Log in

Ratna Sarumpaet Mengaku 4 Kali Operasi Plastik


Jakarta – andalas Terdakwa Ratna Sarumpaet kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Agenda sidang kemarin, pemeriksaan terhadap dirinya sebagai terdakwa atas kasus penyebaran berita bohong atau hoaks.

Dalam kesaksiannya, Ratna Sarumpaet mengaku sudah empat kali melakukan operasi plastik. Namun untuk yang keempat kalinya atau bulan September 2018 lalu dirinya tidak memberitahu anak-anak. Alasannya, Ratna malu karena sebenarnya usianya sudah terlalu uzur.

"Saya malu dan berusaha menutupi jadi waktu saya berangkat meninggalkan rumah ke Bina Estetika, saya mengatakan mau ke Bandung. Mungkin karena pada saat melakukan sudah berumur," kata Ratna Sarumpaet di persidangan, Selasa (14/5).

Sebelum meninggalkan rumah, Ratna hanya pamit pada dua orang staf dan dua anaknya Iqbal dan Ibrahim. Ratna berangkat dari rumahnya di Kampung Melayu Kecil V Nomor 24 Rt 04 RW 09, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan menuju ke Rumah Sakit Bina Estetika.

"Tanggal 20 September 2018 menjelang malam habis magrib berangkat menggunakan taksi," ujar dia. Hakim Joni sempat bertanya sejak usia berapa Ratna mulai operasi plastik. "Pertama operasi masih ingat," tanya Joni.

"Waktu itu umur 65 tahun," Ratna Menjawab. "Sukses?" timpal Joni lagi? "Iya. Sebenernya dari yang pertama sampai terakhir berhasil cuma dampak operasi berbeda," Ratna menjawab lagi.

Dalam sidang itu, Joni juga menegur Ratna Sarumpaet karena dinilai tidak konsisten menjawab sejumlah pertanyaan. Pertanyaan itu dilontarkan oleh salah satu pengacaranya, Desmihardi, yang menanyakan pertimbangan Ratna memilih pulang dari klinik Bina Estetika, Jakarta Pusat pada 24 September 2018. Padahal, kondisi wajahnya waktu itu belum membaik.

"Kenapa saudara pulang pada tanggal 24 September 2018. Tadi saya dengar saudara bilang katanya mau memenuhi janji. Itu janji dibuat sebelum operasi atau sesudah operasi," ucap Desmihardi. "Dibuat setelah melakukan operasi. Saya sudah banyak janji yang harus saya penuhi. Janji ketemu sama tukang jahit, sama Deden," jawab Ratna Sarumpaet.

Saat dipastikan lagi oleh Desmihardi, Ratna mengubah jawabannya. Hakim Joni pun merespons pernyatan Ratna. "Janji sebelum (operasi) atau setelah? Awalnya setelah, tapi diarahkan jadi sebelum. Saya perhatikan saudara mulai tak konsisten memberikan jawaban. Itu sangat merugikan saudara sendiri. Kalau saudara tidak konsisten kita skors dulu atau cabut," ujar Joni.

Ratna mengaku khilaf atas jawabannya itu. "Saya tidak dengar atau telinga saya salah," ucap Ratna "Kalau tidak bisa konsisten, makanya tadi saya tanya saudara puasa atau nggak, katanya enggak, karena bisa di-suplly energinya. Semua yang dari awal ada maknanya, saya lihat saudara juga tidak seperti sebelumnya, tegas orangnya.

Joni menegaskan, semua sikap Ratna selama persidangan akan menjadi pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan vonis. "Karena kalau jawabnya enggak, berbelit-belit, tidak konsisten, itu kan semua dipertimbangkan," ucap Joni.

Di akhir persidangan, Ratna meminta maaf kepada majelis hakim Joni karena memberikan keterangan yang kurang konsisten. "Di awal gagap-gagap," ucap Ratna. Ratna pun meminta majelis hakim jangan menyamakan antara pejabat publik dengan publik figur. Menurut dia, itu berbeda.

"Saya bukan pejabat publik, saya aktivis yang terkenal karena pekerjaanya menolong banyak orang," ucap Ratna. Pernyataan itupun mengundang tanya hakim Joni. "Siapa yang menyamakan anda dengan pejabat publik," ujar Joni.

"Enggak dicatat saja karena ini hubunganya dengan kesalahan. Pejabat publik itu tidak boleh salah, tidak boleh bohong, tapi publik figur," timpal Ratna Joni kembali mempertegas pernyataan Ratna. "Publik figur boleh bohong," Joni bertanya.

"Boleh. Makasih yang mulia," Ratna menjawab. Hakim pun semakin dibuat bingung. Menurut dia, norma apa yang dipakai itu boleh bohong. "Norma yang kemarin, ahli itu mengatakan, orang boleh berbohong, tapi dalam konteks kedudukan misalnya, pejabat publik dalam kedudukanya tak boleh bohong," ucap Ratna.

Lagi hakim Joni bertanya. "Kalau anak, boleh bohong," tanya Joni. "Boleh, kita jewer dengan sayang. Ya artinya habis dijewer dicium," Ratna menutup keterangannya. Sebelumnya, Jaksa mendakwa Ratna Sarumpaet telah menyebarkan berita bohong kepada banyak orang yang dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Ia dikenakan dakwaan alternatif, yakni Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45 A ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Perbuatan penyebaran berita bohong itu diduga dilakukan dalam kurun waktu Senin 24 September 2018 sampai Rabu 3 Oktober 2018 atau pada waktu lain setidak-tidaknya dalam September hingga Oktober 2018, bertempat di rumah terdakwa di Kampung Melayu Kecil V Nomor 24 Rt 04 RW 09, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Perbuatan Ratna ini mendapat reaksi dari masyarakat dan sejumlah tokoh politik. Setelah melalui perdebatan panjang di sosial media dan media massa, pada 3 Oktober 2018, Ratna Sarumpaet menyatakan telah berbohong tentang penganiayaannya. Dia pun meminta maaf.

Sementara pada dakwaan kedua, jaksa menduga Ratna Sarumpaet, "Dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, ras atau antar golongan (SARA)."

Sebagian masyarakat Kota Bandung bereaksi dengan menuntut terdakwa meminta maaf kepada masyarakat Bandung. Mereka tersinggung karena menyebut-nyebut nama kota mereka sebagai lokasi kejadian. (LP6/MC)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px