Log in

Enam Tokoh Dinugerahi Gelar Pahlawan Nasional


Jakarta-andalas Presiden Joko Widodo menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

Enam tokoh dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Tahun 2017 yakni Almarhum Abdurrahman Bawesdan dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Almarhumah Agung Hajjah Andi Depu dari Provinsi Sulawesi Barat, Almarhum Depati Amir dari Provinsi Bangka Belitung, Almarhum Kasman Singodimejo dari Provinsi Jawa Tengah, Almarhum Ir H Pangeran Mohammad Noor dari Provinsi Kalimantan Selatan dan Almarhum Brigjen KH Syam'un dari Provinsi Banten.

Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI Nomor 123/TK/TAHUN 2018 tanggal 6 November 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Acara penganugerahan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan Nasional Tahun 2017.

Almarhum Abdurrahman Bawesdan yang merupakan kakek dari Gubernur DKI Jakarta Anies Bawesdan merupakan tokoh yang memperjuangkan integrasi keturunan Arab menjadi bangsa Indonesia.

Tokoh yang lahir 9 September 1908 di Surabaya dan besar di Yogyakarta ini terlibat dalam dunia pergerakan dengan mengusung cita-cita mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Perjuangan Abdurrahaman Bawesdan ini dilakukan melalui dunia jurnalistik dengan tulisan-tulisannya di surat kabar serta dalam kepartaian melalui Partai Arab Indonesia (PAI) dan juga menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Sedangkan Almarhumah Agung Hajjah Andi Depu adalah pelaku sejarah Indonesia dan merupakan sosok perempuan yang telah memberikan dedikasi serta loyalitas yang tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh perempuan dari Sulawesi Barat yang lahir pada 19 Agustus 1908 ini memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan menggerakkan dan mengoordinasikan semangat para pemuda-pemudi untuk melawan penjajahan di Indonesia.

Almarhum Depati Amir merupakan tokoh pemimpin perlawanan melawan Belanda pada 1830-1851 yang berhasil menyertakan gabungan warga lokal dan komunitas "asing-pendatang" (penambang Tionghoa).

Tokoh pahlawan yang diusulkan masyarakat Provinsi Bangka Belitung ini telah menerapkan perlawanan dengan gerilya dengan Belanda selama 20 tahun.

Almarhum Kasman Singodimejo merupakan tokoh Muhammadiyah merupakan pemersatu bangsa, yakni saat proses pengesahan UUD 1945, tepatnya rapat PPKI meluluhkan hati tokoh golongan Islam Ki Bagus Hadikusumo untuk menghilangkan tujuh kata terkait syariat Islam dalam sila pertama Pancasila, yakni "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Tujuh kalimat ini dihilangkan karena mendapat penolakan dari perwakilan Indonesia bagian timur jika tujuh kata tersebut tetap dipertahankan.

Almarhum Ir H Pangeran Mohammad Noor adalah tokoh yang telah berjuang bersama-sama rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan sejak kuliah di THS Bandung hingga terlibat menjadi anggota "Jong Islamieten Bond."

Sebagai Gubernur Kalimantan yang berkedudukan di Yogyakarta, Mohammad Noor melakukan pelatihan militer kepada para pemuda untuk diterjunkan ke medan perang melawan Belanda di Kalimantan.

Sementara almarhum Brigjen KH Syam'un adalah tokoh yang berjuang melalui pendekatan pendidikan (mendirikan pesantren) dan mengangkat senjata melawan Belanda, yakni masuk jadi anggota PETA, Panglima BKR dan TKR.

Sebelumnya Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan tokoh yang mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional tahun ini lebih banyak dibandingkan 2017. Tahun lalu ada empat tokoh yakni Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Madjid asal Nusa Tenggara Barat, Laksamana Malahayati asal Aceh, Sultan Mahmud Riayat Syah asal Kepulauan Riau serta Prof Drs Lafran Pane asal Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain itu pemerintah juga mempertimbangkan sutradara Usmar Ismail sebagai pahlawan nasional.

Hal itu disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla usai menerima Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Bidang Kerja Sama Antarlembaga, Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia Embie C Noer di Kantor Wapres Jakarta, Selasa lalu.

"Jadi, dunia perfilman mengusulkan Usmar Ismail sebagai Pahlawan Nasional. Saya kira dari segi perfilman tentu sangat penting," kata Wapres Jusuf Kalla kepada wartawan.

Namun, usulan gelar pahlawan nasional untuk sutradara kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, itu tidak dapat dilakukan tahun ini karena pengumuman gelar Pahlawan Nasional akan dilakukan pada Kamis (8/11) mendatang.

Usulan gelar Pahlawan Nasional bagi almarhum Usmar Ismail disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta selaku kepala daerah tempat sosok calon pahlawan tersebut berkarya atau meninggal dunia.

"Saya bilang, ini belum tahun ini karena sudah mepet. Tentu yang harus mengusulkan kan daerah, dalam hal ini DKI Jakarta, di mana tokoh itu berada, lahir dan sebagainya," ujarnya.

Sementara itu jurnalis perempuan pertama di Indonesia, Ruhana Kuddus untuk keduakalinya gagal menjadi pahlawan nasional meski telah memenuhi persyaratan dalam proses pengusulan dari daerah.

"Kita telah dapat informasi, Ruhana Kuddus belum masuk enam tokoh yang ditetapkan presiden sebagai pahlawan nasional," ungkap Kepala Dinas Sosial Sumatera Barat (Sumbar), Abdul Gafar di Padang, Kamis (8/11).

Gafar menjelaskan, dalam perjalanan penetapan pahlawan nasional, nama pionir pers perempuan asal Sumbar itu sudah masuk dalam 18 nama yang diajukan Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Kementerian Sosial. Akan tetapi dalam seleksi final, nama Ruhana Kuddus tersisih bersama 12 nama lain.

"Ruhana Kuddus sudah dua kali kita usulkan supaya ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Beliau sosok yang memang patut jadi pahlawan nasional, apakah bisa diusulkan lagi atau tidak, kami akan kaji kembali,” bebernya.

Ruhana Kuddus merupakan perempuan kelahiran Koto Gadang, Kabupaten Agam pada 20 Desember 1884. Sejarah mencatatnya sebagai perempuan yang peduli dengan pendidikan.

Pada 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari mengajar, Ruhana aktif pula menulis. Hal itu menghantarkannya menulis di surat kabar perempuan, namanya Poetri Hindia. Namun surat kabar itu ditutup oleh pemerintahan kolonial. Akhirnya, Ruhana mencoba mendirikan surat kabar sendiri, yakni Soenting Melajoe. Ruhana Kuddus meninggal di Jakarta pada 17 Agustus 1972 pada usia 87 tahun. (ANT/KBRN)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 6.44 km/h

  • 21 Nov 2018 27°C 22°C
  • 22 Nov 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px