Logo
Print this page

Diancam, Ribuan Nelayan Tak Melaut

Belasan kapal pukat yang tertambat di tepi kuala Pagurawan tak beroperasi karena dilarang. andalas/saptha Belasan kapal pukat yang tertambat di tepi kuala Pagurawan tak beroperasi karena dilarang. andalas/saptha

Tebing Tinggi-andalas Ribuan nelayan Pagurawan, Kabupaten Batu Bara dan keluarganya terancam kelaparan. Pasalnya sudah 10 hari mereka tidak boleh melaut, karena adanya pelarangan dan ancaman penangkapan dari aparat penegak hukum. Sejumlah nelayan dan pengusaha ikan kecil-kecilan, Minggu (9/9), di Pagurawan menyampaikan keluh dan kesahnya.

M Nasar, (50) warga Kelurahan Sidomulyo mengaku harus jadi pengojek demi untuk bertahan hidup. "Barusan saya antar uang 10 ribu ke rumah menyuruh keluarga untuk cepat beli beras. Kami sudah pusing gara-gara dilarang melaut," keluh Nasar.

Sedangkan warga lain, Khairul mengaku tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena menjadi nelayan adalah pekerjaan utamanya sejak dahulu.

"Udah 10 hari tak kerja begini, ondak merokok saja susah," ucap ayah tiga anak ini. Nasib yang sama dialami sekira 500 para nelayan di Pagurawan.

Pengusaha penampung hasil nelayan Sahrul merasakan hal sama. Dia menilai pelarangan yang dilakukan pemerintah tidak adil. Pasalnya melaut dengan pukat layang atau jenis lain yang dilarang tidak merusak habitat laut secara total, karena masih bisa diperbarui alam. "Yang paling merusak habitat laut itu justru perusahaan besar di tepi laut yang bertebar di sekitar Pagurawan ini," papar Sahrul.

Mereka menilai pemerintah berlaku tidak adil, karena hanya menghukum nelayan tapi tidak perusahaan di tepi laut. "Kerusakan laut akibat limbah bisa mencapai 6 mil laut dari tepi pantai," cetus nelayan M Nasar. Inilah yang harusnya dipersoalkan.

Dampak larangan melaut ini juga terimbas kepada masa depan anak-anak mereka. Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Washliyah Pangkalan Dodek Mahyudanil, mengakui sudah banyak orangtua siswa yang datang minta anak mereka tidak terkena absen, jika tak masuk sekolah. “Kemarin ada 40 orangtua yang datang minta izin anaknya tak sekolah. Ini memang dampak larangan melaut itu," terang dia.

Sejak 10 hari lalu sejumlah pukat jenis sandong, layang, gerandong, dan tarik yang jadi andalan mereka dilarang melaut. Hal itu terkait adanya Permen Kelautan dan Perikanan No 2/Permen-KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia yang melarang empat jenis pukat itu beroperasi.

Ditangkap
Diketahui, Polda Sumatera Utara menangkap 23 orang nelayan yang kedapatan menggunakan alat tangkap ilegal seperti pukat hela (trawl). Mereka ditangkap di sejumlah perairan timur Sumatera Utara. Sebanyak 10 kapal dari nelayan tersebut disita.

"Ada 10 unit kapal dan 23 orang nakhoda dan anak buah kapalnya yang ditangkap," kata Pelaksana Harian (Plh) Humas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan, Senin (3/9) lalu.

Dia menjelaskan, mulanya petugas menangkap 4 unit kapal nelayan berkapasitas di bawah 5GT pada Rabu (29/8/2018). Kapal yang ditangkap di perairan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, tersebut kedapatan menggunakan jaring pukat hela dasar atau pair trawl. "Dari lokasi itu, petugas juga mengamankan 4 nakhoda dan 4 ABK," ujarnya.

Kemudian, 6 kapal lainnya yang menggunakan pukat trawl ditangkap di perairan Pantai Labu, Deli Serdang, pada Minggu (2/9). "Dari lokasi juga diamankan 6 nakhoda dan 9 ABK," katanya.

MP Nainggolan menjelaskan, petugas terus melakukan penindakan dan penertiban terhadap para nelayan yang masih menggunakan pukat trawl. "Untuk nakhoda kita tahan dan akan dijerat dengan Pasal 84 dan Pasal 85 UU Perikanan," ungkapnya.

Tindakan tegas terhadap nelayan yang menggunakan pukat trawl, kata dia, merupakan perintah Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto. Perintah itu disampaikan setelah menemui para nelayan tradisional yang melakukan aksi unjuk rasa meminta penertiban alat tangkap ilegal itu pada pekan sebelumnya. (SNI/KMP)

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
Info Pemasangan Iklan Online

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com