Log in

Dua Oknum Polisi Terlibat Sindikat Kejahatan Nova Zein

Direktur Reskrimum Polda Sumut Kombes Pol Andi Rian didampingi Wadir AKBP Andri Setiawan merilis penangkapan tersangka baru kasus Nova Zein, Senin (12/3). Direktur Reskrimum Polda Sumut Kombes Pol Andi Rian didampingi Wadir AKBP Andri Setiawan merilis penangkapan tersangka baru kasus Nova Zein, Senin (12/3).

Lagi, Polda Sumut Amankan Tujuh Mobil Hasil Penggelapan

Sindikat penipuan dan penggelapan mobil mewah yang diotaki Nova Zein (NZ) ternyata melibatkan dua oknum Polri. Kedua oknum Polri berinisial AN dan NO itu ditangkap petugas Subdit III/Umum Direktorat (Dit) Reskrimum Polda Sumut bersama dua orang tersangka lainnya.

Kempat tersangka tersebut ditangkap dari tempat terpisah dan waktu berbeda. Dari mereka petugas juga berhasil mengamankan barang bukti berupa tujuh unit mobil yang diduga merupakan hasil penggelapan.

“Dari pengembangan kasus penggelapan mobil tersangka NZ, kita kembali menangkap empat tersangka baru dan mengamankan tujuh unit mobil,” terang Direktur Reskrimum Polda Sumut Kombes Pol Andi Rian didampingi Wadir AKBP Andri Setiawan kepada wartawan, Senin (12/3).

Dijelaskan Andi, dua dari empat tersangka, yakni AN dan NO merupakan anggota Polri. AN personel Bidang Propam Polda Aceh, sedangkan NO anggota Polres Sergai. Sementara dua tersangka lainnya warga sipil, yakni Jefri warga Sei Mencirim, Sunggal, Deli Serdang dan Dedi Aceh, warga Tembung, Deli Serdang.

Keempat tersangka baru yang ditangkap tersebut berperan sebagai pengedar atau penjual mobil mewah rentalan yang telah digelapkan Nova Zein dari pemiliknya dengan harga ratusan juta rupiah. Untuk Toyota Fortuner VRZ dijual Rp190 juta. 

“Mereka ini berperan sebagai pengedar atau perantara jual dengan komisi antara Rp1 juta hingga Rp3 juta. Sampai sekarang sudah 11 unit mobil hasil penggelapan NZ yang kita sita dari Aceh, Riau, dan Sumatera Barat,” beber Andi.

Ke-11 mobil tersebut terdiri 4 unit hasil penangkapan sebelumnya, diantaranya, Alpard, Innova, Pajero Sport. Sedangkan 7 unit yang menyusul pada penangkapan 4 tersangka baru, yakni 3 Fortuner, 2 Innova, dan 2 Avanza.

Dia mengungkapkan, dalam kasus yang melibatkan NZ, pihaknya telah menangani delapan laporan polisi (LP), termasuk dugaan penipuan dan penggelapan uang. Untuk kasus penipuan dan penggelapan mobil, berdasarkan LP tersebut, diketahui sebanyak 76 unit mobil korbannya telah dijual kepada penadah dengan harga bervariasi.  Saat ini, penyelidik tengah memburu 65 unit mobil lagi di lapangan. “Kita masih terus mengembangkan kasus ini, mungkin masih ada tersangka lain  

Seorang tersangka menjawab pertanyaan Kombes Andi Rian menyebutkan, praktik penggelapan mobil mewah rentalan tersebut adalah dengan cara meyakinkan para pembeli atau penadah bahwa mobil yang dijual tidak ada masalah.

Segala urusan kepemilikan kendaraan dan dokumennya bisa langsung berhubungan dengan NZ. “Kita hanya ngomong sama pembelinya tidak ada masalah, dan kalau urusan STNK atau surat-suratnya bisa berhubungan langsung dengan Nova Zein,” beber seorang tersangka.

Dalam kaitan itu, Andi Rian mengimbau kepada para pembeli atau penadah mobil yang pernah berurusan dengan tersangka Nova Zein untuk segera berkoordinasi dengan pihak Subdit III/Umum Dit Reskrimum Poldasu.

“Lebih baik dia (penadah, red) datang ke kita bertemu dengan penyidik, daripada nanti tertangkap di jalan. Kita tunggu itikad baik para pembeli mobil dari NZ itu,” imbau Andi.

Sebelumnya, mengatasnamakan anggota badan organisasi sayap dunia PBB (United Nation) membidangi sektor perempuan, Nova Zein (NZ/33), warga Kompleks Perumahaan Graha Johor, Blok B, Nomor 7, Kecamatan Medan Johor, ditengarai telah menjual lebih dari 67 unit mobil mewah yang direntalnya.

Selain NZ, polisi juga menangkap tiga tersangka lain masing-masing UG sebagai sopir, sekretarisnya berinisial KB alias C dan agen penjualan berinisial HP. Jumlah tersangka masih bisa bertambah, karena penadahnya belum ditangkap.

Polda Sumut sudah menerima belasan laporan korban. Penyelidikan dan penyidikan polisi, yayasan Sumatera Women Foundation yang digunakan  tersangka untuk menipu para korbannya, ternyata lembaga fiktif alias ilegal. "Sampai saat ini pelaku tidak bisa menunjukkan akte pendiriannya (lembaga, red). Jadi bisa dibilang ilegal," tegas Andi Rian.

Modus penipuan dan penggelapan ini, terang Andi, NZ membuat perjanjian dengan korban untuk memperoleh kendaraan operasional. Untuk memuluskan aksinya, komplotan ini membawa-bawa nama lembaga sayap PBB. (DA)

Beri Komentar Anda

Wajib isi yang bertanda asterik (*). Kode HTML tidak diperbolehkan.

23°C

Medan, Sumatera Utara

Mostly Cloudy

Humidity: 93%

Wind: 6.44 km/h

  • 16 Aug 2018 30°C 23°C
  • 17 Aug 2018 31°C 23°C

Banner 468 x 60 px