Log in

Rupiah Tembus 14.900 per Dolar AS


Darmin: Jangan Bandingkan dengan Krismon 1998

Jakarta-andalas Nilai tukar rupiah masih merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (4/9) sore. Rupiah tembus 14.900 per dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, Selasa sore (4/9), rupiah berada di kisaran 14.935 per dolar AS. Sepanjang Selasa pekan ini, rupiah bergerak di kisaran 14.780-14.938 per dolar AS. Rupiah pun sudah melemah 10,18 persen sejak awal 2018.

Berdasarkan kurs referensi, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah melemah 73 poin dari posisi 14.767 per dolar AS pada 3 September 2018 menjadi 14.840 per dolar AS pada 4 September 2018.

Dolar AS perkasa tak hanya terhadap rupiah pada Selasa pekan ini. Berdasarkan data RTI, dolar AS perkasa terhadap ringgit Malaysia sekitar 0,37 persen. Kemudian dolar AS menguat terhadap peso Filipina sebesar 0,04 persen.

Selain itu, dolar AS menguat terhadap yen sebesar 0,28 persen. Terhadap dolar Singapura, dolar AS menguat 0,37 persen. Kemudian dolar AS menguat terhadap baht Thailand sebesar 0,37 persen. Dolar AS menguat terhadap rupee India sebesar 0,44 persen.

Analis PT Binaartha Securities, Nafan Aji menuturkan, secara eksternal, minimnya sentimen positif dari domestik serta meningkatnya sentimen negatif dari eksternal antara lain perang dagang antara AS dengan China, krisis keuangan Turki, Venezuela, dan Argentina.

Selain itu ada sentimen kenaikan suku bunga the Federal Reserve pada September sebabkan rupiah melemah.

"Secara internal, melebarnya current account defisit sebesar 3,04 persen dari produk domestik bruto (PDB) turut memberikan sentimen negatif bagi pelemahan rupiah," ujar Nafan.

Jangan Samakan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meminta masyarakat untuk tidak membandingkan nilai tukar rupiah saat ini dengan saat krisis 1998. Sebab, kondisinya sangat jauh berbeda.

Darmin mengatakan, meski nilai tukar rupiah sama-sama tembus Rp14 ribu, posisi awal rupiah jauh berbeda. Pada 1998, rupiah tembus Rp14 ribu setelah sebelumnya berada di posisi Rp2.800 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Gini deh, jangan dibandingkan Rp14 ribu sekarang dengan 20 tahun lalu. Pada 20 tahun lalu berangkatnya dari Rp2.800 ke Rp14 ribu. Sekarang dari Rp13 ribu ke Rp14 ribu. Tahun 2014, dari Rp12 ribu ke Rp14 ribu. Maksud saya, cara membandingkan juga, ya dijelaskan-lah. Enggak sama kenaikan dari Rp13 ribu ke Rp14 ribu sekian dengan dari Rp2.800," ujar dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/9).

Dia mengaku heran dengan pihak-pihak tertentu yang selalu membanding-bandingkan nilai tukar rupiah saat ini dengan saat krisis.

"Saya heran itu ada artikel di salah satu pers internasional yang membandingkan itu tembus angka terendah 1998-1999. Eh, persoalan tahun 1998 itu enam kali lipat itu," kata dia.

Darmin menyatakan, saat ini kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan pada 1998. Meski saat ini salah satu kelemahan yang dialami Indonesia, yaitu soal transaksi berjalan yang defisit.

"Kita fundamental ekonomi masih oke. Kelemahan kita hanya transaksi berjalan yang defisit, berapa? 3 persen. Lebih kecil dari 2014, yaitu 4,2 persen. Masih lebih kecil dari Brasil, Turki, Argentina, itu-lah. Betul, kita lebih kecil. Coba yang lain, inflasi. Di Argentina berapa? Sekarang 30 persenan, setahun yang lalu 60. Kita gimana? Malah deflasi. Pertumbuhan, oke kita 5 koma persen," jelas dia.

Oleh sebab itu, jika dilihat dari sisi mana pun, kata dia, kondisi ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan 1998.

"Dilihat dari sudut mana pun. Meski pun kita ada defisit transaksi berjalan, ini bukan penyakit baru. Dari 40 tahun yang lalu transaksi berjalan ini defisit. Memang ini agak besar, tapi enggak setinggi 2014, tahun 1994-1995, tidak setinggi 1984. Tolong membacanya, membandingkannya yang fair," tandas dia.

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin pekan ini. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah telah melemah lebih dari 9 persen.

Mengutip Bloomberg, Selasa (4/9), rupiah dibuka di angka 14.822 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka 14.815 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari, rupiah bergerak di kisaran 14.780 hingga 14.845 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah telah melemah 9,04 persen.

Adapun berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.840 per dolar AS, melemah tinggi jika dibandingkan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 14.767 per dolar AS.

Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed menjelaskan, rupiah merosot ke level terendah terhadap dolar sejak krisis keuangan Asia 1998 di tengah ketegangan dagang yang memburuk.

"Aksi jual lira Turki dan peso Argentina juga sangat berperan pada depresiasi drastis rupiah," dia menjelaskan.

Gejolak di Turki dan Argentina memicu ketidakpastian, sehingga mata uang pasar berkembang dapat semakin melemah.

Walaupun Bank Indonesia menyatakan telah mengintervensi pasar valuta asing (valas) dan pasar obligasi, tekanan eksternal dalam bentuk ekspektasi kenaikan suku bunga AS dapat terus memperburuk situasi bagi rupiah.

BI mungkin terpaksa menaikkan suku bunga lagi guna berusaha menanggulangi depresiasi rupiah. "Kenaikan suku bunga mungkin dapat membantu rupiah, tapi juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata dia. (LIP6)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 4.83 km/h

  • 14 Nov 2018 27°C 22°C
  • 15 Nov 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px