Log in

Jokowi Ungkap Alasan Genjot Infrastruktur

Presiden Joko Widodo dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat meninjau gerbang tol Kuala Namu beberapa waktu lalu.  Presiden Joko Widodo dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat meninjau gerbang tol Kuala Namu beberapa waktu lalu.

Jakarta-andalas Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo mengungkap alasan banyak membangun infrastruktur selama menjadi Presiden. Menurutnya, infrastruktur adalah pondasi utama sebuah negara untuk bisa bersaing dengan negara lain. Apalagi untuk Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

"Mengenai infrastruktur, kenapa ini menjadi sesuatu yang sangat penting bagi negara. Kita ini negara besar 17 ribu lebih pulau, bukan hanya Jawa tapi ada 17 ribu pulau lain yang perlu diperhatikan juga," kata Jokowi di hadapan ribuan alumni SMA se-Jakarta yang mendeklarasikan dukungan untuk dirinya dan Maruf Amin di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (10/2).

Menurut Jokowi, semua wilayah di Indonesia, baik kota maupun kabupaten hingga pedesaan memerlukan infrastruktur. Karena itu menurutnya, kita tidak bisa bicara soal kompetisi global jika infrastruktur saja belum baik.

"Jangan kita berbicara masalah persaingan, kompetisi, kalau jalan kita belum baik, kalau pelabuhan kita belum baik, pembangkit listrik belum cukup, airport belum siap terima pesawat besar," kata Jokowi.

Alasan-alasan itulah kata Jokowi yang menjadi dasar mengapa pemerintahan di era dirinya selama lima tahun ini sangat fokus untuk membangun infrastruktur. Sebab kata dia, infrastruktur tak hanya berguna dalam jangka waktu pendek tetapi juga jangka waktu panjang.

"Percayalah bahwa infrastruktur ini sangat penting jangka pendek maupun panjang itulah pondasi kita untuk bersaing dengan negara lain," kata dia. 

Pencitraan Politik
Pembangunan infrastruktur di era Jokowi selama ini kerap dikritik. Salah satunya oleh Mantan sekretaris kementerian BUMN Said Didu. Ia menilai, selama empat tahun memerintah, Jokowi lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur komersial daripada membangun infrastruktur dasar untuk rakyat.

Hal itu seperti disampaikan Said dalam diskusi 'Visi Misi Indonesia Menang, Kebijakan Prabowo-Sandi untuk Energi, SDA dan Infrastruktur' di Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Jumat (8/2).

Said sendiri sebelumnya menjabat sebagai salah satu komisaris di PT Bukit Asam (Persero) namun kemudian diberhentikan pada akhir 2018. Dia juga sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Kementerian BUMN.

"Selama ini Jokowi sibuk bangun tol, bangun LRT, MRT, itu untuk kepentingan komersial. Sementara infrastruktur dasar untuk rakyat seperti rumah murah, gedung sekolah, puskesmas, enggak tersentuh. Ada bangun jalan umum, tapi di perbatasan, tidak ada yang lewat. Sementara jalan lintas Sumatera tidak dibangun, padahal sangat dibutuhkan," kata Said.

Said mengatakan, pembangunan infrastruktur pemerintahan Jokowi selama ini terkesan ugal-ugalan dan demi pencitraan politik. Karenanya infrastruktur dibanguan tanpa perencanaan yang baik.

Mahalnya tarif tol trans Jawa disebut Said sebagai salah satu contoh kasus bahwa pembangunan infrastruktur era Jokowi tidak direncanakan dengan baik dan mengabaikan uji kelayakan.

"Belum lagi proyek LRT yang dianggap layak kalau tiketnya Rp45.000 sekali jalan. Lalu siapa nanti yang pakai moda transportasi ini. Sopir-sopir dan pengusaha logistik sudah teriak karena tarif tol mahal, sekarang manfaat untuk rakyat apa?" kata Said.

Pada akhirnya, lanjut Said, beban pembangunan infrastruktur komersil yang mengabaikan uji kelayakan ini berada di pundak sejumlah BUMN.

Dia menilai utang sejumlah BUMN khususnya bidang konstruksi diketahui membengkak lantaran membangun proyek ambisius ini, sementara rakyat tidak merasakan dampak positif dari pembangunan. (CNNI)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px