Log in

Jokowi: Trump Menjengkelkan!


Jakarta-andalas Presiden Joko Widodo mengaku kesal terhadap sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dia mengecam pengakuan Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

"Dua hari yang lalu saya terkejut dan sampai sekarang ini masih dongkol dan jengkel. Kita ini kan sedang berbicara dalam forum-forum internasional mengantisipasi sikap Korea Utara. Eh, ternyata dikejutkan oleh sikap yang satunya lagi, Pemerintah Amerika Serikat," kata Jokowi dalam pembukaan Silaturahmi Kerja Nasional Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat, (8/12).

Jokowi menyebut tindakan 'Negeri Paman Sam' sangat mengejutkan dan menjengkelkan. Dia menilai sikap Trump berbeda dengan yang ditunjukkannya pada Konferensi Tinggi Tinggi ASEAN ke-31 di Manila, Filipina, November lalu.

"Waktu ketemu terakhir di ASEAN ngomongnya enak banget, senyum-senyum. Bahkan saat makan malam, kebetulan jejer dengan istri saya (Iriana) di sini, Trump di sini, saya di sini (menunjuk tempat duduk). Ngajak ngomong istri saya terus. Terus, sepanjang makan malam ajak ngomong Bu Jokowi. Saya juga saya lihatin terus," cerita Jokowi yang disambut tawa oleh hadirin.

Jokowi menilai penyataan Trump soal Yerusalem dapat mengguncang stabilitas keamanan dunia. Pernyataan Trump juga dikhawatirkan banyak kepala negara di dunia. Kondisi ini, bagi Jokowi, adalah kondisi menjengkelkan dan menyakitkan. Namun, hal ini merupakan fakta yang harus dihadapi.

Jokowi mengaku sudah menghubungi kepala negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk membahas sikap AS. Kemarin malam, dia sudah menelepon Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani untuk memastikan kehadiran di sidang OKI di Istanbul, Turki.

Jokowi mengungkapkan para kepala negara OKI menyatakan siap hadir di Turki. "Untuk menunjukkan semuanya betapa kita, dukungan kita, rakyat kita, kepada Palestina tidak berubah," tandas dia.

Jumat siang, Jokowi juga sudah berupaya menghubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Namun, komunikasi belum berhasil. "Mungkin nanti malam saya coba lagi," jelas dia.

Sementara itu terkait peran Indonesia di tingkat global, Presiden menjelaskan Indonesia dipercaya sebagai negara penengah untuk mengatasi konflik pengusiran masyarakat Rohingya di Rakhine State, Myanmar, dan upaya persatuan Afghanistan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterez juga meminta Indonesia dapat menyelesaikan konflik di Rakhine State, jelas Jokowi.

"Mohon doa restu ibu dan bapak sekalian, nanti kita bisa lebih intensif untuk masuk ke dalam guna menyelesaikan persoalan-persoalan di Rakhine State karena kita telah membangun sekolahan dan rumah sakit disana. Saya kira yang dibutuhkan itu, tetapi persoalan intinya memang sangat rumit sekali, karena sebuah sejarah panjang yang harus diselesaikan secara baik," ujar Presiden.

Kemudian terkait persatuan Afghanistan, Jokowi mengatakan Presiden Ashraf Gani telah memuji kuatnya persatuan dan kesatuan Indonesia di tengah ratusan suku yang berbeda.

Afghanistan juga mengirimkan sejumlah ulama dan anggota parlemen untuk mempelajari upaya persatuan bangsa dan demokrasi di Indonesia. Selain itu, Ibu Negara Afghanistan Rula Ghani juga berkeinginan untuk mempelajari peran wanita Indonesia di tingkat masyarakat di desa-desa. Hadir di acara ini, Ketua ICMI Jimly Asshiddiqie dan Ketua Dewan Kehormatan ICMI BJ Habibie. Ada pula Menteri-Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Ajak Bersatu

Sementara itu Menlu Retno Marsudi mengatakan Presiden Joko Widodo mengajak seluruh negara Muslim, terutama anggota OKI, bersatu menyampaikan pesan keras menentang keputusan Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem Ibu Kota Israel. Menurutnya pesan itu diutarakan Jokowi saat menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Tunisia Khemaies Jhinaoui di Istana Bogor pada Jumat (8/12).

