Log in

Dituntut Hukuman Mati, Zulkifli Lemas

Zulkifli, saat dituntut hukuman mati di PN Medan, Rabu (7/11). Zulkifli, saat dituntut hukuman mati di PN Medan, Rabu (7/11).

Miliki 14,5 Kg Sabu dan 70.905 Butir Ekstasi

Medan-andalas Wajah Zulkifli bin Ismail alias Joel (36) terlihat pucat dan tetunduk lemas saat jaksa penuntut umum (JPU) Sarjani Sianturi menuntutnya dengan hukuman mati karena telah bersalah dalam perkara kepemilikan 14,5524 kilogram sabu-sabu dan 70.905 butir ekstasi.

"Meminta agar majelis hakim menghukum terdakwa dengan pidana mati," kata Sarjani di hadapan majelis hakim yang diketuai Dominggus Silaban dalam sidang yang berlangsung di Ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (7/11) petang.

Dalam nota tuntutannya, JPU menyatakan terdakwa yang merupakan anggota sindikat narkoba jaringan internasional itu dinilai terbukti bersalah melanggar Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 dan subsidair Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Ketika majelis hakim meminta tanggapannya terkait tuntutan JPU, dengan wajah lesu Zulkifli langsung memohon agar majelis hakim mau meringankan hukumannya.

"Tolonglah saya Pak Hakim agar hukuman ini diringankan. Saya janji nanti setelah keluar dari penjara saya akan bertobat, tidak menjual narkoba lagi," ucap terdakwa dengan suara parau menahan tangis.

Menanggapi permintaan terdakwa, majelis hakim dengan singkat sambil tersenyum menyatakan, agar terdakwa membuat pledoi dan setelah itu nanti akan dipertimbangkan. "Ya nanti, akan dipertimbangkan, buat dulu pledoi mu," ucap hakim.

Usai mendengar tuntutan jaksa dan permohonan terdakwa, majelis hakim menutup sidang. "Minggu depan kita lanjutkan dengan agenda pledoi dari terdakwa," ucap majelis hakim sembari mengetukkan palunya.

Zulkifli yang merupakan warga Dusun Tgk Tanjong Desa Matang Drien, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Aceh ini ditangkap petugas kepolisian di Jalan Asrama, depan pool Bus Sempati Star, Sei Sikambing, Medan, Minggu (25/2/2018) siang. Dia ditangkap bersama Dedi Saputra Marpaung bin Sobari (berkas terpisah).

Selain keduanya, petugas juga meringkus Amiruddin alias Amir alias Edoi (berkas terpisah), serta Amrizal alias Amri yang kemudian meninggal dunia.

Perkara ini berawal pada Sabtu (24/2/2018) petang, saat Zulkifli ditelepon Amrizal. Dia diperintahkan untuk me-rental mobil untuk membawa sabu-sabu dan ekstasi ke Medan dengan upah Rp40 juta.

Zulkifli juga disuruh mengajak Dedi untuk bertemu Amrizal di Pasar Panton, Aceh Utara. Dalam pertemuan itu, Zulkifli menerima Rp1,3 juta, sedangkan Dedi diberi Rp200 ribu. Amrizal memerintahkan keduanya mengambil mobil rental Toyota Avanza putih dengan Nopol B 2139 SZK di Lhokseumawe. Mobil itu disewa Rp900 ribu untuk tiga hari.

Setelah membawa mobil, Zulkifli dan Dedi kembali ke Pasar Ponton. Amrizal kemudian memberi mereka Rp1,5 juta sebagai ongkos operasional membawa sabu-sabu dan ekstasi ke Medan.

Amrizal kemudian menyuruh Zulkifli dan Dedi menemui seseorang di Tualang Cut, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Di sana mereka bertemu Basri yang mengatur penyerahan sabu-sabu dan ekstasi.

