Log in

Tuntut Tol Medan - Berastagi, Warga Karo Demo di Depan Istana

Puluhan massa dari Kabupaten Karo menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (14/8). Mereka menuntut pembangunan tol Medan – Berastagi guna mengatasi kemacetak yang makin parah. Puluhan massa dari Kabupaten Karo menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (14/8). Mereka menuntut pembangunan tol Medan – Berastagi guna mengatasi kemacetak yang makin parah.

Jakarta-andalas Merasa daerahnya “dianaktirikan” dalam pembangunan berskala nasional oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), puluhan massa yang mengatasnamakan dirinya “Jambur Pergerakan Sienterem” menggelar aksi demo di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (14/8).  Para pendemo khusus datang dari Kabupaten Karo.

Tokoh masyarakat Karo, Sudarto Sitepu didampingi aktivis perjuangan masyarakat Karo, Julianus Sembiring dan Yoki Pranata Sinulingqa dalam aksi itu menyampaikan, betapa kecewanya masyarakat Kabupaten Karo mendengar jawaban Menteri PUPR Basuki Hadimuljono melalui Staf Ahli Bidang Keterpaduan Pembangunan Kementerian PUPR  Achmad Gani Ghazali Akman yang mengatakan pembangunan tol Medan – Berastagi belum bisa dilaksanakan.

Sudarto Sitepu yang juga mantan anggota DPRD Karo, menegaskan, masyarakat Karo meminta kepada Presiden Jokowi untuk mendengar tangisan dan jeritan masyarakat Kabupaten Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Samosir, Humbang Hasudutan, Simalungun, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Aceh Tengah yang sangat merindukan pembangunan Jalan Tol Medan – Kabupaten Karo.

“Pembangunan jalan tol sangat mendesak. Ribuan ton buah-buahan dan sayur-sayuran dari Kabupaten Karo, rusak dan membusuk sehingga tidak laku lagi di Pasar Induk Medan, akibat terjebak kemacetan berjam-jam di tengah jalan. Kejadian seperti itu bukan sekali dua kali, tapi sudah teramat sering,” ucapnya.

Diungkapkannya, Kementerian PUPR terkesan hanya memprioritaskan pembangunan tol di daerah-daerah tertentu, bahkan ada yang sepertinya dipaksakan. Sementara Jalan Medan –  Berastagi sudah bertahun-tahun darurat macet.

“Apabila jalan tol belum dapat direalisasikan pemerintah pusat, kita meminta sesuai dengan usulan Ikatan Cendikiawan Karo Sumatera Utara (ICKSU), yaitu dengan jalan layang sejajar dengan jalan sekarang sepanjang 1,6 Km dgn dana Rp 400 meter di daerah Bandar Baru dan sepanjang 700 meter dengan dana Rp 200 M di Tirtanadi,” ungkap Sudarto Sitepu.

Konsep ICK yang berbasis ilmiah dengan penjiwaan karakter medan jalan yang berkelok-kelok serta bertebing-tebing diyakini solusi cerdas menjawab seringnya di kedua lokasi itu macet parah akibat longsor maupun mobil-mobil berbadan besar yang rusak ditengah badan jalan, lontarnya.

“Konsep yang ditawarkan Kementerian PUPR dengan perbaikan pada spot-spot tertentu dengan pelebaran total panjang 4 Km dgn biaya Rp 80 M tidak akan efektif memecahkan masalah, karena tidak menghilangkan tikungan kritis yang tidak standard. Kesannya seperti program follow money dan mengabaikan penderitaan masarakat, karena perbaikan itu kesannya tambal sulam, tidak menyelesaikan akar masalah, ini yang patut kita sesalkan,” kecamnya.

Karenanya, pengunjuk rasa meminta Presiden Jokowi tidak menganaktirikan Kabupaten Karo dalam pembangunan infrastuktur modern berskala nasional. “Bagaimana pun Jokowi dalam dua kali Pilpres menang di atas 90 persen di Kabupaten Karo,” beber Sudarto Sitepu yang juga tokoh seniman Karo ini.

“Kita meminta Bapak Presiden Jokowi menginstruksikan kepada Menteri PUPR, agar pembangunan tol Medan – Berastagi dimasukkan anggarannya dalam pembahasan APBN 2020.  Kami akan terus bergerak dengan aksi damai yang lebih besar lagi apa bila tuntutan ini tidak diakomodir,”  tegas Julianus Sembiring dan Sudarto Sitepu yang kedua nya juga pernah melakukan aksi damai di Istana saat pemakzulan Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti.

Julianus Sembiring dan Yoki Pranata Sinulinga kembali menegaskan, Tol Medan – Berastagi menjawab tantangan kepadatan volume kendaraan beberapa tahun mendatang di Jalan Letjen Djamin Ginting, Karena kepadatan volume kendaraan pasti tidak akan terelakkan, pertambahan berbagai jenis moda transportasi begitu pesat, sementara luas badan jalan sangat terbatas, dengan medan bertebing dan berkelok-kelok.

Terlebih lagi, sambung Julianus Sembiring, satu-satunya jalan nasional penghubung ke Ibu Kota Provinsi Sumut dengan sejumlah kabupaten, baik di Sumut maupun Aceh Tenggara dan Aceh Selatan, hanya Jalan Medan-Berastagi, yang paling cepat untuk dilalui. Dengan adanya tol/jembatan layang tol Medan – Berastagi akan memberikan ekspektasi yang positif dan produktif bagi pertanian dan pariwisata, dua sektor andalan yang menjadi ‘nafas’ warga Kabupaten Karo secara umum, maupun dari daerah-daerah lainnya, tegasnya sembari berorasi.

“Menurut data dan informasi dari para pakar USU dari Ikatan Cendikiawan Karo Sumatera Utara, bahwa tol Medan – Berastagi sudah sangat layak dan pantas disegerakan. Pasalnya,  tahun 2014 jalan Letjen Djamin Ginting Medan – Berastagi dilintasi 21.231 unit kendaraan per hari. Kini mencapai 28.000 unit kendaraan per hari akibat pesatnya pertambahan berbagai jenis moda transportasi,” beber julianus Sembiring.

Diungkapkannya, sebagai pintu gerbang Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, bagian utara jalur Medan - Kabupaten Karo,  tidak memiliki daya saing dan semakin jauh tertinggal. “Solusinya, peningkatan Jalan Medan – Berastagi, Tol/pembangunan jembatan layang semakin urgen dipacu untuk meningkatkan daya saing sejumlah daerah bagian utara KSPN Danau Toba,” ucap mereka.

Mereka juga berharap, Bupati Karo Terkelin Brahmana harus mampu meyakinkan Pemerintah Pusat bahwa kebutuhan ini sangat mendesak, termasuk membangun komunikasi politik, kepada tokoh-tokoh nasional yang berada di lingkaran istana, seperti Luhut B Panjaitan. (RTA)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px