Log in

Ricuh di Pasar Sukaramai Kembali Makan Korban

Siti Khadijah (kiri) bersama anaknya diabadikan bersama orangtuanya di kediamannya Jalan Denai, Gang Kesehatan, setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah terkena gas air mata saat terjadi kericuhan di Pasar Sukaramai, Kamis (6/9) pagi. andalas/asril tanjung Siti Khadijah (kiri) bersama anaknya diabadikan bersama orangtuanya di kediamannya Jalan Denai, Gang Kesehatan, setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah terkena gas air mata saat terjadi kericuhan di Pasar Sukaramai, Kamis (6/9) pagi. andalas/asril tanjung

Medan-andalas Kericuhan melibatkan pedagang dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kota (Pemko) Medan terulang di Pasar Sukaramai, Kamis (6/9) pagi.

Di bawah guyuran hujan, kericuhan tersebut bahkan kembali memakan korban. Kali ini menimpa seorang pedagang bernama Siti Khadijah (30) warga Jalan Denai,  Gang Kesehatan.  Saat insiden saling dorong, Siti Khadijah terkena gas airmata yang disemprotkan petugas Satpol PP untuk menertibkan para pedagang.

Akibatnya Siti Khadijah harus dilarikan ke Rumah Sakit Madani untuk mendapatkan pertolongan medis karena matanya tidak bisa dibuka akibat terkena semprotan gas air mata tersebut.

"Sudah dua orang pedagang yang menjadi korban kekerasan aparat Satpol PP dalam menertibkan masyarakat lemah yang ingin mempertahankan hidupnya. Untuk itu, Pemerintah Kota Medan dan PD Pasar harus bertanggung jawab atas jatuhnya korban dari para pedagang," tegas Sekretaris Persatuan Pedagang Pasar Sukaramai Medan, Saut Turnip di Pasar Sukaramai.

Saut Turnip juga mempertanyakan standar operasioal prosedur (SOP) Satpol PP dalam menggunakan gas air mata untuk menertibkan para pedagang kecil.

"Bukankah seyogianya gas air mata digunakan untuk menghalau para pengunjuk rasa atau aksi-aksi lain yang bertindak anarkis," tanya Saut Turnip.

Dia berharap Wali Kota Medan meninjau kembali penggunaan gas air mata  dalam melakukan penertiban di pasar.

Menurut Turnip, rentetan kericuhan yang terjadi dua hari berturut-turut sejak Rabu (5/9) tersebut sebenarnya dipicu karena tidak adanya ketegasan Pemko Medan menyikapi permasalahan yang selama ini terjadi di Pasar Sukaramai.

Pemko Medan terus melakukan pembiaran dengan keberadaan para pedagang berjualan di badan Jalan Akik dengan belum juga memindahkannya ke lantai dasar Pasar Sukaramai.

"Dua tahun lalu, Pemko Medan dalam hal ini PD Pasar telah melakukan kesepakatan dengan Kapolsek, Camat serta Danramil untuk melakukan penertiban terhadap Pasar Akik. Namun, hingga sekarang tidak ada realisasinya. Akibatnya, mereka masih bertahan di badan jalan, dan para pedagang resmi yang ada di bahu jalan dan lahan parkir Sukaramai menjadi korban penggusuran dengan semena-mena," tegas Saut Turnip.

Turnip menambahkan, para pedagang resmi yang ada di bahu jalan dan lahan parkir Pasar Sukaramai tetap akan menuntut haknya agar pedagang di
Jalan Akik segera direlokasi ke lantai dasar Pasar Sukaramai.

"Sebenarnya para pedagang yang ada di badan Jalan Akik adalah mereka-mereka yang sebelumnya para pedagang eks Pasar Sukaramai yang direlokasi pasca-
terbakarnya Pasar Sukaramai. Namun, setelah bangunan selesai dibangun, mereka masih bertahan di sana. Ada apa ini?," tanya Turnip.

Menurut Turnip, pembangunan Pasar Sukaramai pasca-terbakar menelan biaya lebih kurang Rp40 miliar. Dana pembangunan Pasar Sukaramai tersebut murni
merupakan swadaya para pedagang yang mendapat pinjaman dari bank.

"Setelah 4 tahun berjalan, Pemko Medan tidak juga meresmikan pengoperasian Pasar Sukaramai. Begitupun, para pedagang tetap memberikan
kewajibannya dengan membayar retribusi," ujar Turnip.

Turnip juga menuding bahwa Pemko Medan telah melakukan pembohongan publik. Sebab sebelumnya telah dikeluarkan Perwal tidak boleh berdiri pasar sampai radius 500 meter. Nyatanya, Pasar Akik yang merupakan badan jalan yang dipaksakan menjadi pasar tersebut, hanya bersebelahan dengan Pasar Sukaramai.

"Pemko Medan dan PD Pasar salah total dalam pengelolaan Pasar Sukaramai, hingga akhirnya muncul berbagai permasalahan yang korbannya adalah rakyat kecil. Untuk itu, Wali Kota harus bertindak tegas dan turun tangan menyelesaikan permasalahan tersebut, jangan sampai terjadi korban jiwa yang sama-sama tidak diinginkan," pinta Saut Turnip. (RIL)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 90%

Wind: 11.27 km/h

  • 21 Sep 2018 30°C 22°C
  • 22 Sep 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px