"Saat menerima kunjungan kehormatan Menlu Tunisia, Presiden menyampaikan bahwa negara-negara OKI, negara-negara Muslim harus bersatu dan menyampaikan pesan yang keras kepada Amerika," kata Retno Marsudi usai mendampingi Jokowi dalam pertemuan itu

Merespons langkah AS, OKI berencana menggelar pertemuan tingkat tinggi darurat pada 13 Desember mendatang di Istanbul, Turki dan Jokowi dijadwalkan hadir dalam rapat tersebut.

Selain terus berkoordinasi dengan negara Muslim, Retno mengatakan dirinya juga terus berupaya berkomunikasi dengan sejumlah negara Barat, termasuk anggota Uni Eropa, demi menyampaikan pesan tegas Indonesia.

"Kemarin malam saya menghubungi menlu Uni Eropa untuk menyampaikan pesan harapan agar negara lain tidak mengikuti Amerika," ujar Retno.

Menurutnya, komunikasi itu mendapatkan respons positif. Retno berharap Uni Eropa konsisten terhadap komitmen tersebut. Sejak wacana Trump ingin mengakui Yerusalem sebagai milik Israel, Retno terus berkomunikasi dengan Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph Donovan. Donovan telah dua kali dipanggil Retno untuk menjelaskan keputusan Gedung Putih.

Sebelum keputusan itu diambil, Retno juga sempat berkomunikasi dengan Menlu AS Rex Tillerson untuk menyampaikan sikap tegas Indonesia dan meminta Negeri Paman Sam untuk mempertimbangkan niatnya Sebelumnya, Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan berencana memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke sana. Proses itu segera dimulai.

"Hari ini akhirnya kami menyadari hal yang nyata. Bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Ini tidak lebih dari sekadar pengakuan akan kenyataan dan tepat dilakukan," kata Trump di Gedung Putih.

Keputusan Trump berbanding terbalik dengan kebijakan luar negeri AS. 'Negeri Paman Sam' sempat menolak pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel sebelum konflik Israel-Palestina dapat diselesaikan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengapresiasi penuh keputusan Trump. Dia bahkan mengajak negara-negara lain untuk mengikuti jejak AS.

Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengecam keras pengakuan dari Trump. Menurut Abbas, langkah itu melanggar seluruh aturan internasional. Abbas menegaskan Yerusalem adalah ibu kota abadi dari Palestina. Rakyat Palestina, kata dia, tetap berjuang untuk mempertahankan Yerusalem serta kemerdekaan Palestina.

MUI: Putuskan Hubungan Diplomatik

Ketua Majelis Ulama Indonesia bidang Hubungan Luar Negeri KH Muhyidin Junaidi mengatakan Indonesia perlu memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat jika upaya mendesak AS agar membatalkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel menemui jalan buntu.

"Kita bisa putuskan hubungan diplomatik dengan AS jika tidak ada perbaikan," kata Muhyiddin dalam jumpa persnya di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Jumat (7/12).

Dia mengatakan pemutusan hubungan diplomatik penting untuk dilakukan jika "diplomasi diam" dan "diplomasi megapon" dari Indonesia tidak membuat AS menyetop pemindahan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Pemindahan kantor Kedubes AS ke Yerusalem merupakan bentuk pengakuan negara adidaya itu terhadap Al Quds Al Sharif sebagai Ibu Kota Israel. Pengakuan Yerusalem untuk Israel itu berarti AS mulai mengesampingkan solusi dua negara Israel-Palestina yang ditawarkan Persatuan Bangsa-bangsa.

