Log in

Umar Bawa Kabur Uang OTT KPK


Jakarta-andalas Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah membawa pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi (BKA) Effendy Sahputra alias Asiong ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

Warga Aek Paing, Kecamatan Rantau Utara, Labuhan Batu itu  merupakan tersangka pemberi suap senilai Rp576 juta yang merupakan bagian dari Rp3 miliar permintaan Bupati Labuhan Batu Pangonal Harahap.

"Tadi sudah dibawa satu orang pihak yang diduga sebagai pemberi yaitu tersangka ES (Effendy Sahputra). Pemeriksaan masih berlangsung. Nanti kami akan informasikan lagi tindakan lebih lanjut yang dilakukan penyidik, kalau dilakukan penahanan nanti kami sampaikan," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Kamis (19/7).

Namun, saat ini KPK masih mencari Umar Ritonga, orang kepercayaan Bupati Labuhan Batu Pangonal Harahap yang melarikan diri saat akan diamankan tim KPK pada Operasi Tangkap Tangan (OTT) Selasa, 17 Juli 2018.

"Sedangkan untuk satu tersangka lain yang kemarin melarikan diri masih dalam pengejaran tim KPK. Masih ditelusuri lebih lanjut posisi dan keberadaan dari UMR (Umar Ritonga). Kami juga mengajak masyarakat bila menemukan pihak-pihak tersebut silakan informasikan kepada KPK," tambah Febri.

Hingga sekarang, tim masih mencoba melakukan proses pencarian dari informasi-informasi yang sudah didapatkan. "Nanti tidak tertutup kemungkinan kita akan menerbitkan DPO tapi saya kira saat ini kami masih melakukan proses pencarian terlebih dahulu," tambah Febri.

Pada operasi senyap di Kabupaten Labuhan Batu, tim penindakan KPK tak berhasil mengamankan barang bukti uang sebesar Rp500 juta. Uang tersebut dibawa kabur oleh Umar Ritonga.

"UMR (Umar Ritonga) orang kepercayaan bupati melarikan diri saat akan diamankan tim KPK," ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam konferensi pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu malam (18/7).

Selain melarikan diri saat akan ditangkap, Umar Ritonga sempat menabrak tim penindakan KPK. Saat itu Umar baru saja keluar dari sebuah bank untuk mengambil uang suap tersebut.

"Di luar bank, tim mengadang mobil UMR dan memperlihatkan tanda pengenal KPK. UMR melakukan perlawanan dan hampir menabrak pegawai KPK yang sedang bertugas saat itu," kata Saut.

Umar sebelumnya mengambil uang sebesar Rp576 juta yang dititipkan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumatera Utara oleh Effendy Sahputera yang akan diberikan kepada Bupati Pangonal.

Saat mengeluarkan cek sebesar Rp576 juta, Effendy menghubungi pegawai BPD Sumut untuk mencairkan cek tersebut dan mengatakan kepada pegawai BPD Sumut bahwa nantinya uang itu akan diambil oleh Umar.

Pada Selasa 17 Juli 2018 sore Umar mendatangi BPD Sumut dan bertemu orang kepercayaan Effendy berisial AT. AT sebelumnya mencairkan cek senilai Rp576 juta. Dari uang tersebut, AT mengambil Rp16 juta untuk dirinya sendiri serta Rp61 juta ditransfer ke Effendy.

Kemudian, sisanya yakni Rp500 juta disimpan dalam tas kresek dan dititipkan kepada petugas bank. Pukul 18.15 WIB di hari yang sama, Umar datang ke bank dan mengambil uang tersebut pada petugas bank.

Pada saat itulah tim penindakan KPK hendak menangkap Umar namun tak berhasil. "Saat itu kondisi hujan dan sempat terjadi kejar-kejaran antara mobil tim KPK dan UMR (Umar)," kata Saut.

KPK menduga Bupati Labuhan Batu Pangonal Harahap menerima Rp576 juta yang merupakan bagian dari pemenuhan dari permintaan bupati sekitar Rp3 miliar dari pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi Effendy Sahputra terkait proyek-proyek di lingkungan Kabupaten Labuhan Batu, Sumut TA 2018.

Sebelumnya sekitar bulan Juli 2018 diduga telah terjadi penyerahan cek sebesar Rp1,5 miliar, namun tidak berhasil dicairkan. Diduga uang sebesar Rp500 juta diberikan Effendy melalui Umar Ritonga dan seseorang berinisial AT kepada Pangonal yang bersumber dari pencairan dana pembayaran proyek pembangunan RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu senilai Rp23 miliar.

Dalam kasus ini juga terungkap kode ini merupakan kombinasi angka dan huruf yang jika dilihat secara kasatmata tidak akan terbaca sebagai daftar jatah dan "fee" proyek di Labuhan Batu. Pihak penerima dan pemberi tidak berada di tempat saat uang berpindah.

