Log in

Tribun Medan Diduga "Predatory Pricing"

Ilustrasi Ilustrasi

Medan-andalas Tribun Medan diduga menjalankan praktik "Predatory Pricing"  yang jelas-jelas dilarang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Perusahaan media yang disokong grup raksasa media Kompas Gramedia tersebut sengaja menjual murah korannya dengan harga Rp1.000 per eksemplar ke konsumen selama bertahun-tahun sejak pertama kali terbit tahun 2009.

Perusahaan-perusahaan koran lain di Medan diketahui menjual  korannya dengan harga Rp2.500 hingga Rp3.000 per eksemplar mengingat biaya mencetak satu eksemplar koran saja berkisar Rp2.100 hingga Rp2.500, belum termasuk biaya antar ke konsumen.

Starategi Tribun Medan menjual korannya dengan harga yang sangat rendah dari harga produksi itu diduga bertujuan untuk menyingkirkan perusahaan-perusahaan koran pesaingnya dari pasar sekaligus mencegah munculnya pesaing baru masuk ke dalam pasar yang sama di Medan.

Ketua LSM Transparansi Anggaran Lintas Instansi Indonesia (Tralindo) Drs Redihman Damanik MSi mengatakan, dengan harga Koran Tribun Medan hanya Rp1.000 per eksemplar, dapat dipastikan pelaku usaha media kelas menengah ke bawah di Medan akan sulit bersaing sehingga akhirnya bisa gulung tikar atau bangkrut.

"Tidak tertutup kemungkinan Tribun Medan ingin koran-koran  lokal di Sumut gulung tikar. Dengan demikian perusahaan Kompas Gramedia ini memonopoli usaha media atau koran di Sumut. Padahal, ada undang-undang yang mengatur untuk larangan melakukan praktik monopoli dan bersaing tidak sehat," jelas Damanik yang juga praktisi pers, kemarin.

Ditambahkan Damanik, jika Tribun Medan mengabaikan UU No 5 Tahun 1999, maka seharusnya KPPU dapat memberikan peringatan, bahkan bisa memidanakan Tribun Medan.

"Selama bertahun-tahun Tribun Medan melanggar undang-undang  itu kenapa KPPU masih membiarkannya. Nah, ini yang menjadi pertanyaan," ujar Damanik.
Bahkan menurut Redihman, Tribun Medan juga sudah mengabaikan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah, karena membuat koran-koran daerah yang notabene bermodal kecil tak mampu bersaing sehingga menjadi sulit berkembang, bahkan terancam tutup.

"Padahal, UMKM adalah usaha kerakyatan yang saat ini mendapat perhatian dan keistimewaan yang diamanatkan oleh undang-undang. Tapi kenapa masih diabaikan dan dilanggar pihak Kompas Gramedia Group," ujar Damanik.

Untuk itu Redihman juga menyarankan sebaiknya pemerintah  tidak diam terkait strategi bisnis Tribun Medan yang telah meresahkan para pengusaha koran daerah di Sumut ini.

Langkah yang bisa diambil pemerintah adalah membuat patokan  harga eceran tertinggi koran di Sumut sehingga antar-perusahaan koran bisa bersaing secara sehat, bisa sama-sama berkembang.

Pernah Diselidiki KPPU
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Perwakilan  Daerah (KPD) Medan ternyata pernah menyelidiki Tribun Medan atas dugaan melakukan predatory pricing.

Karena di saat perusahaan-perusahaan koran lain di Medan diketahui menjual korannya dengan harga Rp2.500 hingga Rp3.000 per eksemplar mengingat biaya mencetak satu eksemplar koran saja berkisar Rp2.100 hingga Rp2.500, belum termasuk biaya antar ke konsumen, Tribun Medan tetap menjual korannya dengan harga Rp1.000 per eksemplar.

"Kami melakukan penyelidikan terkait koran Tribun Medan yang  dijual Rp1.000 ke konsumen itu pada tahun 2015. Waktu itu tuduhan kita adalah predatory pricing atau menjual (koran) lebih murah dari harga produksi," kata Ketua KPPU KPD Medan Abdul Hakim, menjawab andalas diMedan, baru-baru ini.

Anehnya, meski strategi Tribun Medan menjual murah korannya jauh dari harga produksi itu telah banyak meresahkan pengusaha Koran di Medan, Tribun Medan menurut pihak KPPU seperti dikemukakan Hakim, bukan melakukan praktik Predatory Pricing.

"Memang mengganggu jumlah omzet (Tribun Medan), tapi ini cara strategi marketing mereka dengan mengurangi pendapatan di sektor iklan tapi bisa menekan harga jual koran mereka," jelas Hakim.

Sebelumnya, SPS Sumut sudah menyoroti cara bisnis Harian Tribun Medan yang menjual Rp1.000 per eksemplar. Harian Tribun Medan dinilai sengaja mematikan koran daerah. Sebab untuk hitungan-hitungan ekonomi, harga koran Rp1.000 per eksemplar sangat tidak masuk akal. Karena biaya cetak saja menghabiskan Rp2.100 hingga Rp2.500 per eksemplar.

"Pengelola suratkabar di Sumut harus kompak menghentikan cara bisnis kotor perusahaan nasional itu. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah mendesak pemerintah membuat regulasi atau pengaturan Harga Eceran Terendah (HET) suratkabar. Kita harus ada action, agar koran daerah tidak ambruk dihantam koran bermodal kuat asal Jakarta," ujar Sekretaris SPS Sumut Rianto Aghly, Rabu lalu.

Azryn Maridha, Pemimpin Redaksi sekaligus Penanggung Jawab Harian Matahari menilai, Tribun Medan yang ditopang Kompas Gramedia tidak memiliki empati dan solidaritas terhadap koran-koran lokal daerah yang umumnya bermodal kecil.

"Jangan mentang-mentang punya modal besar, lantas ingin membunuh koran-koran kecil," kata Azryn Maridha, Rabu (15/3) di Medan.

Sedangkan Ketua Harian SPS Pusat Ahmad Djauhar mengatakan, SPS Pusat sudah mengingatkan pengelola media cetak agar tidak mengobral murah produknya. Ini karena koran dan/atau media cetak merupakan produk intelektual. Dan produk jurnalisme berkualitas sudah barang tentu memerlukan modal investasi maupun biaya produksi tidak kecil.

"Karena itu, produk intelektual tak bisa diobral murah. Apalagi jika sampai harus mengorbankan kesejahteraan karyawan dan wartawan, jelas hal itu tidak dapat diterima," ujar Ketua Harian SPS Pusat Ahmad Djauhar menjawab pertanyaan andalas melalui WatsApp (WA), Kamis (16/3).

Sebenarnya, kata Djauhar, SPS Pusat pernah membuat edaran kepada seluruh anggota SPS sekitar tiga-empat tahun silam yang intinya berisi penegasan, bahwa pengelola koran hendaknya tidak menjual murah produk koran yang mereka hasilkan itu. Waktu itu, SPS Pusat memberikan semacam acuan harga jual koran, misalnya hingga 12 halaman harga jual minimal Rp1.000 per eksemplar, terbitan hingga 20 halaman harga jual minimal Rp2.000 per eksemplar, hingga 28 halaman harga jual minimal Rp3.000 per eksemplar, dan seterusnya.

"Terkecuali dari awal memang dimaksudkan sebagai koran gratisan, kalau si penerbit memang mau membagikan korannya secara gratis itu lain soal," kata Djauhar. (WAN/RED)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 25 Apr 2017 27°C 22°C
  • 26 Apr 2017 29°C 23°C

Banner 468 x 60 px