Menurut dia, segala upaya MUI sebagai lembaga nonpemerintah adalah melakukan pertemuan dengan Pemerintah Indonesia dengan memberi masukan-masukan seperti rekomendasi desakan agar AS tidak mendukung pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

MUI, kata dia, tidak hanya akan mengeluarkan pernyataan-pernyataan kecaman tapi juga melakukan kontak dengan berbagai lembaga negara guna mencari solusi dan menekan AS dan Israel agar mengurungkan niat merealisasikan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Dia mengatakan tindakan Presiden AS Donlad Trump soal Yerusalem adalah upaya "mengetes ombak" masyarakat dunia, terutama dunia Islam. Jika reaksi masyarakat dunia menentang maka akan pikir-pikir memainkan isu Yerusalem.

Sebaliknya, lanjut dia, jika masyarakat dunia pasif maka kemungkinan AS dan Israel akan semakin menekan Palestina karena ada indikasi aman untuk meneruskan rencana perluasan tanah Zionis.

"Kalau kuat dan masif penolakannya maka dia akan 'keder.' Maka Indonesia harus memimpin penolakan jangan diam saja.

Bencana Dunia

Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris mengatakan keputusan provokatif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem Ibu Kota Israel dan mempersiapkan pembukaan Kedutaan AS di Yerusalem adalah noktah hitam sejarah peradaban manusia.

Trump bukan hanya menginjak-nginjak upaya perdamaian di Timur Tengah dan melukai hati umat Islam di seluruh dunia, tetapi juga berpotensi melahirkan bencana besar bagi kedamaian dunia.

"Bencana dunia itu bernama Trump. Jika dia tetap ngotot merealisasikan keputusan provakatif ini, kelak lembaran sejarah dunia akan mencatatkan namanya sebagai salah satu tokoh yang menjadi noktah hitam dalam perabadan modern manusia. Warga dunia harus melawan keputusan ini," ujar Fahira Idris di sela-sela Kunjungan Kerja di Biak, Papua, Kamis (7/12).

Fahira mengatakan provokasi yang dilakukan Trump menunjukkan bahwa Presiden Amerika ke-45 ini tidak hanya mengoyak-ngoyak kesepakatan Dewan Keamanan PBB. Trump juga memunggungi perjuangan dan komitmen negara-negara Muslim dan negara-negara lain di dunia, dalam membantu kemerdekaan Palestina.

"Trump sama sekali tidak memperdulikan sikap tegas negara-negara Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia, Turki, dan banyak negera Muslim lainnya yang selama ini memperjuangkan kemerdekaan Palestina," imbuhnya. 

Trump seolah menutup telinga atas penolakan negara-negara besar seperti Rusia dan China serta negara-negara di Uni Eropa. "Orang seperti ini benar-benar akan menjadi bencana besar bagi dunia," ujar Senator Jakarta ini.

Menurut Fahira, Pemerintah Indonesia harus mengambil peran besar dalam menghentikan rencana tidak bertanggung jawab Presiden Trump ini, bukan hanya karena Indonesia negara Muslim terbesar di dunia tetapi karena ikut memerdekakan Palestina merupakan amanat konsititusi.

Konstitusi yang dibuat para pendiri bangsa ini, lanjut Fahira, mengamanatkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak boleh tinggal diam selama masih ada penindasan dan penjajahan di atas dunia.

"Ini saatnya Presiden Jokowi ambil peran besar sebagai kepala negara terdepan yang menekan Amerika mengurungkan niatnya tersebut. Ini momentum bagi Presiden Jokowi untuk menjalankan komitmennya saat kampanye untuk berdiri bersama rakyat Palestina menuju kemerdekaan," ungkap Fahira.

Jika nanti keputusan Trump ini benar-benar direalisasikan, Fahira berharap Indonesia harus mampu yakinkan dunia, bahwa tidak boleh ada satupun negara yang mengikuti jejak Amerika mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. (TBN/MTV/CNNI/ANT)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px