Log in

Wiranto: 1.648 Jenazah Sudah Dimakamkan


Ratusan Korban Masih Hilang dan Tertimbun

Jakarta-andalas Jumlah korban jiwa pascagempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan sekitarnya, jumlah korban jiwa terhitung banyak sekali. Secara bertahap tim SAR gabungan mulai melakukan proses penguburan jenazah.

Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan sampai H+7 setelah gempa bumi, total 1.648 jenazah dari Palu, Donggala, dan Sigi sudah dimakamkan massal. Sementara untuk korban hilang diperkirakan masih lebih dari 500 jiwa.

"Jadi, 1.648 itu yang dimakamkan, yang masih hilang 563 dan yang tertimbun ini ada 162 jiwa. Nah, yang tertimbun ini kan perlu digali, perlu diidentifikasi dulu," ujar Wiranto di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (5/10).

Keputusan melakukan pemakaman massal ini diambil demi menghindari menumpuknya jenazah, yang bisa memicu timbulnya penyakit. Sehingga pemakaman korban harus dilakukan secara cepat.

"Tapi kita sudah memerintahkan jangan ada mayat yang disimpan lagi, nanti bisa timbulkan penyakit. Juga banyak jenazah yang tidak ditanam di kuburan massal, karena diminta keluarganya," imbuh Wiranto.

Lebih jauh mantan Panglima TNI itu memastikan proses evakuasi akan terus dilakukan. Belum ada keputusan bersama kapan pencarian korban akan dihentikan.

"Sekarang masih dilaksanakan pencarian, tapi nggak mungkin semuanya (korban) ditemukan," pungkasnya.

Sementara itu korban gempa disertai lumpur yang tidak sempat menyelamatkan diri di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, mulai membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap.

Rescuer Basarnas RI Chandra, di Petobo, Jumat, mengemukakan salah satu kendala dari sekian banyak kendala dalam pencarian korban yakni korban mulai membusuk dan berbau.

"Ada korban yang anggota tubuhnya utuh, namun ketika hendak di evakuasi, diangkat atau di tarik keluar dari lumpur dan puing bangunan, anggota tumbuhnya muda terpisah atau terlepas dari badan," ucap Chandra.

Pencarian korban memasuki hari ke tujuh, kata dia, korban mulai membahayakan bagi Tim SAR. Karena korban suda mulai membusuk dan menyebarkan bakteri.

Sementara luas area pencarian yang baru dapat di jangkau oleh Tim SAR kurang lebih sekitar 30 persen, dari luas total area pencarian sekitar 2 kilo meter persegi.

Kelurahan Petobo menjadi wilayah terparah di hantam gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter disertai lumpur hitam pada Jumat 28 September 2018.

Lurah Kelurahan Petobo Masrun yang di hubungi Antara pada Kamis malam mengatakan Kelurahan Petobo dihuni sekitar 13.000 lebih jiwa yang terdata.

Saat ini, urai Masrun, yang diketahui kabarnya kurang lebih sekitar 3.000 jiwa. "Data ini akan terus bergerak bertambah, pendataan terus di lakukan," ujar Masrun. Sedangkan yang belum di ketahui kabarnya ribuan jiwa.

Masrun mengaku bahwa saat ini masyarakatnya mengalami trauma berat. Karena itu, tidak ada rencana dan langkah untuk mobilisir masyarakat melakukan pencarian korban secara massal.

Hanya ada beberapa warga yang turun dari lokasi pengungsian ke lokasi permukiman yang dihantam gempa dan longsor untuk melakukan pencarian keluarga mereka secara manual.

Warga Kelurahan Petobo tersebar di beberapa lokasi pengungsian yaitu pelataran Bandar Udara Mutiara Sis Aljufri, Desa Loru, Dusun Ranoropa Desa Loru, Desa Pombewe, Desa Mpanau Biromaru, Desa Ngatabaru (Kapopo) dan Kelurahan Kawatuna.

Warga membutuhkan bantuan pakaian, makanan, air bersih, minuman, pembalut (untuk perempuan), pakaian anak kecil, pempers, perlengkapan bayi, perlengkapan ibu hamil, obat-obatan. (JPC/ANT)

21°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 98%

Wind: 8.05 km/h

  • 20 Oct 2018 30°C 21°C
  • 21 Oct 2018 28°C 22°C

Banner 468 x 60 px