Log in

MS Kaban: Kasus PT ALAM Politis

Menhut era Presiden SBY, MS Kaban saat berada di Medan, Minggu (10/2). Menhut era Presiden SBY, MS Kaban saat berada di Medan, Minggu (10/2).

Medan-andalas Mantan Menteri Kehutanan (Menhut) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), MS Kaban angkat bicara mengenai penyelidikan yang dilakukan Polda Sumut terhadap alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit di Kabupaten Langkat oleh PT Anugerah Langkat Makmur (ALAM).

Menurut MS Kaban kasus tersebut sangat kental unsur politisnya. Sebab, kasus alih fungsi lahan yang telah terjadi puluhan tahun lalu baru diangkat jelang pelaksanaan Pilpres 2019.

"Ini kasus (alih fungsi lahan) sudah belasan tahun lalu. Masyarakat ikut terlibat menikmati. Apa itu tidak kedaluwarsa. Kalau saya melihatnya sangat politis," kata MS Kaban di Medan, Minggu (10/2).

Saat menjabat Menhut, dia mengaku sudah pernah mempersoalkan kasus alih fungsi lahan tersebut. Namun karena masyarakat ikut menikmati dan berbaur jadi urung dilakukan. "Harusnya ada kearifan lokal. Di sana pun ada unsur pinjaman ADB (Asian Development Bank)," paparnya.

Karena kasus ini diangkat jelang pilpres, maka akan muncul peresepsi aparat penegak hukum terdahulu tidak bekerja. "Kapolda, kapolres sebelumnya ke mana aja, sudah puluhan tahun kasus ini. Muncul persepsi pejabat sebelumnya kenapa diam. Hukum jangan dijadikan alat, hukum harus konsisten. Persepsi politis di kasus ini sangat tinggi," paparnya.

Seperti diketahui Polda Sumut tengah menyelidiki kasus alih fungsi lahan hutan seluas 300 hektare lebih menjadi perkebunan oleh PT ALAM. Dalam kasus ini Direktur PT ALAM Musa Idishah atau Dodi telah ditetapkan sebagai tersangka.

Polda Sumut juga telah memintai keterangan sejumlah nama, termasuk abang kandung Dodi, Wagubsu Musa Rajekshah atau Ijek. Ijek dimintai keterangan dalam kapasitasnya sebagai mantan Direktur PT ALAM.

Sentil Mobil Esemka
MS Kaban berada di Medan dalam rangka menghadiri deklarasi calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Bulan Bintang (PBB) se-Sumatera Utara mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Deklarasi itu digelar di Gedung IPMD, Jalan Setia Budi, Medan, Minggu (10/2), di mana MS Kaban selaku Ketua Dewan Syuro DPP PBB menjadi motor penggeraknya.

Di hadapan para caleg PBB yang hadir, MS Kaban bicara tentang kondisi internal PBB yang bergejolak pasca-rapat koordinasi nasional (rakonas) di Jakarta yang menghasilkan keputusan untuk mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin di pilpres.

"Setelah rakornas saya pergi ke Bandung, di sana banyak komentar miring. Tapi sebagai dewan syuro saya bergeming dan tetap mendukung Prabowo-Sandi," ungkapnya.

Dia pun mengaku sempat mengajak Sandiaga Uno berkeliling ke basis PBB saat berkunjung ke Cianjur. "Kita tunjukkan bahwa di basis PBB masih pro kepada Prabowo-Sandi," tegasnya.

Perbedaan pilihan di internal, kata dia, tidak perlu dipertentangkan. Sebab, majelis syuro yang dipimpinnya tidak akan berubah pilihan dan tetap mendukung Prabowo-Sandi.

Dia juga berbicara tentang kedekatannya dengan Jokowi. Kedekatan itu, kata dia, dimulai ketika Jokowi menjadi calon Wali Kota Solo.

"Mengenai Pak Jokowi, saya pernah dukung beliau jadi Wali Kota Solo. Kalau jumpa pasti tidak lupa dengan saya. Karena waktu itu saya bawa ke basis Islam, kami jalan kaki berdua, makan lesehan di Kota Solo," bebernya.

"Jadi ketika saya ke Solo, Jokowi pasti jemput. Waktu itu belum ada (mobil) Esemka," sentilnya disambut gelak tawa para caleg PBB yang hadir.

"Sampai sekarang tidak ada juga mobil Esemka-nya. Sampai dikatakan ada yang mau beli Esemka 6 ribu unit, sampai sekarang gak ada wujudnya. Bukan hoaks (berita bohong), tapi dia tidak mengerti apa yang dibicarakannya," tegasnya.

Dalam kesempatan itu Ketua Majelis Syuro DPP PBB itu juga menyebut bahwa calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto sudah lama dekat dengan para ulama dan umat Islam.

Bahkan, kedekatan tersebut sudah terjadi saat Prabowo masih aktif di dunia militer. "Ingat, pada waktu dia (Prabowo) jadi Danjen Kopassus, hanya dia satu-satunya nya orang yang mendatangkan ulama di Markas Kopassus Cijantung. Waktu itu ada sekitar 1.500 ulama yang hadir," kata MS Kaban.

Jadi menurutnya, wajar ketika Prabowo bertandang ke pesantren banyak ulama yang menyambutnya. "Tokoh ulama yang paling diidolakan Prabowo itu adalah Solahuddin Al Ayyubi. Dia memang pemahaman ilmu agamanya tidak banyak, tapi dia sayang ulama, dan melindungi ulama dan mencintai Islam. Dia inilah sosok yang pas untuk jadi pemimpin Indonesia," paparnya. Turut hadir dalam acara itu Ketua DPD Partai Gerindra Sumut Gus Irawan Pasaribu dan para caleg PBB se-Sumut. (AFS)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px