Log in

Minggu Paskah Berdarah, 207 Tewas Dalam Ledakan di Sri Lanka

Keluarga korban menangis pasca bom mengguncang tiga gereja dan tiga hotel mewah di Sri Lanka pada Hari Paskah, Minggu (21/4). Keluarga korban menangis pasca bom mengguncang tiga gereja dan tiga hotel mewah di Sri Lanka pada Hari Paskah, Minggu (21/4).

Kolombo-andalas Ledakan bom di tiga gereja dan tiga hotel mewah di Sri Lanka pada Hari Paskah menewaskan setidaknya 207 orang tewas di Sri Lanka.

Sumber di kepolisian Sri Lanka mengatakan, korban tewas akibat ledakan bom di hotel-hotel dan gereja-gereja saat perayaan misa Paskah di Sri Lanka, Minggu (21/4) pagi, terus bertambah.

Dikutip dari Dailymail.co.uk, Minggu (21/4) pukul 19.05 WIB, korban meninggal kini tercatat 207 orang. Sementara sekitar 500 orang korban luka saat ini masih menjalani perawatan medis di berbagai rumah sakit Sri Lanka.

Total terjadi delapan ledakan di berbagai tempat di Sri Lanka, antara lain hotel bintang lima dan tiga gereja di berbagai wilayah. Dugaan sementara para pelaku melakukan aksi bom bunuh diri.

Enam ledakan awal terjadi di tiga gereja dan tiga hotel. Aksi teror itu melukai hingga 500 orang, termasuk warga negara asing. Setidaknya sembilan warga negara asing dari Inggris, AS, Belanda, dan Portugal dikabarkan turut menjadi korban tewas.

Sementara 67 lainnya tewas dalam serangan terhadap sebuah gereja di Negombo di utara ibukota, dan 25 lainnya tewas di sebuah gereja di kota Batticaloa, di sebalah timur negara itu. Motif dari ledakan itu tidak diketahui dan tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab.

Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena, dalam pidatonya mengatakan dia terkejut dengan ledakan tersebut dan meminta warganya untuk tetap tenang. "Saya mengutuk keras serangan pengecut terhadap rakyat kita hari ini," tulis Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe di Twitter.

"Saya menyerukan kepada semua orang Sri Lanka selama masa tragis ini untuk tetap bersatu dan kuat. Harap hindari menyebarkan laporan dan spekulasi yang tidak diverifikasi. Pemerintah mengambil langkah segera untuk mengatasi situasi ini," imbaunya seperti dikutip dari AFP, Minggu (21/4/2019).

Ledakan pertama dilaporkan terjadi di Gereja St. Anthony - sebuah gereja di Kolombo - dan Gereja St. Sebastian di kota Negombo di luar ibukota.

Seorang pejabat kepada AFP mengatakan belasan orang yang terluka dalam ledakan di Gereja St. Anthony membanjiri Rumah Sakit Nasional Kolombo pada pagi hari.

"Serangan bom ke gereja kami, silakan datang dan bantu jika anggota keluarga Anda ada di sana," bunyi sebuah posting dalam bahasa Inggris di halaman Facebook Gereja St. Sebastian yang berada di Katuwapitiya di Negombo.

Tak lama setelah ledakan-ledakan itu dilaporkan, polisi mengkonfirmasi tiga hotel di ibukota itu juga telah diguncang ledakan, bersama dengan sebuah gereja di Batticaloa.

Seorang pejabat di salah satu hotel, Cinnamon Grand Hotel dekat kediaman resmi perdana menteri di Kolombo, mengatakan kepada AFP bahwa ledakan itu telah menghancurkan restoran hotel. Ia mengatakan setidaknya satu orang tewas dalam ledakan itu.

Seorang pejabat di rumah sakit Batticaloa mengatakan kepada AFP bahwa lebih dari 300 orang telah dirawat dengan luka-luka setelah ledakan di sana.

"Pertemuan darurat dilakukan dalam beberapa menit. Operasi penyelamatan sedang berlangsung," Menteri Reformasi Ekonomi dan Distribusi Publik Sri Lanka, Harsha de Silva, mengatakan dalam sebuah tweet.

