Log in

Setelah Sontoloyo, Kini Politik Genderuwo

Presiden Jokowi menyambut tangan warga saat menghadiri acara penyerahan 3.000 sertifikat hak tanah, di di GOR Tri Sanja, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11) pagi. Presiden Jokowi menyambut tangan warga saat menghadiri acara penyerahan 3.000 sertifikat hak tanah, di di GOR Tri Sanja, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11) pagi.

Tegal-andalas Setelah heboh dengan istilah politikus sontoloyo, Presiden Joko Widodo, kini memperkenalkan 'jenis' politik yang lain. Jokowi menyebut ada model politik genderuwo. Apa yang dimaksud?

Jokowi menjelaskan, saat ini, banyak politikus yang memengaruhi. Tetapi, tidak memiliki etika dan sopan santun.

 "Coba kita lihat, politik dengan propaganda menakutkan membuat kekhawatiran, propaganda ketakutan coba," kata Jokowi, saat acara pembagian sertifikat di Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11).

Usai membuat khawatir, lanjutnya, maka politikus itu melakukan propaganda ketidakpastian. Masyarakat digiring ke sana, yang akhirnya membuat masyarakat ragu dan muncul ketakutan.

Pola politik menakut-nakuti seperti itu, menurut Jokowi, adalah cara genderuwo. Dalam pemahaman luas, genderuwo adalah hantu yang membuat masyarakat takut.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, genderuwo berarti hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu tebal.

"Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan, enggak benar kan? Itu yang sering saya sampaikan politik genderuwo. Nakut-nakuti," katanya.

Genderuwo juga disebut dengan istilah yang sama di beberapa daerah. Menurut Jokowi, itu artinya sama saja. "Sing politik meden-medeni (yang politik menakut-nakuti). Jangan sampai seperti itu," katanya.

Padahal, lanjut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, masyarakat di bawah justru tidak ada yang takut dan senang-senang saja. "Masyarakat seneng-seneng semua kok, kok diweden-wedeni (ditakut-takuti)," lanjut Jokowi.

Dia berharap, politik genderuwo tidak dilakukan, karena hanya membuat masyarakat takut. Padahal, itu tidak benar sama sekali.

"Jangan sampai propaganda ketakutan menciptakan suasana ketidakpastian, menciptakan munculnya keragu-raguan," katanya.

Presiden Jokowi meminta agar para politisi mengakhir cara-cara politik genderuwo, yaitu cara-cara berpolitik dengan propaganda, menakut-nakuti, menimbulkan kekhawatiran. Selanjutnya yang kedua, ketidakpastian; kemudian yang terakhir, menjadi keragu-raguan masyarakat.

“Ini cara-cara politik seperti ini jangan diterus-teruskan lah, sudah. Setop! Setop!” seru Presiden Jokowi saat ditanya wartawan usai meresmikan Jalan Tol Pejagan – Pemalang seksi 3 dan 4 Brebes Timur – Sewaka dan Jalan Tol Pemalang – Batang segmen Sewaka – Simpang Susun Pemalang, di Gerbang Tol Tegal Timur, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11) siang.

Presiden berharap politik yang dikembangkan adalah politik yang penuh dengan kegembiraan, sehingga demokrasi kita juga betul-betul pesta demokrasi.

“Yang namanya pesta itu misalnya dengan penuh kegembiraan, penuh dengan kesenangan, masyarakat dengan kematangan politiknya memberikan suara/memilih dengan jernih dan rasional. Kita harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik dengan cara-cara seperti itu,” tutur Presiden.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mengajak masyarakat untuk hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan.

Ternyata, politik genderuwo yang diangkat Jokowi ini justru disambut gembira oleh Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Mardani Ali Sera. Mengapa?

"Pertama, gembira karena Pak Jokowi dalam dua pekan menggunakan kata yang buat orang Jawa tidak halus dan lembut," kata Mardani.

Menurut dia, kata 'genderuwo' dan kemarin 'sontoloyo' jauh dari kebiasaan Jokowi dan mungkin, dalam pandangannya, citra Jokowi akan merosot.

"Karena Jawa, Jawa, dan Jawa adalah pusat pertarungan. Kedua, kata 'sontoloyo' dan 'genderuwo' dua kata yang tidak mencerminkan Pak Jokowi selama ini. Citra dan persepsi publik bisa tergerus," tutur Mardani.

Mardani memandang politik harus santai. Soal 'politik genderuwo', dia yakin kubunya bisa mewujudkan pergantian presiden lewat Pilpres 2019.

"Buat kami, di politik tidak boleh baper. Jadi kita akan jalan terus mewujudkan 2019 ganti presiden," katanya.    

Tidak Penting

Ekonom Rizal Ramli menyebut saat ini Pilpres 2019 terjebak pada hal-hal remeh yang tidak dibutuhkan rakyat. Contohnya kedua paslon Pilpres saling melempar ucapan dengan istilah-istilah yang tidak penting, ketimbang menggalakkan isu yang dibutuhkan bangsa, misalnya ekonomi.

Misalnya saja, soal tempe setipis kartu ATM. Kemudian soal tampang Boyolali, selanjutnya Sontoloyo dan teranyar politik Genderuwo yang menuai beragam reaksi dari elite politik.

"Hari ini kebanyakan calon enggak pernah punya isu yang penting buat bangsa kita. Kedua belah pihak. Apa isu yang penting buat bangsa kita, ekonomi dong. Ekonomi makro sama ekonomi rakyat. Yang kuasa enggak mau ngomong karena banyak lemahnya," kata Rizal di media center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I No 35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (9/11).

Selain itu, Rizal menyinggung masalah keadilan hukum. Dia berujar, hukum saat ini sering membela yang berkuasa dan sibuk untuk kasus kasus yang bisa heboh di media, sehingga rakyat ramai dan timbul perdebatan isu tak berbobot.

"Artinya kedua belah pihak ini bukan isu yang fokus yang penting yang kagak penting-penting lah, bukan substansi," ujarnya.

"Kasus Ratna Sarumpaet lah, kasus Boyolali lah, apalah. Memang isu ini ramai, heboh tapi gak membawa Indonesia ke arah kemajuan. Politik begini tidak sehat," tambah Rizal.

Mantan Menko Maritim tersebut minta para pihak berpolitik dengan waras dan benar sehingga muncul kompetisi yang sehat.

"Karena satu pihak ini nawarin tempe. Yang lain nawarin menunya tahu, tapi kan sama-sama kedelai. Rakyat kita pengennya daging, makan daging pengen makan Ikan, Pengen makan stik ayam. Ayo dong calon calon ini, tawarkan menu itu," tuturnya.

Rizal ingin para pemimpin bangsa bersikap selayaknya sebagai pemimpin dan bersama menawarkan menu yang lebih baik buat bangsa.    "Jangan fokus sama hal yang enggak penting, yang dagelan, yang heboh tapi gak penting. Itu proses pembodohan bangsa kita," imbuh Rizal. (VN/SKB/DTC/MDK)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 21 Nov 2018 27°C 22°C
  • 22 Nov 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px