Logo
Print this page

Samosir Tarik Diri dari FDT

Salah satu kegiatan di Festival Danau Toba 2018 di Dairi. Salah satu kegiatan di Festival Danau Toba 2018 di Dairi.

Medan-andalas Festival Danau Toba (FDT) 2018 yang selenggarakan di Kabupaten Dairi belum lama ini menuai kritik pedas. Acaranya dianggap tidak menarik dan tidak memenuhi target kunjungan wisatawan.

Ternyata penurunan kualitas FDT sudah terjadi tiga tahun belakangan. Ini juga yang membuat Kabupaten Samosir menarik diri dari event bergilir di daerah yang berada di kawasan Danau Toba tersebut.

"Tidak ada daya angkat untuk pariwisata Danau Toba juga. Sehingga kita lebih baik tidak ikut," kata Kepala Dinas Pariwisata Samosir, Ombang Siboro, Selasa (11/12) lalu.

Harusnya, kata Ombang, FDT bisa mengangkat pariwisata. Karena FDT jadi tolok ukur pariwisata. Jangan sampai, karena FDT buruk maka Danau Toba juga buruk.

"Konsep FDT kami pertama bayangkan, bukan FDT seperti itu. Seharusnya menjadi Festival Pariwisata menjadi Wonderful," kata Ombang.

Ombang memang sudah memprediksi FDT di Dairi tidak maksimal perhelatannya. Berkaca dari FDT dua tahun terakhir hingga minimnya persiapan. Promosi untuk FDT 2018 juga sangat tidak maksimal. Dilihat dari minimnya pemberitaan pra event.

Ombang menjelaskan, FDT harusnya menjadi event yang memiliki kelas nasional maupun internasional. Dengan konsep pariwisata direncanakan dengan matang dan profesional.? Namun hal tersebut tidak dilakukan. Bahwa FDT dirapatkan pertama pada 23 Oktober 2018, lalu.

 "Apa lagi, masuk festival Wonderful Indonesia tidak benar itu. Tidak salah di Kabupaten Dairi sebagai tuan rumah. Siapa pemiliknya (Pemprov Sumut)," ucap Ombang.

Anggaran FDT sebesar Rp1,3 miliar menurutnya terbuang sia-sia. Harusnya, acara itu menjadi catatan besar untuk dilaksanakan secara profesional.

"Ke depannya FDT. Dipertanyakan pertama, jenis kelamin (kegiatannya), kedua siapa pihak pernanggungjawabnya, ketiga kapan diselanggarakan. Kami minta jawab itu, baru itu kami ikut serta kembali," kata Ombang.

Ombang mengungkapkan Singapura negara kecil, memiliki konsep pariwisata dengan baik dan profesional dengan jumlah 385 event setiap tahun. Sedangkan Danau Toba kalah jauh dari Banyuwangi memiliki 87 event pariwisata dikelola dengan baik dan dipromosikan

Semakin banyak event, semakin bagus di? Danau Toba. Di Singapura ada 385 event satu tahunnya. Ada 2 event satu hari. Banyuwangi 87 event satu tahun. Dilaksanakan dengan baik dan dipromosikan jauh-jauh hari.

"FDT itu, event siapa? Apa event milik Pemprov, kabupaten atau kawasan Danau Toba. Jelas dulu jenis kelaminnya," ungkap Ombang.

Dia menambahkan Pemerintah Provinsi Sumut dan Kementerian Pariwisata harus melakukan evaluasi FDT. Bila tetap melanjutkan di tahun depan. Kalau tidak, FDT tidak akan berkembang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Danau Toba.

"Kalau di kuliah dulu, ada minggu tenang (dihentikan) dulu FDT itu. Merenungkan bersama dulu, kalau dilanjut menambah keterpurukan nama Danau Toba. Karena Festival Danau Toba di situ kualitas Danau Toba sendiri," tandasnya.

Tak Sesuai Harapan

Festival Danau Toba 2018 yang berlangsung di Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara berjalan tidak sesuai harapan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Dairi, Leonardo Sihotang mengatakan Festival Danau Toba 2018 kurang persiapan.

"Ya, tidak seperti diharapkan kurang persiapan. Kalau kami lama persiapan, tapi panitia dari provinsi. Acara ini melibatkan kementerian. Kami tuan rumah hanya untuk persiapan tempat. Tidak ada koordinasi dan konsep," ujarnya di Silahisabungan, dilansir RMOLSumut, Minggu (9/12).

Dikatakan, banyak acara di Festival Danau Toba yang tak sesuai harapan. Festival Danau Toba terkesan asal-asalan. Hal itu dilihat dari minimnya wisatawan yang berkunjung ke Silahisabungan.

"Kami di Dairi tidak mau bikin malu juga. Beberapa kegiatan sudah kami tambahin seperti lomba kayak, renang, sepeda, dan festival lampion yang di Paropo. Banyak acara yang sebenarnya tidak selaras dengan Danau Toba. Intinya tidak ada persiapan bahkan bupati tidak hadir," kata Leonardo.

Tidak sampai di situ, Leonardo juga mengeluhkan acara yang awalnya ditargetkan mendatangkan 15 ribu wisatawan yang tak berjalan mulus.

"Kalau jalan konsep 15 ribu target kami wisatawan datang. Konsep awalnya bertujuan datangkan wisatawan. Tapi ini saja masyarakat lokal tidak mau datang. Harusnya masyarakat yang berdagang dapat keuntungan tapi ini kenyataannya rugi," ungkapnya.

Festival Danau Toba berlangsung sejak 5 hingga 8 Desember 2018 di Silahisabungan. Festival yang telah digelar sejak 2013 ini sudah menjadi agenda tahunan dari 7 kabupaten yang mengelilingi Danau Toba yakni Simalungun, Toba Samosir, Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, dan Dairi. Festival Danau Toba merupakan kegiatan pertunjukan budaya, pariwisata, dan olahraga. (JPC/RMOL)

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
IKLAN ONLINE | REDAKSI

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com