Sementara itu Effendy Syahputra alias Asiong tiba di Gedung KPK sekitar pukul 15.52 WIB. Effendy yang tiba dengan mengenakan baju bermotif garis-garis enggan memberikan keterangan kepada wartawan.

Ia memilih bungkam dan terus berjalan masuk ke dalam Gedung KPK sambil menyeret satu tas koper warna silper, untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka.

Penyidik sebelumnya sudah menahan Bupati Labuhan Batu Pangonal Harahap. Penahanan itu dilakukan penyidik KPK usai Pangonal menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka di hadapan penyidik KPK.

Pangonal ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan Effendy Sahputra dan orang kepercayaan Pangonal, Umar Ritonga. Dalam kasus ini, Pangonal dan Umar diduga menerima suap sebesar ratusan juta rupiah dari Effendy.

KPK menduga uang tersebut bagian dari commitment fee sebesar Rp3 miliar yang diminta Pangonal kepada Effendy. Suap itu diduga terkait proyek pembangunan infrastruktur pada Dinas PUPR Kabupaten Labuhan Batu.

Sebagai penerima suap, Pangonal dan Umar dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sementara Effendy selaku pemberi suap, dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Jadi Sorotan

Sosok Effendy Syahputra alias Asiong BKA mendadak tenar. Warga Aek Paing Kecamatan Rantau Utara, Labuhan Batu ini menjadi bahan gunjingan masyarakat Labuhan Batu. Dia jadi sorotan media pasca-operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Bupati Labuhan Batu Pangonal Harahap, Selasa (17/7).

Asiong terungkap sebagai otak pelaku penyuap Pangonal terkait proyek-proyek di lingkungan Kabupaten Labuhan Batu tahun anggaran 2018. Tak sedikit dana yang sediakan. Asiong mengeluarkan cek senilai Rp576 juta.

Selain Bupati Labuhan Batu dan ajudannya yang diamankan KPK RI di Bandara Soekarno Hatta, sebanyak empat orang lainnya turut diamankan di Labuhan Batu. Keempatnya adalah Asiong dan rekannya H Thamrin Ritonga, Khairu Pakhri sebagai Kepala Dinas PUPR Kabupaten Labuhan Batu, serta pegawai BPD Sumut berinisial H.

"Secara keseluruhan, KPK mengamankan total 6 orang di Bandara Soekarno-Hatta dan Kabupaten Labuhan Batu, 2 orang diamankan di bandara dan 4 orang diamankan di Labuhan Batu," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam konferensi pers di Gedung KPK Jakarta, Rabu malam (18/7).

Asiong adalah selaku pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi (BKA). Perusahaan ini bergerak di bidang usaha pemecah batu (stone crusher) untuk pengolahan aspal hotmix.

Dia menapak bisnis di dunia kontruksi sejak beberapa tahun belakangan. Di masa kepemimpinan Bupati Labuhan Batu sebelumnya, Asiong dipercaya melakukan pengerjaan pengerasan badan jalan Sungai Rakyat, Panai Hilir,  Labuhan Batu.

Bermodal keahlian itu, Asiong yang merupakan Bendahara Partai Hanura Labuhan Batu membuka bisnis-bisnis usaha galian C dan sewa alat-alat berat, khususnya becho. Asiong juga memiliki banyak anak perusahaan di bidang konstruksi.

Masa kepemimpinan Bupati Labuhan Batu Pangonal Harahap di periode 2016-2021, Asiong "melangit." Bisnisnya semakin jaya. Dan mengorbit dengan sejumlah keuntungan usaha proyek.

Informasi yang dirangkum, diantara proyek yang pernah dikerjakannya pada TA 2017 lalu, proyek Pembangunan Gedung Serba Guna Jalan Sena Kelurahan Padang Matinggi, Rantau Utara. Proyek  yang dikerjakan PT MCC ini menelan dana APBD Labuhan Batu TA 2017 sebesar Rp3,991 miliar.

Kemudian, proyek Pembangunan Gedung C (IGD, IRNA & Rehabilitasi Medik) di komplek RSUD Rantauprapat. Proyek yang dikerjakan PT PB ini mempergunakan dana APBD & APBN/DAK 2017 senilai Rp12,833 miliar.

Selanjutnya, proyek Pembangunan Gedung F (Gedung pelayanan intensive) di komplek RSUD Rantauprapat. Proyek yang dikerjakan PT PB ini mempergunakan dana DAK 2017 senilai Rp13,074 miliar.

Dan, proyek Pembangunan Gedung Kantor Bupati (Gedung B) di jalan Sisingamangaraja, Rantauprapat. Proyek yang dikerjakan PT APS ini mempergunakan dana APBD Labuhan Batu TA 2017 sebesar Rp6,482 miliar. (G/ANT/KMP/MBD)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Mostly Cloudy

Humidity: 93%

Wind: 6.44 km/h

  • 16 Aug 2018 30°C 23°C
  • 17 Aug 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px