Log in

Waspadai Orang Gila

Petugas gabungan dari kepolisian dan dinas sosial di Kota Medan mengamankan seorang pria yang diduga mengalami gangguan jiwa, saat menggelar razia terhadap gelandangan dan pengemis di Kota Medan, Selasa (20/2). andalas|maguslim Petugas gabungan dari kepolisian dan dinas sosial di Kota Medan mengamankan seorang pria yang diduga mengalami gangguan jiwa, saat menggelar razia terhadap gelandangan dan pengemis di Kota Medan, Selasa (20/2). andalas|maguslim

Marak Kasus Penyerangan Pemuka Agama

Jakarta-andalas Maraknya kasus penyerangan yang dilakukan terhadap pemuka agama dan rumah ibadah dalam kurun waktu dua bulan terakhir, yang sebagian pelakunya disebut-sebut sebagai orang gila, memunculkan kecurigaan bahwa aksi-aksi penyerangan itu terorganisir dan bertujuan untuk mengadu-domba sesama anak bangsa.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengatakan polisi harus fokus terhadap penanganan kasus 21 penyerangan terhadap pemuka agama sehingga tidak terkecoh dengan isu pelaku sebagai orang gila.

"Mau korbannya ulama, pendeta, siapa saja, pokoknya disikat saja pelakunya itu. Tidak usah percaya dia ngaku sakit, gila. Pokoknya tangkap dulu, diproses," kata Jimly di Kantor ICMI, Menteng, Jakarta, Pusat, Rabu (21/2).

Dengan kata lain, Jimly meminta kepolisian untuk menindak tegas pelaku, baru mengusut tuntas motif kekerasan yang dilakukan terhadap siapapun pemuka agama di Indonesia. Kepolisian, kata dia, agar cepat memproses hukum oknum penyerangan terhadap pemuka agama meski pelaku terkesan dianggap menderita sakit jiwa.

Masyarakat, lanjut dia, akan menilai tindakan kepolisian. Jika cepat penangananya maka akan dinilai berpihak pada kebenaran, bukan pada kelompok tertentu saja. Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu, terdapat dugaan penyerangan terhadap pemuka agama sebagai tindakan terorganisir. Kendati begitu, masyarakat agar tidak membuat kesimpulan terlalu cepat karena justru akan menimbulkan prasangka-prasangka yang bisa memecah belah persatuan.

"Agar semua tokoh masyarakat jangan gegabah, grusa grusu, terpancing. Pengurus masjid, gereja, rumah ibadah jangan grusa grusu. Ini diproses saja secara normal. Sikap profesional penegak hukum yang tegas harus diambil karena ini serius," kata dia.

ICMI juga meminta aparat penegak hukum tak menyepelekan adanya tanda misterius di rumah ibadah dan pemuka agama seperti beberapa waktu lalu.

"Aparat tak boleh anggap sepele, harus serius meneliti bagimana latar belakang sebab untuk mencegah terjadinya yang tak diharapkan," kata Jimly.

Ia menegaskan, adanya simbol-simbol tertentu di rumah ibadah harus mendapat tindakan cepat dari aparat keamanan. Badan Intelijen Negara (BIN) juga harus aktif melakukan tindakan preventif. "Kita harus bisa cegah. Bisa saja itu adu domba sehingga harus dicopot segera," ujar dia.

Menurut Jimly, bisa saja tanda tersebut berkembang ke rumah ibadah pemeluk agama lain. Sehingga, ia mengimbau pengurus rumah ibadah segera menghapus tanda tersebut. Ia beranggapan, pengurus rumah ibadah tak perlu memperbesar temuan itu. Tak ditutup kemungkinan, hal itu hanya permainan sesaat pihak tak bertanggung jawab. Namun, ia meminta kepolisian tetap mengusut tuntas kasus tersebut.

Jimly berharap tahun politik tak membuat masyarakat Indonesia terpecah belah. Ia mengatakan, ICMI mengimbau tim sukses pasangan calon kepala daerah mendukung jagoannya secara proporsional dan sesuai aturan. "Sebab, pas dia sudah kepilih, dia akan lupa sama Anda. Sehingga, tak usah emosional memberi dukungan," tutur Jimly.

Rekayasa Sistematis

Terpisah, hal senada disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin yang meminta penyelidikan kasus kekerasan terhadap ulama, tokoh agama, dan rumah ibadah di beberapa tempat segera diselesaikan.

"Kami minta segera diselesaikan. Karena korbannya ulama, kasus itu mudah menyulut kemarahan umat," kata Din seusai Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI di Jakarta, Rabu.

Din khawatir bila kasus tersebut tidak segera diselesaikan bisa menimbulkan reaksi umat Islam yang tidak proporsional serta saling tuding antara umat agama satu dengan yang lain.

Din mengatakan rentetan kekerasan yang menimpa ulama, tokoh agama dan tempat ibadah pada akhirnya memunculkan persepsi di masyarakat bahwa kasus tersebut tidak berdiri sendiri. Pendapat resmi MUI sebagai institusi juga menyimpulkan kasus kekerasan terhadap ulama merupakan bagian dari rekayasa sistematis.

