Log in

Kapolres Binjai: Pabrik Rumahan Modus Hindari Pajak

Kapolres Binjai AKBP Nugroho Tri Nuryanto didampingi Kasat Reskrim AKP Wirhan memaparkan kepada awak media barang bukti dan kronologis penangkapan pemilik pabrik mancis Indramawan, dan dua tersangka lainnya di Mapolres Binjai, Senin (24/6). andalas|dedi anora Kapolres Binjai AKBP Nugroho Tri Nuryanto didampingi Kasat Reskrim AKP Wirhan memaparkan kepada awak media barang bukti dan kronologis penangkapan pemilik pabrik mancis Indramawan, dan dua tersangka lainnya di Mapolres Binjai, Senin (24/6). andalas|dedi anora

Kasus Pabrik Mancis “Pencabut” 30 Nyawa

Binjai-andalas Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Binjai AKBP Nugroho Try Nuryanto mengungkapkan, pemilik PT Kiat Unggul, Indramawan, diduga menggunakan modus rumahan untuk menghindari pajak, iuran BPJS Ketenagakerjaan, menghindari masalah perizinan, dan agar gaji pekerja di bawah upah minimum regional (UMR).

"Setelah dilakukan penyelidikan yang lebih mendalam, ternyata ada tiga pabrik rumahan yang dikelola PT Kiat Unggul di Jalan T Amir Hamzah Dusun IV Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat, Desa Banyumas Stabat, Desa Perdamaian Langkat," ujar Kapolres Binjai, saat memaparkan proses pengungkapan kasus kebakaran pabrik mancis yang telah “mencabut” nyawa 30 pekerja termasuk anak-anak, di halaman parkir Polres Binjai, Jalan Sultan Hasanuddin, Binjai Kota, Senin (24/6) siang.

Dengan memperlihatkan ketiga tersangka, yakni Indramarwan selaku pemilik PT Kiat Unggul, Burhan sebagai manajer perusahaan, dan Lismawrni selaku supervisi perusahaan, Kapolres menyebutkan, pihaknya selaku penyidik akan menjerat ketiga orang itu dengan pasal berlapis.

"Atas perkara kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia, ketiga tersangka disangkakan melanggar Pasal 359 KHUP dengan ancaman hukuman 5 penjara. Kami juga akan kenakan pasal industri, pasal tentang lingkungan hidup juga, jadi kena pasal berlapis nantinya. Mereka terancam hukuman 5 sampai 10 tahun penjara," tegas Indramarwan.

Kapolres juga memaparkan proses penangkapan tiga tersangka. Timnya terlebih dahulu mengamankan menajer dan supervisor, yakni Burhan dan Lismawarni.

Dari kedua tersangka tersebut, penyidik mendapat nomor kontak pemilik pabrik, Indramawan. Selanjutnya penyidik meminta tersangka Indramawan untuk datang ke Polres Binjai guna menjalani pemeriksaan.

“Awalnya dia (Idramawan) sudah kooperatif. Pagi itu dia sudah sampai di Kota Medan. Tapi penyidik kehilangan kontak. Karena tersangka ini sempat mengganti nomor ponselnya,” kata Nugroho.

Karena tersangka sudah berupaya melarikan diri, lanjut Nugroho, maka timnya langsung melakukan pengejaran dan akhirnya tersangka berhasil diamankan di salah satu hotel di Kota Medan.

Diketahui, Indramawan (69) lahir di Jambi, menjabat sebagai Dirketur Utama PT Kiat Unggul. Pria keturunan Tionghoa ini tercatat sebagai warga Jembatan Item Pekojan III, No 3 RT/RW 011/007, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tembora Kota Jakarta Timur. Adapun Burhan (37) warga Dusun XV Jalan Bintang Terang, Desa Mulio Rejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang dan Lismawarni (43) lahir di Pangkalan Brandan, Langkat dan tinggal di Jalan Sri Dadi, Desa Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang.

Tersangka Lismawarni menyampaikan, selama ini dirinya mengetahui PT Kiat Unggul memiliki izin dalam beroperasi. Dia tidak mengetahui jika selama ini mandor mengunci pintu saat jam operasional bekerja. Lirmawarni berdalih bahwa penguncian pintu itu inisiatif mandor yang ikut meninggal dunia dalam peristiwa kebakaran itu.

"Sepengetahuan saya, perusahaan memiliki izin operasinya. Untuk menyangkut sistem kunci saat jam kerja, saya tidak mengetahuinya. Hanya mandor yang mengetahui itu semua," sebut Lismawarni.

Sementara itu, Ayu Anita Sari, pekerja pabrik perakitan mancis PT Kiat Unggul yang menjadi penyebab kebakaran sekaligus korban selamat, memberi kesaksian terkait detik-detik peristiwa mengerikan itu terjadi. Kepada polisi, Ayu menceritakan kebakaran itu bermula saat dia mengetes api dari korek yang selesai dirakit.

"Apinya menyambar ke tangan kiri saksi sehingga saksi melempar mancis yang terbakar ke atas meja, yang di atasnya terdapat sisa korek gas yang tidak terisi penuh minyak atau gasnya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (24/6).

Sisa mancis di atas meja tersebut pun terbakar dan api menyambar ke ruangan yang lain. Saksi lain yaitu Nur Asiyah berusaha memadamkan api dengan tabung pemadam api yang ada di dinding ruangan tersebut, namun api tidak berhasil dipadamkan.

"Saksi Ayu berhasil keluar duluan melalui melalui pintu belakang untuk meminta tolong kepada warga dan saksi Nur Asiyah langsung keluar juga bersama saksi. Setelah saksi keluar terjadi ledakan dari dalam rumah sebanyak empat kali, yang mengakibatkan atap seng rumah tersebut terlepas ke atas," ujar Dedi.

Menurut keterangan Ayu dan Nur Asiyah, lanjut Dedi, api membesar. Lalu mereka berteriak meminta tolong dan warga berdatangan untuk mengambil air berusaha untuk memadamkan api. Saat itu, berdasarkan cerita kedua saksi, pekerja lainnya sedang istirahat makan siang di ruang tengah 'pabrik' dan terjebak di dalamnya karena tak bisa keluar.

"Akibat kejadian tersebut, rekan-rekan saksi beserta anak-anak mereka ikut terbakar di dalam rumah tersebut. Selain kedua saksi, ada dua korban selamat yang dibawa menuju ke Polres Binjai untuk diambil keterangan sebagai saksi," tutup Dedi.

Kebakaran di 'pabrik' korek gas itu terjadi pada Jumat (21/6) di Dusun 4, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sebanyak 30 orang dinyatakan tewas dalam peristiwa tersebut.

Korban terjebak dalam api lantaran pintu depan 'pabrik' terkunci. Menurut keterangan para saksi, aktivitas perakitan mancis PT Kiat Unggul tertutup. (DED/DTC/BSC)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px