Log in

Edy Mundur dari Ketum PSSI

Edy Rahmayadi dalam acara kongres tahunan PSSI di Hotel Sofitel Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1). Edy Rahmayadi dalam acara kongres tahunan PSSI di Hotel Sofitel Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1).

Nusa Dua-andalas Edy Rahmayadi meminta maaf setelah memutuskan mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI. Dia merasa selama menjadi Ketua Umum PSSI gagal mewujudkan mimpi masyarakat, yakni membawa Timnas Indonesia berprestasi.

"Saya mohon maaf, titip salam kepada seluruh rakyat Indonesia," ujar Edy Rahmayadi dalam acara kongres tahunan PSSI di Hotel Sofitel Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1).

"Sampai tahun kedua, saya tidak mampu mewujudkan itu. Bahkan, apa yang kami gariskan terjadi di luar yang kita inginkan," tambah pria yang menjabat Ketua Umum PSSI sejak 2016 itu.

Menurut Edy, banyak persoalan yang menimpa PSSI. "Mulai dari konflik suporter dengan pemain sampai terjadi korban. Ada yang menyalahi hukum, pengaturan skor, dan sebagainya," papar mantan Pangkostrad itu.

Selama 32 tahun berkarier di berbagai organisasi, Edy mengaku PSSI adalah organisasi paling berat yang diurusnya. "PSSI inilah yang paling berat yang saya alami. Jadi, mudah-mudahan ketua ke depan itulah orang yang masuk surga, Insya Allah,"  ucapnya.

"PSSI ini milik rakyat seluruh Indonesia yang diwakilkan kepada kita. Saya mohon maaf amanah yang diberikan rakyat, saya tidak mampu lakukan ini. Ini yang pertama yang ingin saya sampaikan," kata Edy Rahmayadi.

Edy Rahmayadi menegaskan dalam mengurus PSSI ada dua hal penting yang harus diperhatikan. Pertama adalah skill, sedangkan yang kedua, loyalitas.

"Kalau dia mempunya skill tapi tak memiliki loyalitas, tidak guna organisasi. Begitu juga sebaliknya, karena dia harus berjalan bersama-sama," terangnya.

Edy Rahmayadi mengungkapkan ada kelompok yang menggelar pertemuan di luar PSSI untuk menyoroti kinerjanya. "Tolong hentikan itu karena ini rumah PSSI yang besar. Kita besarkan PSSI," ujarnya

"Demi Allah bukan karena saya mengalah atau menyerah, tapi kepentingan bangsa ini segalanya untuk saya," tegas Edy soal keputusannya sebagai Ketua Umum PSSI.

Dalam sambutannya, dia juga menyatakan mundurnya dia dari jabatannya sebagai Ketua Umum (Ketum) PSSI, membuktikan dirinya tidak haus kekuasaan.

Memang sebelumnya, tuntutan agar mantan Pangkostrad itu mundur dari Ketum PSSI sudah banyak bergaung. Itu tidak terlepas dari dirinya yang kini juga sudah menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara.

"Jangan kalian berfikir bahwa Edy Rahmayadi mentang-mentang. Tidak! Saya ada di sini karena cinta sama PSSI. Hanya orang-orang pengkhianat sama PSSI ini yang mau berbicara tanpa dasar PSSI," tegas Edy.

"Demi PSSI berjalan dan maju, makanya saya nyatakan hari ini saya mundur dari Ketua Umum PSSI. Dengan syarat jangan khianati PSSI. Jangan karena satu hal yang lain kita bercokol merusak rumah besar kita, warisan leluhur kita," tambahnya.

Menurutnya, keputusannya itu telah dipertimbangkan dengan masak-masak. "Ini semua saya lakukan dalam kondisi sehat wal afiat. Bertanggung jawab lah kalian. Saya mundur bukan tidak bertanggung jawab, tapi karena saya bertanggung jawab,"  katanya.

Lebih lanjut, Edy menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan PSSI kepada Wakil Ketua Umum, Joko Driyono. Itu memang sesuai dengan yang tertera di Statuta PSSI.

"Sesuai dengan aturan organisasi, ketika ketua umum mundur maka wakil ketua umum yang menggantikan. Silakan maju ke depan Pak Joko. Wakil Ketua Umum PSSI mengemban tugas sampai batas waktu yang diagendakan setelah ini," tuturnya.

Edy kemudian menyerahkan bendera PSSI kepada Joko Driyono sebagai simbol estafet kepemimpinan di tubuh federasi tertinggi sepakbola dalam negeri itu. Selanjutnya, Edy berpesan kepada peserta kongres yang memiliki hasrat menjadi ketua umum menggantikan dirinya untuk mendaftarkan diri sesuai prosedur yang ditentukan.