"Saya sebagai ketua dewan pertimbangan juga menyampaikan hal yang sama. Logika kami mungkin salah. Namun, logika kami menyimpulkan ada rekayasa dan rekayasa yang canggih itu membuat kasus-kasus itu seolah-olah berdiri sendiri," tuturnya.

Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI menghadirkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius dan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto. Din mengatakan para anggota Dewan Pertimbangan MUI bisa menerima penjelasan dari BNPT dan Bareskrim Polri meskipun tentu ada beberapa hal yang belum memuaskan.

"Kepala BNPT dan Kabareskrim menjelaskan tidak ada niat yang tidak baik yang mengarah pada kebencian terhadap umat Islam," katanya.

Sementara itu, Kabareskrim Polri Ari Dono mengatakan dari Desember 2017 hingga Februari 2018 terdapat 21 kejadian kekerasan yang berkaitan dengan tokoh agama dan rumah ibadah.

"Tidak semua dilakukan oleh orang gila. Ada juga karena keramaian di media sosial, orang menjadi paranoid. Jangan menganalisis dari media sosial, tetapi berdasarkan fakta supaya ketemu," katanya.

Sementara itu Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Polisi Syafruddin menegaskan, bahwa pihaknya akan mengusut tuntas teror bernuansa agama yang terjadi di sejumlah daerah beberapa hari terakhir ini. Polisi tidak akan berhenti hanya pada penangkapan pelaku yang identik dengan orang gila. Dalangnya juga akan diusut.

"Jangan berhenti setelah menangkap terus pelakunya dibilang gila, tapi harus diusut dan ditangani secara terbuka sampai masyarakat mengerti secara rasional," kata Komjen Syafruddin saat silaturahmi dengan ulama di Masjid Arif Nurul Huda Polda Jatim, Surabaya pada Rabu (21/2).

Wakapolri menjelaskan, rentetan peristiwa yang menyasar pemuka agama dan tempat ibadah lebih banyak hasil kelola isunya daripada kejadiannya. Dia memberi contoh di Jawa Barat. "Di Jawa Barat, dari informasi 13 kejadian (penyerangan), yang benar-benar terjadi hanya dua, lainnya hoax (informasi palsu)," ujarnya menerangkan.

Sekarang isu mudah dikelola. Peralatan teknologi informasi sudah canggih karenanya mudah dimainkan. Konflik tak berkesudahan di Timur Tengah, kata Syafruddin, juga diawali oleh isu yang dikelola. 

"Di Tunisia, negara kacau balau karena satu orang yang bakar diri di depan istana. Lalu isu dikelola, demo besar-besaran terjadi. Merambat ke mana-mana dan kita mengenal itu dengan Arab Spring," ucapnya.

Indonesia, papar Syafruddin, besar dari banyak sisi. Jumlah penduduknya empat besar di dunia, jumlah umat Islam terbesar di dunia tetapi tetap mampu menjaga keberagaman, dan Indonesia penting secara ekonomi. "Indonesia bisa dikagumi oleh negara lain, tapi sebaliknya juga bisa dicemburui," ujarnya menambahkan.

Atas alasan itu, Syafruddin mengajak semua elemen masyarakat, khususnya para ulama, agar membantu pemerintah dan Polri untuk bersama-sama menjaga kondusifitas sosial.

"Tidak ada alasan lain bagi kita untuk tidak memakmurkan negeri ini."

Selain Wakapolri, hadir dalam silaturahim ini Kepala Polda Jatim Inspektur Jenderal Polisi Machfud Arifin; Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Miftachul Akhyar, dan sejumlah ulama dan habib serta kepala kepolisian resor se-Jatim.

Seperti diketahui, setidaknya ada empat serangan terhadap ulama dan ustaz yang terkonfirmasi dalam tiga pekan terakhir ini. Serangan pertama menimpa Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1).

Serangan kedua terjadi pada 1 Februari 2018 dengan korban Ustaz Prawoto, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis). Prawoto meninggal dunia oleh serangan yang dilakukan oknum tetangga yang diduga alami gangguan kejiwaan.

Kemudian ada serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut oleh enam orang tak dikenal. Ada juga seorang pria yang bermasalah dengan kejiwaannya bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal Kota Bandung mengacung-acungkan pisau.

Dan pada Ahad (11/2), pendeta dan jemaat Gereja Santa Lidwina, Kabupaten Sleman, DIY, diserang. Empat jemaat luka-luka dan pendeta yang memimpin ibadah pun terluka akibat serangan menggunakan pedang.

Terakhir, penyerangan kembali dilakukan terhadap KH Halam Mubarok di Lamongan, Jawa Timur. Seluruh pelaku penyerangan terhadap pemuka agama tersebut ditengarai mengalami gangguan jiwa. (G/ANT/VN/REP)

28°C

Medan, Sumatera Utara

Thunderstorms

Humidity: 80%

Wind: 8.05 km/h

  • 18 Dec 2018 28°C 23°C
  • 19 Dec 2018 29°C 22°C

Banner 468 x 60 px