Log in

Tersangka Sabu 1,6 Ton Coba Suap Petugas


Batam-andalas Para anak buah kapal (ABK) kapal pembawa narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 1,6 ton ternyata sempat melakukan percobaan penyuapan terhadap petugas Satgas Merah Putih saat akan dilakukan penangkapan di Perairan Anambas, Kepulauan Riau, Selasa (20/2).

Dari informasi yang diperoleh, para tersangka mencoba menyuap petugas saat dilakukan pemeriksaan secara detail di atas kapal berbendera Singapura itu, dengan menawarkan uang sebanyak 10.000 Yuan yang diambil dari balik bantal oleh kapten kapal. Namun hal tersebut ditolak petugas dan seraya memerintah para ABK untuk tiarap di lantai.

Kabar soal para tersangka pembawa sabu seberat 1,6 ton sempat mencoba menyuap petugas ini dibenarkan Kepala Bea Cukai Batam Susila Brata. "Semua pelaku berusaha melakukannya," kata Susila Brata di Batam, Rabu (21/2).

Namun, ia meyakinkan, tidak ada petugas yang tergoda dengan rayuan tersebut, dan tetap memproses tersangka serta membawa kapal besi itu ke Pelabuhan Sekupang, Batam. "Firm tidak ada yang tergoda," kata dia.

Hal senada juga diungkap Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol S Erlangga yang menyatakan kemungkinan tersangka berupaya menyuap petugas saat hendak ditangkap. Empat tersangka yang kini masih diamankan di Markas Polda Kepri adalah warga negara Tiongkok, yaitu Tan May Chan, Tan Yiie, Tan Chun Wiu dan Shei Leui Hua.

Sementara itu, pemeriksaan empat orang tersangka sempat terkendala bahasa, karena tidak satu pun tersangka menguasai Bahasa Inggris. "Sekarang masih dilakukan pendalaman terhadap tersangka, karena memerlukan translater Bahasa Tiongkok," kata Erlangga.

Sejumlah pengalih bahasa telah didatangkan ke Markas Polda Kepri untuk membantu pemeriksaan terhadap empat tersangka yang awalnya mengaku sebagai nelayan itu. Erlangga mengatakan, setelah keperluan olah Tempat Kejadian Perkara, maka kemungkinan seluruh tersangka akan dibawa ke Jakarta untuk pengembangan kasus

Bea Cukai Tipe A Batam telah menyerahkan keempat orang tersangka beserta barang bukti seberat 1,6 ton sabu ke Bareskrim Mabes Polri Rabu (21/2) sekira pukul 10.00 WWIB di Mapolda Kepri.

Penyerahan tersebut dilakukan langsung oleh Kepala KPU Bea Cukai Tipe A Batam Susila Barata kepada Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Daniyanto disaksikan Kapolda Kepri Irjen Pol Didid Widjanardi.

Aksi tim gabungan Bareskrim Polri dan Bea Cukai menggagalkan penyelundupan 1,6 ton sabu mencuri perhatian karena banyaknya barang bukti yang disita. Di balik kesuksesan operasi itu, terselip cerita soal 'penderitaan' polisi selama perburuan.

Kepala Tim II Satgas Khusus AKBP Dodi Suryadin menceritakan kehidupan di atas kapal laut selama kegiatan perburuan kapal pembawa 1,6 ton sabu dari sindikat internasional itu. Doddy mengatakan dirinya dan tim bolak-balik darat dan laut selama sepekan lebih. Mereka berhari-hari menginap di atas kapal untuk memantau pergerakan kapal target.

"Nggak mandi saja kami karena kan harus irit air di kapal. Paling cuci muka, sikat gigi. Pernah kemarin empat hari nggak mandi. Aroma badan sudah bukan 'nano-nano' lagi, tapi 'nino-nino'," kata Doddy, Rabu (21/2).

Doddy lanjut bercerita, pada hari ketika kapal pembawa 1,6 ton sabu berhasil ditindak, dirinya bersama 5 anggota tim melaut selama 18 jam. Saat operasi digelar, lanjut Doddy, ketinggian ombak di tengah laut mencapai tiga meter. Hal itu membuat kapal terombang-ambing sehingga membuat satu anggota timnya muntah.

"Ombak itu bisa membuat kapal berhenti juga di tengah laut, karena goyangannya sampai bikin terombang-ambing. Untungnya kapal Bea-Cukai besar. Kalau kapal kecil, saya rasa nggak sanggup melewati perairan itu. Bisa tiga meter ombaknya, makanya kapal jalan pelan-pelan," jelas dia.

"Delapan belas jam itu satu perjalanan, bukan bolak-balik laut-pelabuhan. Kita hampir dua minggu patroli. Ada juga tim saya yang mabuk-mabuk (mabuk laut, red), muntah. Dia bengong, pucat, tiba-tiba muntah saja," imbuh sosok yang sehari-hati menjabat Kanit 4 Subdit 1 Dittipid Narkoba Bareskrim Polri ini.

Doddy mengatakan, untuk urusan perut selama perburuan, tim mengandalkan mi instan karena praktis untuk dimakan. Sedangkan menu 'mewah' yang disantap saat di kapal adalah ikan asin.

"Makannya ya apa saja dimasak, seadanya. Paling-paling mi rebus atau kalau kita berhenti di pulau kecil, kita belanja untuk suplai makanan. Makanan lainnya ikan asin. Kami kadang menginap di kapal atau singgah di pulau-pulau kecil. Menu paling mewah ikan asin, ikan-ikanan, nggak neko-nekolah," ucap Doddy. (G/BX/ANT/DTC)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 26 Jun 2018 30°C 22°C
  • 27 Jun 2018 30°C 22°C

Banner 468 x 60 px