Log in

Kisah Pilu Pria di Kabanjahe, Mencari Sebongkah Harapan di Tengah Horor Wabah Corona

Rian sembari menggendong anaknya yang masih balita mencari barang bekas di tengah horor wabah Covid 19 di Kota Kabanjahe. andalas/robert tarigan Rian sembari menggendong anaknya yang masih balita mencari barang bekas di tengah horor wabah Covid 19 di Kota Kabanjahe. andalas/robert tarigan

Kabanjahe-andalas Untuk bertahan hidup, Rian (32) tidak menghiraukan wabah virus corona yang sekarang menjadi horor menakutkan bagi siapa saja di seluruh dunia. Sambil menggendong anaknya, Andi (2,5 tahun), Rian menyisir sejumlah jalan mencari sebongkah harapan untuk bertahan hidup.

Rian mengaku mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana dengan hanya satu kamar di sudut kota Kabanjahe. Sedihnya, mereka juga kesulitan mendapat air bersih. Karena situasi tersebut, mereka pun tak bisa sering mencuci tangan.

Tanpa keluar rumah, barangkali kebutuhan anak dan istri yang juga berprofesi sama dengannya mencari sesuap nasi demi keluarganya terpaksa menyusuri sejumlah jalan dan gang di kota Kabanjahe, walaupun wabah virus corona sungguh sangat menakutkan.

“Kebutuhan sehari-hari saja tak bisa tercukupi, apalagi kami berdiam di rumah,” ujarnya membuka pembicaraan ketika bertemu dengan andalas di pinggir Jalan Kapten Selamat Ketaren Kabanjahe, Kamis siang (2/4).

“Kami lebih takut kelaparan bang, saya tahu ini sangat beresiko, kalau saya tinggalkan anak di rumah, siapa yang jaga, siapa yang kasih makan,” tambahnya seraya bertanya.

Memikirkan uang kontrakan saja pun sudah pening. Belum lagi kebutuhan sehari-hari. “Istri saya juga mencari botot (barang bekas) sambil menggendong anak saya yang kedua,” kata Rian.

Pasangan suami-istri pencari botot keliling itu mengaku hanya memikirkan bagaimana bisa makan dan bertahan hidup, selebihnya tidak ada kami pikirkan. “Setiap hari saya dan istri mencari barang bekas di sepanjang jalan yang di lewati. Kadang berhenti di rumah-rumah warga untuk menanyakan barang bekas yang sudah tidak lagi terpakai,” kata pria yang memiliki dua orang anak, setelah satu anaknya meninggal.

“Banyak suka dukanya bang, namun semua dengan iklas kami jalani. Kami terus berusaha mengais rezeki dengan cara apapun yang penting halal,” tuturnya dengan suara parau.

Di zaman yang serba mahal, ia harus berjuang mempertahankan hidup dengan cara mengais rezeki mengumpulkan barang bekas atau botot.

“Dari hasil jualan barang bekas keliling inilah kami makan, untuk mengobati anak bila sakit. Kadang biar pun sakit tidak diobati, hanya di kompres saja dan dikasih obat kampung,” ujarnya lirih.

Dia berharap pemerintah saat ini lebih memperdulikan masyarakat kecil dan membantu rakyat yang kurang mampu dalam kondisi saat ini. Bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap, hanya cukup untuk makan sehari saja, rasanya Work From Home atau Stay at Home, tidak ada gunanya. Wabah virus corona yang saat ini menjadi horor menakutkan bagi seluruh dunia, tidak membuat sebagian orang merasa terancam, seperti yang dialami Rian. Yang pasti masih banyak Rian-Rian yang lain berpikiran sama.

Ketika dijelaskan sedikit tentang Covid 19, bahwa tidak boleh menyentuh mata, hidung, dan mulut untuk mencegah penyebaran kuman. Harus rajin mencuci tangan dan banyak minum air hangat. Jika sudah di rumah, harus ganti baju, mandi atau cuci tangan, Rian hanya terdiam sejenak sembari menatap kembali ke jalan. Sebuah pertanda hal itu tidak bisa dilakukannya. (RTA)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C