Log in

Wiranto Bersyukur Mualem Tutup Buku Soal Isu Referendum


Jakarta – andalas Eks Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Muzakir Manaf mengklarifikasi bahwa ajakannya kepada warga Aceh untuk referendum dilakukan secara spontan. Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM Wiranto bersyukur dan mengapresiasi klarifikasi yang disampaikan Muzakir.

"Saya kira sesuatu pernyataan yang baik yang kita sambut dengan rasa syukur, dan mudah-mudahan itu permanen dan akan tetap berlaku kapan saja," ujar Wiranto di Kemenko Pulhukam, Jl Merdeka Barat, Jakarta Selatan, Kamis (13/6).

Wiranto menegaskan bahwa referendum sudah tidak termasuk dalam khasanah hukum Indonesia. Dengan demikian, sebut dia, tidak lagi relevan apabila referendum menjadi tuntutan politik.

"Waktu itu saya katakan bahwa referendum itu dalam khasanah hukum indonesia sudah tidak ada, TAP MPR-nya sudah dicabut, UU sudah dicabut, sehingga tidak relevan dengan tuntutan politik saat ini," kata Wiranto.

Sementara itu, tokoh Sentral Referendum Aceh (SIRA), Muhammad Nazar, sangat menghargai pernyataan dan klarifikasi Ketua Umum Partai Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA), Muzakkir Manaf yang tersebar luas dalam bentuk rekaman video di YouTube prihal permintaan referendum.

"Bagus dan sangat jelas penjelasannya. Dari awal sejak ada MoU Helsinki, Muzakkir Manaf sudah sering menyebut NKRI dalam pernyataan resminya. Bahkan PA sendiri berafiliasi dengan Partai Gerindra yang dikenal sangat nasionalis serta Pancasilais yang ingin mempertahankan Indonesia hingga titik darah penghabisan," jelas Muhammad Nazar di Jakarta, Rabu (12/6).

Dalam video klarifikasinya, Muzakir Manaf menjelaskan bahwa dirinya menyebut kata referendum dalam acara haul Wali Nanggroe almarhum Tgk Hasan di Tiro secara spontan saja. Dirinya juga menyadari rakyat Aceh memang pro NKRI dan ingin maju dalam NKRI. Terkait klarifikasi itu, Nazar menyebut bahwa ia sangat menghargainya.

Lebih jauh Nazar menambahkan dirinya tidak mau gegabah membangkitkan kembali isu referendum dan merdeka di Aceh. Sebab dikuatirkan kedua kosa itu  -- referendum dan merdeka --  dapat menekan atau menciptakan pengaruh besar yang selalu dikendarai pihak lain atau disusupi musuh.

Termasuk sewaktu Muzakir Manaf mengungkapkan kembali kata Referendum, menurut Nazar, ada indikasi hendak dijadikan kuda politik dalam urusan Pilpres secara nasional.

"Maka saya tidak setuju itu. Siapapun yang menang dan kalah, ya.. itu bukan urusan perjuangan referendum, itu urusan pilpres biasa. Tidak puas.. ya.. bawa ke MK, jangan bawa urusan Pilpres untuk menggiring konflik ke Aceh. Pilpres itu urusan nasional Indonesia, ada KPU, ada MK yang menanganinya," ujar Muhammad Nazar.

“Ya tidak mau, saya mengorbankan Aceh. Maka saya mengkritisi sebagai advis dan ibadah sosial saya untuk Aceh, sekaligus agar mualem juga punya masukan beda dari saya untuk dia pertimbangkan, sehingga Aceh tidak tergiring dalam pusaran potensi konflik baru,” ungkap Nazar.

Sebelumnya, eks Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Muzakir Manaf mengklarifikasi soal ajakan referendum bagi rakyat Aceh dan mengaku ajakan mengikuti jejak Timor Timur dilakukannya secara spontan. Memastikan rakyat Aceh pro Negara Republik Indonesia (NKRI), Muzakir juga mengungkit soal isi perjanjian Helsinki.

Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, mengatakan bahwa statementnya terkait referendum Aceh diucapkan secara spontan. Dia mengucapkan usul referendrum Aceh itu di acara haul Teungku Hasan Muhammad Ditiro sekaligus buka puasa bersama di Banda Aceh, Senin (27/5/2019).

"Saya lakukan hal tersebut secara spontan kebetulan pada event peringatan haul meninggalnya Teungku Hasan Muhammad Ditiro (Wali Nanggroe Aceh)," kata Muzakir dalam video yang diunggah, Rabu (12/6).

Muzakir terlihat berbicara di depan kamera sambil berdiri. Dalam video berdurasi 1 menit 16 detik itu, pria yang akrab disapa Mualem ini memperkenalkan diri sebagai Ketua Partai Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA).

KPA sendiri adalah organisasi tempat bernaungnya mantan kombatan GAM pasca-perdamaian MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Dalam video tersebut, Mualem juga mengungkapkan empat poin.

"Saya menyadari rakyat Aceh saat ini cinta damai dan pro-NKRI," jelasnya.

Dia juga berharap butir-butir perjanjian perdamaian Helsinki yang diteken antara GAM dan pemerintah Indonesia yang belum sesuai dituntaskan ke depan. Selain itu, Mualem berharap Aceh lebih maju.

"Saya berharap Aceh ke depan harus lebih maju, membangun provinsi Aceh dalam bingkai NKRI," bebernya.

"Hal-hal lain yang menurut saya belum sesuai pasca-MoU Helsinki akan saya buat, sendiri guna menuntaskan semua butir-butir MoU Helsinki ke depan," imbuhnya. (DTC/SNC)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px