Setelah menerima narkotika itu, Zulkifli dan Dedi bergerak ke Medan. Setelah sampai, mereka menghubungi Amrizal. Dedi kemudian disuruh menyerahkan kunci mobil kepada Amiruddin.  Tak lama setelah penyerahan itu, Zulkifli dan Dedi ditangkap petugas kepolisian.

Pada saat bersamaan, Amiruddin juga diringkus dengan barang bukti 2 tas ransel hitam berisi 14 bungkus narkotika jenis sabu-sabu dengan berat bruto 14.552,4 gram dan 70.905 butir pil ekstasi atau berat bruto 20.099 gram. Setelah penangkapan itu dikembangkan, Amrizal disergap. Dia ditembak dan meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Kasus Penipuan CPNS
Sementara itu masih di Ruang Cakra 6, majelis hakim PN Medan kembali menyidangkan perkara penipuan terhadap sejumlah calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Pemkab Batu Bara dengan terdakwa Suparman.

Pada sidang kali ini sejumlah saksi korban dihadirkan untuk memberikan kesaksian, salah satunya adalah Salamah. Di depan majelis hakim yang diketuai T Oyong, Salamah menuturkan tergiur menjadi PNS karena terdakwa Suparman mengaku memiliki kenalan orang Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Jakarta.

"Terdakwa Suparman mengaku punya kenalan orang BKN di Jakarta, sehingga saya percaya dengan kata-katanya, apalagi saat itu dia (Suparman) masih bekerja di PT Inalum," ungkap Salamah saat didengar kesaksiannya.

Salamah juga mengaku pada tahun 2013 juga pernah mengalami kasus serupa. Uang Rp100 juta miliknya nyaris lenyap. Atas pengakuan itu, hakim pun mencecar Salamah dengan pertanyaan. "Kenapa saudara masih percaya juga dan kejadian seperti ini masih terulang pada tahun 2014, 2015, dan 2016," tanya hakim.

"Saat itu dia sangat meyakinkan Pak Hakim, apalagi dia kan kerja di Inalum dan mengaku memiliki kenalan di BKN Pusat, jadi saya percaya aja, Pak Hakim," ujar saksi.

Bahkan sambil menangis Salamah menceritakan akibat penipuan yang dialaminya, rumah tangganya hancur berantakan, dan mobil rentalnya pun terjual. Dikatakan saksi, ada enam orang yang menjadi korban penipuan Suparman, selain kasus yang pertama terjadi pada tahun 2013.

"Totalnya sebenarnya ada tujuh orang, namun yang pertama itu tahun 2013 sudah dikembalikannya. Ada surat tanah yang diberikannya kepada korban. Dia takut karena korbannya itu istri seorang Polisi Militer," beber saksi.

Sebelumnya saksi korban mengatakan, setiap korban menderita puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jumlah uang yang disetorkan untuk dapat menjadi PNS di Kabupaten Batu Bara itu bervariasi disesuaikan tingkat pendidikannya. CPNS yang berpendidikan SMA, D3, dan S1 tidak sama. Namun jumlah uang dari enam orang tersebut mencapai Rp700 juta lebih.

Usai sidang, Suhery kuasa hukum terdakwa kepada wartawan mengatakan bahwa sebenarnya kasus ini adalah penipuan berantai dan terdakwa juga adalah korban.

"Klien saya adalah korban juga. Sebenarnya pada tahun 2015 lalu, kami sudah melaporkan seorang bernama Gani ke Polres Batu Bara. Namun tidak ada penanganan hukumnya.Bahkan ia terlihat menjadi anggota tim sukses salah satu pasangan calon di Pilkada Batu Bara baru-baru ini. Namun anehnya polisi menyatakan dia DPO," tegas Herry.

Sebelumnya dalam surat dakwaan JPU Ahmad Ketaren menyebutkan, Suparman didakwa melanggar Pasal 378 ayat 1 ke 1 KUH Pidana tentang tindak pidana penipuan. (AFS)

23°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 8.05 km/h

  • 21 Nov 2018 27°C 22°C
  • 22 Nov 2018 27°C 22°C

Banner 468 x 60 px