Log in

Tak Ingin Ulama Datang ke Kantornya, Gubsu: Biar Saya yang Datang

Ketua MUI Sumut Abdullah Syah menyematkan sorban kepada Gubsu Edy Rahmayadi. Ketua MUI Sumut Abdullah Syah menyematkan sorban kepada Gubsu Edy Rahmayadi.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengakui pentingnya peran ulama dalam kehidupan berbangsa. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga tempat berhimpunnya para ulama adalah tempat bagi para pemimpin pemerintahan atau umara mengadu.

“Ulama itu pimpinan setelah Rasulullah tak ada. Jadi kala sudah tak ada ulama, bubar bangsa ini,” ujar Edy dalam sambutannya saat menghadiri Muzakarah MUI Edisi Muharram 1440 Hijriah di Aula MUI Sumut, Jalan Sutomo Ujung, Medan, Minggu (23/9).

Hadir bersama Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, Edy menegaskan ulama adalah sosok yang harus dihormati dan dipanuti. Karena itu sebagai umara dirinya tidak ingin para ulama datang ke kantor gubernur dan mengantre untuk masuk, berdesakan dan sebagainya, sehingga menjadi terkesan diperlakukan tidak layak.

“Saya pernah berjanji, tetapi bukan sekadar janji. Saya tak mau ulama datang ke kantor gubernur, tetapi panggil saya, undang saya, saya akan hadir,” kata Edy yang  menganggap umaralah yang seharusnya mendatangi ulama.

Edy mencontohkan seperti di satu daerah di Jawa, pemimpin pemerintahan datang ke ulama, dengan santun dan sikap sangat menghormati para pemuka agama. Menurutnya, untuk menyandang gelar ulama, tidak lah mudah, bahkan sangat berat. Sebab di dalam sosok ulama ada ketegasan, antara hitam dan putih, benar dan salah.

“Begitu juga (keberadaan) MUI ini sangat penting. Jadi ada tempat kita mengadu. Kalau tidak ada, ini yang buat rusak sekarang ini. Karena itu, kalau sudah berani mengambil titel ulama, itu berat sekali. Sehingga bagaimana ulama dan umara itu bisa bersama,” kata Edy, yang meminta agar kegiatan Muzakarah pihaknya dilibatkan sebagai pelaksana.

Selain itu, Gubernur juga menyinggung beberapa wacana di masyarakat yang menimbulkan kekisruhan. Diantaranya soal volume suara azan dari masjid yang jadi persoalan. Menurutnya panggilan untuk ibadah bagi umat Islam memang harus besar, agar didengar jelas.

“Saya dengar azan harus dikecilkan. Saya perintahkan itu dibesarkan. Sebab kalau sound-nya saja rusak, orang tak dengar suara azan, jadi tak ke masjid. Dan kalau yang suaranya kecil itu iqomat,” sebut Edy.

Begitu juga untuk persiapan MTQ Nasional yang akan digelar di Medan dan Deli Serdang. Gubernur meminta dengan sangat kepada para ulama yang ia panggil "ayah" dan "emak" itu, menghadiri dan meramaikan event besar tersebut.

“Saya minta ayah dan emak saya para ulama, hadir di sana. Kita besarkan MTQ Nasional, ini untuk kita semua, untuk akidah kita. Lantunan ayat suci Alquran akan dikumandangkan di sana,” kata Edy disambut tepuk tangan meriah ratusan hadirin yang memadati aula tersebut.

Usai menyampaikan sambutan, Gubernur dan Wakil Gubernur pun dipakaikan sorban oleh Ketua MUI Sumut Abdullah Syah dan Dewan Pertimbangan MUI Sumut Maslin Batubara sekaligus penyerahan plakat penghargaan serta almanak (kalender) hijriyah.

Muzakarah bertema ‘Dengan Semangat Hijriah, Kita Rajut Ukhuwah Menuju Sumatera Utara Bermartabat’ itu dihadiri juga Anggota DPD RI Darmayanti Lubis, utusan MUI kabupaten/kota, dan ratusan ulama. (G/HPS)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Scattered Thunderstorms

Humidity: 97%

Wind: 4.83 km/h

  • 22 Oct 2018 29°C 23°C
  • 23 Oct 2018 28°C 22°C

Banner 468 x 60 px