Ia mengatakan telah mengunjungi dua hotel yang diserang dan berada di tempat kejadian di Gereja St. Anthony, dan menggambarkan adegan yang mengerikan.

"Saya melihat banyak bagian tubuh berserakan," tweetnya, menambahkan bahwa ada banyak korban termasuk orang asing.
Lantainya dipenuhi campuran genteng, serpihan kayu dan darah. Beberapa orang terlihat berlumuran darah, dengan beberapa berusaha membantu mereka yang mengalami cedera lebih serius. Namun gambar tersebut tidak dapat segera diverifikasi.

Hanya sekitar enam persen dari mayoritas penduduk Sri Lanka yang beragama Buddha adalah Katolik, tetapi agama dipandang sebagai kekuatan pemersatu karena mencakup orang-orang dari kelompok etnis Tamil dan mayoritas Sinhala.

Polisi Tangkap Tujuh Orang
Setidaknya tujuh orang ditangkap dan tiga orang petugas polisi tewas dalam penggerebekan di sebuah rumah di Kolombo, Minggu (21/4).

Penggerebekan ini terjadi di rumah terduga orang yang terlibat dalam serangkaian pemboman di gereja dan hotel di Sri Lanka. Polisi dan media setempat, jumlah korbannya kini sudah mencapai lebih dari 200 korban.

"Secara keseluruhan kami memiliki informasi 207 orang tewas dari semua rumah sakit (yang merawat korban). Menurut informasi yang ada sekarang, ada 450 orang yang terluka dan dirawat di rumah sakit," kata juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekera kepada wartawan di Kolombo, dikutip dari AFP.

Hanya saja rincian lebih lanjut tentang penggerebekan rumah di Kolombo ini tak diberikan lagi. Serangan bunuh diri Minggu Paskah Berdarah ternyata telah diketahui oleh Kepala Polisi Sri Lanka. Ia pun telah mengeluarkan peringatan nasional 10 hari sebelum serangan.

Dalam surat peringatan intelijen yang diperoleh AFP, Kepala Polisi Sri Lanka Pujuth Jayasundara, mengatakan pelaku bom bunuh diri berencana untuk melakukan aksinya di gereja-gereja terkemuka. Peringatan itu dikirimkan kepada perwira tinggi pada 11 April lalu.

"Sebuah agen intelijen asing telah melaporkan bahwa NTJ (National Thowheeth Jama'ath) berencana untuk melakukan serangan bunuh diri yang menargetkan gereja-gereja terkemuka serta komisi tinggi India di Kolombo," bunyi peringatan itu seperti dikutip dari The Straits Times, Minggu (21/4).

Tak Ada Korban WNI
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam serangkaian teror ledakan yang terjadi di Ibu Kota Kolombo, Sri Lanka, Minggu pagi waktu setempat.

Berdasarkan rilis dari Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Minggu (21/4), seorang WNI berinisial KW berhasil selamat dari ledakan bom di Hotel Shangri La Kolombo. Saat kejadian KW sedang berada di Hotel tersebut.

Kedutaan Besar RI (KBRI) di Kolombo telah memastikan bahwa KW dalam keadaan selamat dan sudah dievakuasi oleh aparat keamanan Sri Lanka. Selain KW, beberapa WNI lainnya yang menginap di Hotel Shangri La tidak berada di hotel saat kejadian.
Terdapat sekitar 374 WNI di Sri Lanka, antara lain berdomisili di Ibu Kota Kolombo sebanyak 140 orang.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga turut melayangkan kecaman keras atas serangkaian serangan bom yang menghantam Sri Lanka. Setidaknya ada tujuh serangan bom yang menghantam negara tersebut.

"Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban," kata Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam pernyataan tertulis yang diterima, Minggu (21/4).

Kementerian Luar Negeri Indonesia menuturkan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kolombo terus memantau perkembangan situasi dan telah berkoordinasi dengan otoritas keamanan, rumah sakit, dan Perhimpunan WNI setempat. (SNC/MC)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px