 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak. "Angka ini juga sementara," kata Sutopo.

Sementara itu ribuan personel dikerahkan untuk penanganan dampak gempa. Untuk evakuasi dikerahkan 21 alat berat yang terdiri dari escavator, dozer, dump truck, loader, trailer, dan mobile crane. Alat berat akan terus ditambah dari wilayah sekitar dan pihak swasta. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, ESDM dan relawan melanjutkan proses pencarian korban.

Di Masjid Jabbal Nur Dusun Lading-Lading Desa Tanjung Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara, Tim SAR masih melaukan pencarian dengan alat berat adanya gempa 6,2 SR pada Kamis siang menyebabkan tanah sekitar masjid retak, menara bergeser sehingga membahayakan tim SAR.

Gempa Susulan
Adanya gempa susulan 6,2 SR dengan pusat gempa 6 km  barat laut Lombok Utara, kedalaman 12 km dengan pusat gempa di darat di Kabupaten Lombok Utara pada (9/8) pukul 12.25 WIB menyebabkan masyarakat makin trauma.

"Gempa dirasakan keras menyebabkan beberapa bangunan rusak. Tercatat 24 orang luka-luka tertimpa bangunan roboh akibat gempa 6,2 SR. Gempa susualan dari gempa utama 7 SR hingga saat ini sebanyak 362 kali gempa, di mana 18 kali gempa dirasakan," ujar Sutopo mengakhiri. (IDNT/YN)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 100%

Wind: 4.83 km/h

  • 23 Oct 2018 27°C 22°C
  • 24 Oct 2018 26°C 22°C

Banner 468 x 60 px