"Kalau mau jadi ketua daftar yang baik. Ini jabatan suci. Kalau ada yang berfikir ingin kaya dengan menjadi ketua PSSI, hentikan. Karena PSSI bukan untuk itu," jelasnya.

"Sama seperti voters dan Asprov dengan kekurangannya berbuat untuk semua. Saya serahkan bendera ini. Detik ini saya sah (bukan lagi Ketum PSSI). Saya serahkan kepemimpinan ini untuk dilanjutkan. Saya tidak mau ada yang mengkhianati keputusan saya ini. Saya mohon maaf apabila ada kata yang tak tepat, perbuatan tak baik. Saya manusia biasa. Saya berbuat terbaik, tapi inilah kemampuan saya. Bersatu kalian besarkan PSSI kita," pungkasnya.

Tak Terkejut
Sekretaris Umum PSMS Medan, Julius Raja, tak terkejut dengan mundurnya Edy Rahmayadi. Dia bilang keputusan itu dibuat tadi malam. Edy menyampaikan keputusan untuk mundur dari Ketua Umum PSSI pada Minggu pagi (20/1) WITA. Dia menyampaikannya pada pidato pembukaan Kongres PSSI di Bali.

Pria yang juga menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara itu hadir dalam gala dinner pada Sabtu (19/1). Dalam acara itu, peserta Kongres yang hadir hanya sedikit.

Usai menyampaikan salam selamat datang, Edy meninggalkan hotel. Usai menyampaikan salam itu, Edy bergegas menuju mobil. Edy didampingi Julius Raja. Setelah itu, Julius mengaku sempat bicara dengan Edy sampai larut lama sebelum Kongres PSSI berlangsung.

"Kita berdialog dengan Pak Edy sampai tadi malam. Dialog, kita berikan beberapa gambaran, tapi dia (Edy) katakan sama aja. Mau sekarang, mau tiga bulan yang akan datang, toh saya mundur. Cuma persoalan waktu, lebih tepat sekarang," kata Edy.

"Ya, karena sebagian tidak hadir itu. Sudah gitu, dia seperti mendapat informasi ada kubu sana dan kubu sini. Dapat informasi seperti itu dan daripada nanti dia menunggu di kongres ini nanti ada yang mengangkat tangan minta menyatakan Pak Edy mundur, sebelum itu semua terjadi, setelah pemikiran yang matang, dia mengatakan dia mundur," dia menambahkan.

"Keputusan tadi pagi jam 05.00 subuh, beliau solat, terus beliau memutuskan, terus jam 07.00 semua Exco dikumpulin menyatakan itu," dia menegaskan. Julius Raja hadir sebagai voter perwakilan PSMS bersama CEO Dody Taher dan Penasihat Kodrat Shah.

Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi mundurnya Edy Rahmayadi dari Ketua Umum Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI). Dengan demikian, Edy bisa fokus menjabat Gubernur Sumatera Utara.

"Terlepas dari kisruh mafia bola, mundurnya Edy, yang kini menjadi Gubernur Sumut, patut diapresiasi karena dengan demikian yang bersangkutan bisa lebih fokus mengurus rakyat Sumut yang telah memilihnya," ujar Bamsoet.

Sebelum mengundurkan diri, Edy sempat double job sebagai Gubernur Sumut. "Dan seharusnya memang begitulah seharusnya sikap seorang pejabat publik," kata Bamsoet.

Bamsoet meyakini mundurnya Edy tidak berkaitan dengan Satgas Antimafia Bola, yang dibentuk kepolisian. "Ya (tidak berkaitan)," ujar Bamsoet.

Seperti diketahui, Kongres Tahunan PSSI 2019 digelar pada hari Minggu (20/1) pukul 09.00 WIB di Hotel Sofitel Nusa Dua, Bali. Para peserta Kongres bersama pengurus PSSI telah melakukan welcome dinner.

Kongres ini akan diikuti 85 voter dari berbagai anggota PSSI. 85 voter PSSI terdiri dari 34 Asosiasi Provinsi (Asprov), 18 klub Liga 1, 16 klub Liga 2, 16 klub Liga 3, dan 1 Asosiasi Futsal (FFI).

Pada Kongres ini, beberapa agenda akan dibahas seperti laporan kegiatan serta keuangan PSSI tahun 2018. Lalu laporan dari operator PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan Federasi Futsal Indonesia (FFI).

Selain itu, juga akan dipaparkan program serta rencana anggaran PSSI di tahun 2019. Dan juga akan diagendakan pengangkatan, peresmian serta pemberhentian orang atau badan. Serta pengesahan anggota PSSI yang baru.

Kongres juga akan membahas pembentukan Komite Adhoc Integritas untuk penuntasan masalah match fixing dan match manupulation. (LIP6/Goal/DTC/PJS)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px