Log in

Sukran Tanjung Sebut Dirinya Tim Pemenangan Jokowi Tapi Dikriminalisasi

Sukran Jamilan Tanjung dan Amirsyah Tanjung saat menjalani sidang di PN Medan. Sukran Jamilan Tanjung dan Amirsyah Tanjung saat menjalani sidang di PN Medan.

Mantan Bupati Tapanuli Tengah Sukran Jamilan Tanjung mengaku merasa dizolimi dan dikriminalisasi dalam kasus tindak pidana penipuan dan penggelapan yang didakwakan kepadanya dan abangnya, Amirsyah Tanjung.

Dia juga sempat mengungkit kalau dirinya merupakan Wakil Sekretaris Tim Kampanye Daerah Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Sumut di Pilpres. Namun dia mengaku heran karena tudingan kriminalisasi saat ini bukan hanya ditujukan kepada kubu oposisi tapi juga menimpa pendukung pemerintahan petahana.

"Saya pun tidak luput dari kriminalisasi hingga sampai ke persidangan," ujarnya dengan nada kesal saat diwawancarai wartawan usai persidangan lanjutan kasusnya di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (12/2).

Wakil Ketua Partai Golkar Sumut itu juga menyebutkan kalau dirinya bukan lagi sebagai calon bupati. "Ada apa? Kenapa saya dibegini kan?," ucapnya dengan nada geram.

Dia menegaskan baik dirinya maupun abangnya. Amirsyah tidak pernah menerima uang Rp75 juta dari Roland Limbong seperti yang dituduhkan jaksa. Bahkan dalam persidangan ketika memberi keterangan sebagai saksi Roland Limbong juga mengakui tidak ada menerima uang dari korban Josua.

"Jadi fakta persidangan sudah jelas saksi yang disebut menyerahkan uang sudah memberi keterangan di bawah sumpah. Saya berharap majelis hakim bisa jeli dalam memeriksa perkara dan memberikan keadilan bagi kami," harapnya.

Hingga kini dia juga  mengaku tidak tahu-menahu seputar laporan Josua Marudut Tua Habeahaan itu. “Katanya ada uang Rp75 juta iya kan? Dan katanya lagi ada uang Rp375 juta yang dikait-kaitkan nama saya. Demi Tuhan, saya nggak ngerti uang itu. Tidak ada saya terima apalagi menggunakannya,” katanya.

“Bahkan ketika kasus ini mencuat dan menjalani pemeriksaan setelah setahun tidak lagi menjabat Bupati Tapteng, baru tahu ada laporan yang dibuat korban kepada saya dan abang saya,” sambungnya.

Namun faktanya dalam sidang sebelumnya, Roland Limbong yang disebut-sebut menerima uang Rp75 juta tersebut dari saksi. Lebih anehnya lagi soal saksi korban mentransfer uang Rp375 juta kepada Umar Hasibuan.

 “Kenapa jadi saya dan abang saya yang dimintai pertanggungjawaban hukum,” katanya seolah menginginkan jawaban kepada awak media yang setiap harinya meliput sidang di PN Medan. “Kejanggalan mencolok lainnya, kok yang namanya Umar Hasibuan tidak pernah dihadirkan di persidangan?” tegas Sukran Tanjung.

Selama menjabat bupati, dia telah berusaha melakukan yang terbaik untuk Kabupaten Tapteng. Termasuk proses perpindahan Kantor Polres Tapteng yang baru di Sibolga. Serta memudahkan pelayanan kepada masyarakat.

Sebelumnya dalam sidang lanjutan kasus penipuan dan penggelapan yang digelar di ruang sidang Cakra 7 Pengadilan Negeri (PN) Medan dengan agenda tanggapan penuntut umum (replik) terhadap nota pembelaan (pledoi) kedua terdakwa, Selasa sore (12/2), dalam tanggapannya yang dibacakan oleh penuntut umum di depan majelis hakim yang diketuai Erintua Damanik pada pokoknya penuntut umum tetap pada tuntutannya yang dibacakan pada sidang sebelumnya.

Usai pembacaan tanggapan tersebut majelis hakim menunda persidangan hingga Selasa depan untuk memberi kesrmpatan pada Penasehat hukum kedua terdakwa untuk membuat tanggapan terhadap replik dari penuntut umum. (AFS)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px